Sambut 1 Suro, Begini 5 Rangkaian Ritual Sakral di Keraton Surakarta
Sedikitnya ada 5 ritual yang menjadi tradisi dalam rangka memperingati 1 Suro yang jatuh pada hari Jumat (28/6).
Memperingati tahun baru Jawa, 1 Suro 1959 atau tahun baru Islam 1447 Hijriah, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memiliki serangkaian ritual. Puncak peringatan akan dilakukan pada Kamis (27/6) dengan kirab pusaka keliling benteng luar keraton.
Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo memgatakan, sedikitnya ada 5 ritual yang menjadi tradisi dalam rangka memperingati 1 Suro yang jatuh pada hari Jumat (28/6).
"Ada sejumlah kegiatan ritual yang sudah menjadi tradisi di Keraton Surakarta. Ada doa bersama, kirab pusaka, salat hajat di Kagungan Dalem Masjid Pujusono di dalam keraton. Kemudian semedi atau meditasi di Pulau Bandengan, diakhiri dengan salat subuh. Semua itu ditandai menyambut malam tahun baru Sura," ujar Dipokusumo, Kamis (27/6).
5 Rangkaian Ritual
1. Doa bersama
Ritual doa bersama menjelang 1 Suro yang juga dikenal sebagai malam pergantian tahun Jawa, biasanya diadakan di Keraton Surakarta. Acara ini merupakan bagian dari tradisi malam 1 Suro yang sakral dan penuh makna spiritual, di mana masyarakat Jawa, merayakannya.
Umat Islam di sekitar Keraton Surakarta berkumpul untuk berdoa bersama, memohon keberkahan dan keselamatan di tahun baru Jawa. Doa bersama di keraton biasanya dimulai sekitar pukul 21.00 WIB dan berlangsung sekitar satu jam.
2. Kirab pusaka
Kirab Pusaka merupakan salah satu tradisi di Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat yang melibatkan Sentana, kerabat, abdi dalem hingga masyarakat. Acara Kirab Pusaka 2025 di Keraton Surakarta dilaksanakan pada Kamis (27/6) atau malam Jumat Kliwon.
Sejumlah pusaka akan diarak keliling keraton, dipimpin cucuk lampah Kerbau Bule Kyai Slamet. Kirab rengah malam ini akan mengambil rute Kori Kamandungan, Gapura Gladag, Jalan Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, hingga Jalan Slamet Riyadi. Lalu rute kirab akan kembali melalui Jalan Pakoe Boewono, Supit Urang, hingga kembali ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
3. Semedi atau Meditasi
Meditasi malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta merupakan bagian dari rangkaian acara Malam 1 Suro yang sakral. Dimana masyarakat Jawa merenungkan diri dan memohon keselamatan serta keberkahan untuk tahun yang baru.
Beberapa sentana, kerabat serta abdi dalem keraton dan masyarakat umum juga melakukan meditasi atau semedi di tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti Taman Sari Bandengan, untuk merenungkan diri dan memohon petunjuk.
Kegiatan dilanjutkan dengan Salat Hajat di Kagungan Dalem Masjid Pujusono di dalam keraton dan ditutup dengan Salat Subuh.
4. Labuhan
Selain kegiatan diatas selama bulan Suro di Keraton Kasunanan Surakarta ada kegiatan labuhan yang disebut labuhan kiblat sekawan.
"Pertama Gunung Lawu, kedua ke Parangkusumo, ketiga ke Gunung Merapi, ke Krendo Wahono, ada satu lagi Dlepih di Wonogiri tempat pada waktu itu kaitannya dengan pendiri Dinasti Mataram yaitu Panembahan Senopati pernah disana kemudian Sultan Agung," terangnya.
Ditambahkan Dipokusumo, saat bulan Suro ada juga satu lagi yaitu pengetan Adeging Keraton Dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dimana diperingati setiap 17 Februari.
"Kalau tahun ini ke 280 tahun itu ada kekhususan disitu mengenai jenang suran. Jenang suran itu jenang yang dibuat khusus nanti pada waktu Pengetan mengenai adeging Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat," sambungnya.
Terakhir diutarakan Gusti Dipo, ada lula barikan. Dimana berarti masyarakat Jawa itu menyampaikan sesuatu secara simbolis simbolikum.
"Barikan itu apa yang diterima diharapkan bisa memberikan pengertian-pengertian pemahaman untuk satu tahun ke depan," pungkasnya.