Jelang Kirab 1 Suro, Panembahan Agung Rangkul Dua Kubu PB XIV untuk Periksa Pusaka Bersama
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengajak dua kubu Paku Buwono (PB) XIV untuk bersama-sama memeriksa keberadaan dan kondisi pusaka-pusaka.
Jelang Kirab Pusaka Malam 1 Suro Tahun Be 1960, Panembahan Agung Tedjowulan terus mendorong upaya rekonsiliasi di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengajak dua kubu Paku Buwono (PB) XIV untuk bersama-sama memeriksa keberadaan dan kondisi pusaka-pusaka Kagungandalem sebagai simbol persatuan keluarga besar keraton.
Juru bicara Tedjowulan, Kangjeng Pakoenegoro, mengatakan semula KGPH Panembahan Agung Tedjowulan dijadwalkan memimpin pemeriksaan pusaka bersama para putra-putri almarhum SISKS Paku Buwono XII yang telah disumpah pada Rabu (10/6/2026). Pemeriksaan tersebut rencananya dilakukan di nDalem Ageng Prabasuyasa, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Musyawarah
Namun, agenda tersebut akhirnya ditunda. Menurut Tedjowulan, keputusan itu diambil karena masih diperlukan musyawarah yang lebih mendalam dengan para putra-putri sawarga SISKS PB XII yang telah disumpah.
"Sebab, tidak setiap anggota keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat diizinkan menyaksikan Pusaka-Pusaka Kagungandalem, apalagi orang lain dan orang luar," ujar Tedjowulan.
Pakoenegoro menjelaskan, upaya membangun komunikasi telah dilakukan sejak Jumat (5/6/2026). Saat itu, Tedjowulan mengundang sejumlah putra-putri sawarga SISKS Pakoe Boewono XII yang telah disumpah untuk bermusyawarah di Sekretariat Panembahan Agung, Kamandungan.
KGPH Puspo Hadikusum
Mereka yang diundang antara lain GKR Alit, KGPH Hadi Prabowo, KGPH Puspo Hadikusumo, GRAy Sapardiah, KGPH Puger, KGPH Dipokusumo, dan GKR Wandansari Koes Moertiyah.
Dari tujuh undangan tersebut, hanya KGPH Puger dan GKR Wandansari Koes Moertiyah yang hadir. Sementara sebagian besar lainnya menyampaikan penolakan melalui surat.
Upaya serupa kembali dilakukan pada Selasa (9/6/2026). Tedjowulan kembali mengundang pihak-pihak terkait untuk bermusyawarah, namun undangan tersebut kembali tidak direspons positif.
Mengutamakan pendekatan kekeluargaan, Tedjowulan akhirnya memilih menunda agenda pembukaan nDalem Ageng Prabasuyasa dan pemeriksaan pusaka menjelang Kirab Pusaka Malam 1 Suro Tahun Be 1960.
"Karena mengutamakan musyawarah dan kekeluargaan, akhirnya saya memutuskan menunda pembukaan nDalem Ageng Prabasuyasa untuk memeriksa keberadaan dan keadaan Pusaka-Pusaka Kagungandalem menjelang Kirab Pusaka Malam 1 Suro Tahun Be 1960," katanya.
Fasilitasi Rapat Koordinasi
Dalam kesempatan yang sama, Tedjowulan juga meminta Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, untuk memfasilitasi rapat koordinasi pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro Tahun Be 1960 yang dijadwalkan berlangsung pada 13-14 Juni 2026. Rapat tersebut diharapkan dapat menghadirkan seluruh keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Menurutnya, keterlibatan Pemerintah Kota Surakarta diperlukan guna menciptakan suasana yang kondusif menjelang pelaksanaan kirab yang menjadi tradisi penting keraton tersebut.
"Harapannya, fasilitasi dari Pemerintah Kota Surakarta bisa menciptakan suasana kondusif di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan kelancaran Kirab Pusaka Malam 1 Suro Tahun Be 1960," ujarnya.
Sebagai bentuk netralitas dan upaya merangkul seluruh pihak, Tedjowulan juga menerima kedatangan utusan kubu PB XIV Purboyo, yakni KPA Dani Nur Adiningrat dan KPA Singonagoro, di depan Sekretariat Panembahan Agung. Pertemuan itu disebut sebagai bagian dari ikhtiar membangun komunikasi dan menjaga persatuan keluarga besar keraton.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Tahun Be 1960 sendiri dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026. Tradisi tahunan tersebut menjadi salah satu agenda budaya penting yang selalu menyedot perhatian masyarakat dan pegiat budaya di Kota Surakarta.