Kisah Mbah Sutopo, Pensiunan TNI Jadi Penarik Becak Getol Sebarkan Virus Membaca ke Anak Muda
Menjadi pengemudi becak adalah jalan hidup yang dipilih Sutopo sejak pensiun sebagai anggota TNI AD pada tahun 2003.
Alunan lembut lagu Imagine karya John Lennon mengalir dari sebuah radio tua, memecah keheningan pagi di kawasan Sendowo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (2/6/2026). Di atas sebuah becak listrik, seorang kakek berusia 79 tahun tampak duduk tenang.
Pria itu adalah Sutopo, sosok tangguh yang menolak menyerah pada usia demi sebuah misi mulia: menularkan "virus" membaca kepada generasi muda. Sutopo baru saja menyelesaikan tugas utamanya pagi itu sebelum memutuskan untuk menepi.
"Saya tadi habis mengantar langganan (penumpang) saya. Terus langsung mangkal di sini. Biasanya kalau jam segini (sekitar pukul 09.00 WIB) saya mangkal di sini," kata Sutopo dengan senyum ramah.
Menjadi pengemudi becak adalah jalan hidup yang dipilih Sutopo sejak pensiun sebagai anggota TNI AD pada tahun 2003. Bagi alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) tahun 1971 ini, mengayuh becak bukan sekadar mencari nafkah, melainkan cara menjaga kebugaran tubuhnya di usia senja.
Awal Mula Lahirnya Becak Pustaka
Namun, sejak tahun 2017, becak kayuh miliknya bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih besar, sebuah becak pustaka.
Ide menghadirkan perpustakaan berjalan ini lahir secara alami. Sutopo, yang sejak bangku sekolah dasar sudah menjadi kutu buku dan anggota berbagai perpustakaan di Yogyakarta, kerap menghabiskan waktu senggangnya di atas becak dengan membaca.
Aktivitas itu sering ia lakukan saat mangkal di depan SD Tarakanita, Bumijo, Kota Yogyakarta.
Ketekunan Sutopo menarik simpati para orang tua murid. Hingga pada tahun 2017, seorang wali murid tergerak untuk menyumbangkan sejumlah buku.
"Tahun 2017 saya dapat sumbangan sebanyak 20 buku dari salah satu orang murid (SD Tarakanita). Buku-buku itu lalu saya bikinkan rak di becak saya," tutur pria kelahiran 1947 ini.
Bagi Sutopo, amanah berupa buku tersebut tidak boleh dinikmatinya sendiri.
"Saya dapat sumbangan buku, masak hanya saya baca dan simpan di rumah. Kan kayak ga etis. Akhirnya buku-buku itu saya bawa di becak agar bisa dibaca siapa saja," imbuh Sutopo.
Mendekatkan Buku kepada Masyarakat
Langkah kecil itu menjadi bahan bakar yang menggerakkan becak pustaka selama hampir satu dekade. Pada 2024, langkahnya semakin ringan setelah mendapat bantuan becak listrik dari Pemda DIY.
Kini, ratusan buku dengan berbagai genre menghiasi rak becaknya. Mulai dari buku cerita anak, sejarah, kisah inspiratif, kamus, hingga novel.
"Peminjam buku saya ini macam-macam. Dari anak sekolah, mahasiswa hingga penjual di pasar. Penjual di pasar ini banyak yang suka membaca buku, tapi mereka sungkan kalau harus masuk ke perpustakaan yang bangunannya besar dan megah," ucap Sutopo hangat.
"Makanya saya bikin becak pustaka ini, mendekatkan buku ke pembaca. Semua buku ini bisa dibaca, gratis. Tidak perlu bayar," sambungnya.
Kisah-Kisah Mengharukan dari Atas Becak
Keikhlasan Sutopo melahirkan banyak kisah unik sekaligus menyentuh. Ia mengenang seorang siswa SD Tarakanita yang begitu larut dalam bacaan hingga enggan turun dari becaknya.
"Sampai di depan rumahnya, anak ini tidak mau turun karena buku yang dibacanya belum selesai. Anak ini minta diantar ke sekolah lagi karena mau menyelesaikan membaca buku di jalan. Akhirnya saya antar lagi ke sekolah, terus anak ini dijemput orang tuanya," kenang Sutopo sambil terkekeh.
Kebaikan yang ditanam Sutopo juga kerap berbuah berkah yang tak terduga.
"Pas mengembalikan buku yang kedua ini, ibu itu bilang hati-hati nyimpan bukunya, Pak. Lalu dia pergi. Saat saya cek, ternyata di dalamnya diselipkan uang Rp 100 ribu. Setelahnya ibu itu datang lagi. Pinjam buku lagi. Waktu mengembalikan, bukunya ditaruh di dalam tas kresek. Di tas kresek itu ada uang Rp 1 juta. Katanya buat saya," tuturnya.
Tak hanya mendapat apresiasi dari warga sekitar, becak pustaka milik Sutopo juga menarik perhatian hingga mancanegara.
"Pernah ada wisatawan dari Amerika yang kebetulan ke Yogyakarta dan mencari saya. Dia mengapresiasi apa yang saya lakukan dengan becak pustaka ini. Menurutnya, yang saya lakukan ini unik bahkan di negara dia tidak ada yang melakukan seperti yang saya lakukan sekarang ini," terangnya bangga.
Harapan untuk Generasi Muda di Era Digital
Di tengah derasnya arus teknologi digital, Sutopo tetap percaya bahwa buku memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan cara berpikir masyarakat.
"Membaca buku itu bagus bagi siapa saja. Membaca itu bagus untuk perkembangan masyarakat agar bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Banyak hal bisa kita ambil dari buku-buku yang kita baca. Makanya saya berharap anak-anak muda ini mau membaca buku dan jangan kebanyakan main hp," harap Sutopo lirih namun tegas.
Matahari mulai meninggi. Waktu istirahatnya pun usai. Pria tua dengan semangat muda itu kembali menyalakan mesin becak listriknya.
Siang itu, ia kembali menuju pos utamanya di depan SD Tarakanita untuk menjemput penumpang sekaligus membuka "jendela dunia" bagi siapa saja yang haus akan ilmu. Diiringi alunan lagu dari radio tuanya, Sutopo perlahan melaju, meninggalkan jejak inspirasi di setiap sudut jalan Yogyakarta.