Grebeg Besar Keraton Surakarta Digelar Meriah, 2 Gunungan Jadi Rebutan Warga
Keraton Surakarta menggelar Grebeg Besar Dal 1959 dengan kirab dua gunungan yang diperebutkan warga usai didoakan di Masjid Agung.
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Upacara Adat Grebeg Besar Dal 1959 pada Kamis (28/5). Tradisi tahunan tersebut berlangsung meriah dengan kirab dua gunungan dari kompleks keraton menuju halaman Masjid Agung Surakarta.
Ratusan warga tampak memadati area keraton hingga Alun-alun Utara untuk menyaksikan prosesi budaya yang digelar dalam rangka peringatan Hari Raya Iduladha tersebut.
Sekitar pukul 10.00 WIB, Paku Buwono XIV Hangabehi memasuki kawasan keraton sebelum rangkaian kirab dimulai. Prosesi diawali barisan drumband, kemudian diikuti prajurit keraton, abdi dalem, gongso, jodang, hingga dua gunungan utama.
Iring-iringan bergerak dari Kori Kamandungan melewati Sitihinggil, Pagelaran, Alun-alun Utara, hingga tiba di Masjid Agung Keraton Surakarta.
Gunungan Jadi Rebutan Warga
Setelah didoakan para ulama keraton, dua gunungan tersebut langsung diperebutkan warga yang telah menunggu sejak pagi.
Sepasang gunungan yang dikirab terdiri dari Gunungan Jaler dan Gunungan Estri. Gunungan Jaler berisi hasil bumi yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran, sedangkan Gunungan Estri berisi makanan matang kering sebagai simbol limpahan rezeki.
Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari mengatakan, tradisi Grebeg Besar telah berlangsung turun-temurun sebagai bagian dari ritual sakral keraton dalam memperingati Iduladha.
"Sejak masa Paku Buwono XII, pelaksanaan Grebeg Besar dilakukan pada Bakda kedua atau hari kedua setelah Iduladha menurut penetapan pemerintah, sebagai bentuk penghormatan kepada sentana dalem dan abdi dalem agar dapat merayakan Iduladha hari pertama bersama keluarga masing-masing," ujar Gusti Moeng, sapaan akrab Wandansari, seusai kirab.
Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat itu menyebut Grebeg Besar menjadi simbol rasa syukur keraton dan masyarakat atas berkah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
“Memang sejak Sinuhun Paku Buwono XII, pelaksanaan dipilih pada hari kedua agar sentana dan abdi dalem pada hari pertama dapat bersama keluarganya,” ungkap Gusti Moeng.
Memandikan Pusaka dan Layanan Kesehatan Gratis
Dalam dawuh dalemnya, Paku Buwono XIV Hangabehi mengajak sentana dalem, abdi dalem, serta masyarakat menjadikan Grebeg Besar sebagai momentum memperkuat persatuan dan menjaga warisan budaya Mataram Islam.
"Tradisi Grebeg Besar bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bagian dari syiar spiritual, sedekah Karaton kepada rakyat, serta simbol eratnya hubungan antara Karaton Surakarta dengan masyarakat," katanya.
Selain Grebeg Besar, Keraton Surakarta juga menggelar ritual jamasan atau pembersihan pusaka sehari sebelum kirab berlangsung. Sejumlah pusaka yang dijamasi di antaranya Meriam Nyai Setomi dan Songsong Kyai Brawijaya.
Keraton juga melaksanakan penyembelihan dua ekor sapi kurban dari sentana dalem yang kemudian dibagikan kepada abdi dalem dan masyarakat.
Pada hari yang sama, Dinas Kesehatan Kota Surakarta turut membuka layanan pemeriksaan kesehatan gratis di Pagelaran Keraton mulai pukul 08.30 WIB untuk masyarakat umum dan abdi dalem.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh sentana dalem dan abdi dalem yang tetap setya tuhu mengabdi untuk Karaton. Semoga seluruh rangkaian Grebeg Besar Dal 1959 berjalan lancar dan membawa berkah bagi masyarakat,” tutup Gusti Moeng.