Penanggulangan TBC di Surabaya: Tantangan, Inovasi, dan Harapan Menuju Eliminasi 2030

Kota Surabaya terus berupaya keras dalam penanggulangan TBC, menghadapi ribuan kasus yang belum terdeteksi. Simak strategi inovatif dan peran komunitas dalam mencapai target eliminasi TBC 2030.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penanggulangan TBC di Surabaya: Tantangan, Inovasi, dan Harapan Menuju Eliminasi 2030
Kota Surabaya terus berupaya keras dalam penanggulangan TBC, menghadapi ribuan kasus yang belum terdeteksi. Simak strategi inovatif dan peran komunitas dalam mencapai target eliminasi TBC 2030. (AntaraNews)

TBC merupakan penyakit menular yang masih menjadi tantangan serius di Surabaya, kota metropolitan di timur Indonesia. Penyakit ini menyebar diam-diam di tengah kepadatan penduduk dan mobilitas tinggi, seringkali tanpa disadari oleh penderitanya. Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya mencatat 4.191 kasus TBC telah ditemukan dari estimasi 11.412 kasus tahun ini.

Data ini menunjukkan bahwa masih ada ribuan kasus TBC yang berpotensi belum terdeteksi di Surabaya, meskipun kemampuan menemukan kasus semakin membaik. Pemerintah Kota Surabaya bersama Dinas Kesehatan setempat terus memperkuat strategi tracing dan screening untuk mengidentifikasi penderita secara aktif. Pendekatan proaktif ini penting untuk memutus rantai penularan di masyarakat.

Upaya penanggulangan TBC di Surabaya tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan inovasi teknologi. Dengan target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030, Surabaya memiliki peran krusial dalam menekan angka penularan penyakit ini. Perjuangan ini mencerminkan komitmen kota untuk melindungi warganya dari ancaman kesehatan dasar.

Tantangan TBC di Kota Metropolitan

TBC memiliki karakteristik yang berbeda dari penyakit menular lainnya, seringkali berkembang perlahan dan gejalanya mirip dengan kondisi umum seperti batuk biasa atau kelelahan. Hal ini menyebabkan penderita seringkali baru mencari pengobatan ketika kondisi sudah memburuk, memperlambat deteksi dini. Di kota besar seperti Surabaya, mobilitas penduduk yang tinggi dan kawasan permukiman padat semakin mempercepat potensi penularan.

Aktivitas ekonomi yang berlangsung hampir tanpa jeda serta interaksi sosial yang intens di Surabaya menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran TBC jika kasus tidak segera ditemukan. Oleh karena itu, penemuan kasus yang lebih banyak justru menjadi indikasi bahwa sistem kesehatan bekerja secara aktif dan efektif. Ancaman terbesar bukanlah kasus yang terdeteksi, melainkan kasus yang tidak teridentifikasi dan terus menularkan penyakit secara diam-diam.

Hingga Mei 2026, sebanyak 44.088 suspek TBC telah diperiksa di Surabaya, mencapai 71,54 persen dari target 61.624 suspek. Angka ini menunjukkan peningkatan kapasitas deteksi, namun juga menyoroti skala masalah yang masih besar. Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya mengatasi tantangan ini melalui berbagai pendekatan yang lebih agresif dalam pencarian kasus.

Strategi Deteksi dan Pengobatan TBC

Pemerintah Kota Surabaya telah memperkuat strategi tracing dan screening sebagai langkah penting dalam penanggulangan TBC. Pendekatan ini merupakan perubahan paradigma dari menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan menjadi aktif mencari kelompok berisiko di masyarakat. Deteksi dini adalah kunci untuk memutus mata rantai penularan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Pertempuran melawan TBC tidak berhenti pada diagnosis, melainkan berlanjut pada kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang disiplin selama berbulan-bulan. Tantangan seperti rasa jenuh, efek samping obat, dan tekanan ekonomi seringkali membuat pengobatan terhenti di tengah jalan. Jika terapi tidak tuntas, bakteri TBC dapat menjadi kebal terhadap obat, memicu TBC resistan obat yang penanganannya lebih rumit dan mahal.

Data menunjukkan bahwa dari 113 kasus TBC resistan obat yang ditemukan di Surabaya, 90 pasien telah menjalani terapi. Tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat mencapai 89,36 persen, menunjukkan efektivitas sistem pengobatan yang berjalan. Surabaya juga mulai memanfaatkan teknologi pemeriksaan berbasis saliva atau air liur untuk mempercepat diagnosis, mengatasi kendala pengambilan dahak pada pasien.

Peran Komunitas dan Faktor Sosial dalam Eliminasi TBC

Keberhasilan penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga pada kerja panjang kader kesehatan, keluarga pasien, petugas puskesmas, dan masyarakat sekitar. Mereka berperan penting dalam memastikan pasien patuh minum obat dan mendukung proses penyembuhan. Pendekatan berbasis komunitas terbukti efektif dalam menemukan kasus TBC lebih cepat melalui kedekatan sosial.

Faktor sosial seringkali lebih menentukan dibandingkan alat medis dalam upaya eliminasi TBC. Kemiskinan, gizi buruk, kualitas hunian, kepadatan permukiman, dan akses layanan kesehatan sangat memengaruhi penyebaran penyakit ini. Oleh karena itu, pemberantasan TBC bukan hanya urusan sektor kesehatan, melainkan berkaitan erat dengan pembangunan kota secara keseluruhan.

Program perbaikan rumah tidak layak huni, pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas lingkungan, hingga edukasi masyarakat memiliki hubungan langsung dengan upaya menekan penularan TBC. Surabaya memiliki modal kuat dengan adanya jaringan Kader Surabaya Hebat, yang menunjukkan partisipasi warga dalam penanganan masalah kesehatan. Ini adalah aset penting dalam mencapai eliminasi TBC.

Menuju Target Eliminasi TBC 2030

Target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021, menargetkan penurunan angka kejadian menjadi 65 kasus per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi enam kasus per 100.000 penduduk. Target ambisius ini menempatkan Indonesia, salah satu negara dengan beban TBC tertinggi, pada jalur yang menantang. Keberhasilan nasional sangat bergantung pada kemampuan kota-kota besar seperti Surabaya dalam mengendalikan penularan.

Lebih dari sekadar angka, eliminasi TBC juga diukur dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyakit ini. Stigma yang melekat pada TBC seringkali membuat penderita enggan memeriksakan diri atau dianggap identik dengan kelompok tertentu, padahal TBC dapat menyerang siapa saja. Ketika stigma kuat, pasien cenderung bersembunyi, membuat penularan lebih sulit dihentikan.

Edukasi publik harus berjalan beriringan dengan layanan kesehatan untuk mengatasi stigma ini dan mendorong deteksi dini. Surabaya telah menunjukkan langkah positif melalui tracing, screening, investigasi kontak, terapi pencegahan, dan pemanfaatan teknologi baru. Namun, perjalanan menuju eliminasi masih panjang, dengan temuan lebih dari 4.000 kasus hingga pertengahan tahun ini menjadi pengingat akan pekerjaan besar yang menanti.

TBC bukan hanya masalah bakteri, melainkan cerminan bagaimana sebuah kota melindungi warganya yang paling rentan. Kota yang sehat adalah kota yang mampu menemukan, merawat, dan memulihkan warganya tanpa meninggalkan siapa pun. Di Surabaya, perjuangan ini terus berlangsung, dengan harapan setiap warga dapat menghirup udara dengan napas yang lebih panjang, lebih sehat, dan lebih merdeka.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi