Tradisi Bubur Suro, Warisan Rasa Syukur dan Filosofi Kehidupan dalam Semangkuk Bubur untuk Sambuh Tahun Baru Islam
Bubur Suro bukan sekadar hidangan Tahun Baru Islam. Simak resep, filosofi mendalam, dan sejarah panjang tradisi Bubur Suro yang kaya akan makna.
Setiap awal bulan Suro dalam kalender Jawa—yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah—ada satu tradisi kuliner yang tak pernah absen di sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Madura: bubur suro. Bukan sekadar sajian pengganjal lapar, bubur ini menyimpan makna spiritual, nilai historis, serta simbol-simbol kehidupan yang dalam.
Tren menyajikan bubur suro biasanya terjadi dua kali dalam bulan tersebut: saat Malam 1 Suro dan malam 10 Suro, yang juga bertepatan dengan Hari Asyura. Sajian ini tidak hanya disantap oleh keluarga, tetapi juga dibagikan kepada anak yatim dan masyarakat sekitar sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur kepada Tuhan.
Apa sebenarnya makna di balik bubur suro, bagaimana sejarahnya, dan apa filosofi dari setiap komposisi bahan di dalamnya? Simak kisah lengkapnya berikut ini.
Sejarah Bubur Suro: Antara Sultan Agung dan Nabi Nuh
Secara budaya, tradisi bubur suro sudah berlangsung sejak masa Pemerintahan Sultan Agung, salah satu raja besar Mataram Islam. Bubur ini dibuat sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru Jawa, yang dimaknai sebagai momen kontemplatif—introspeksi, doa, dan harapan akan keberkahan dalam satu tahun ke depan.
Namun dalam perspektif keislaman, ada pula kisah yang menyebut asal-usul bubur suro berkaitan dengan kisah Nabi Nuh AS. Ketika Nabi Nuh dan pengikutnya selamat dari banjir besar dan kapalnya mendarat di Gunung Judi tepat pada tanggal 10 Muharram, mereka merasakan lapar karena seluruh perbekalan sudah habis.
Maka, Nabi Nuh memerintahkan para pengikutnya mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang ada di perahu—berupa tujuh macam biji-bijian seperti gandum, kacang arab, beras, adas, dan lainnya—yang kemudian dimasak menjadi semacam bubur. Dari sinilah dipercaya tradisi bubur Asyura atau bubur suro berasal.
Bubur Suro Sebagai Ubarampe, Bukan Sesajen
Dalam masyarakat Jawa dan Madura, bubur suro disebut sebagai “ubarampe” yang berarti alat atau sarana. Ini bukan sesajen dalam arti animistik, melainkan media perwujudan rasa syukur atas limpahan rezeki dari Tuhan.
Sajian ini juga dianggap sebagai bentuk doa yang dimakan, dengan harapan seluruh anggota keluarga yang menyantapnya senantiasa dilindungi, diberi kelancaran rezeki, dan terhindar dari marabahaya di tahun yang baru.
Filosofi di Balik Setiap Isian Bubur Suro
Bubur suro bukan sembarang bubur. Isian di dalamnya tidak hanya memperkaya rasa, tetapi juga sarat akan simbolisme kehidupan. Berikut adalah makna dari tiap komponen penting dalam bubur suro:
1. Tujuh Jenis Biji-bijian atau Kacang
Biasanya terdiri dari kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang mede, dan beberapa jenis lainnya. Angka tujuh ini melambangkan tujuh hari dalam satu minggu, dan menyiratkan doa agar keberkahan menyertai setiap harinya.
2. Bubur Merah dan Putih
Dalam versi Madura dan sebagian daerah Jawa, bubur suro disajikan dalam dua warna: merah dan putih. Warna merah melambangkan darah dan perjuangan, terutama dikaitkan dengan peristiwa wafatnya Husein bin Ali di Karbala. Sementara warna putih melambangkan kesucian, harapan, dan doa yang bersih.
3. Ayam dan Kuah Kuning
Kuah ayam berwarna kuning melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Warna kuning dalam budaya Jawa sering dikaitkan dengan keberuntungan dan doa akan rezeki yang lancar.
4. Perkedel, Tahu Goreng, dan Telur Dadar
Lauk-pauk pelengkap ini melambangkan keseimbangan dalam hidup. Kehadiran lauk yang beragam mencerminkan keragaman hidup yang harus disyukuri.
5. Kerupuk dan Bawang Goreng
Kerupuk sebagai pelengkap yang renyah menyiratkan keceriaan, sedangkan bawang goreng melambangkan kearifan lokal dan sentuhan rasa yang memperkaya kehidupan.
6. Daun Salam dan Serai
Selain sebagai penambah aroma, daun salam dan serai dipercaya membawa aura positif dan ketenangan, sesuai dengan semangat reflektif pada bulan Suro.
Makna Sosial dan Spiritualitas di Balik Tradisi Bubur Suro
Selain sebagai makanan, bubur suro mengajarkan banyak hal tentang nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Biasanya bubur ini disiapkan bersama-sama oleh anggota keluarga atau masyarakat dalam sebuah acara tasyakuran.
Bagi yang mampu, menyantap bubur suro sekaligus menjadi momen untuk bersedekah, dengan membagikan makanan ini kepada anak-anak yatim, kaum dhuafa, dan orang-orang yang tidak menjalankan puasa Asyura.
Tradisi ini juga menjadi sarana untuk menjaga nilai-nilai budaya dan spiritual di tengah arus modernitas. Dengan tetap mempertahankan tradisi ini, masyarakat seolah menjaga jati diri dan kearifan lokal yang kaya makna.
Resep Bubur Suro: Warisan Rasa Penuh Doa
Ingin membuat bubur suro sendiri di rumah? Berikut resep sederhananya:
Bahan Bubur:
- 350 gram beras putih
- 2000 ml santan encer
- 500 ml santan kental
- 6 lembar daun salam
- 2 batang serai, memarkan
- 2,5 sdt garam
Bahan Kuah Kuning Ayam:
- 2 paha ayam, potong kotak
- 2 lembar daun salam
- 3 cm lengkuas dan 2 cm jahe, memarkan
- 2 batang serai
- 4 sdt garam, ½ sdt merica bubuk, 4 sdt gula
- 1500 ml santan
Bumbu Halus:
- 6 butir kemiri sangrai
- 2 cm kunyit bakar
- 1 sdt ketumbar sangrai
- 10 bawang merah, 3 bawang putih, ½ sdt jintan
Pelengkap:
- Tahu goreng, perkedel kentang, telur dadar iris
- Kacang tanah goreng, kacang kedelai goreng
- Kerupuk bawang/udang, bawang goreng, daun bawang
Cara Membuat:
- Rebus beras dengan santan encer hingga mendidih, lalu kecilkan api.
- Masukkan santan kental, daun salam, serai, dan garam. Masak hingga jadi bubur.
- Tumis bumbu halus dan rempah hingga harum, masukkan ayam, lalu tuang santan.
- Masak hingga kuah matang dan ayam empuk.
- Sajikan bubur dengan siraman kuah, taburi pelengkap.
Semangkuk Bubur, Seribu Makna
Bubur suro bukan hanya tentang tradisi, melainkan sebuah perwujudan doa, sejarah, dan filosofi hidup. Dalam semangkuk bubur yang hangat, terkandung harapan akan tahun yang lebih baik, berkah yang tak terputus, serta pengingat agar kita selalu bersyukur dalam kondisi apapun.
Tradisi boleh sederhana, tapi maknanya luar biasa dalam. Jadi, apakah kamu sudah menyiapkan bubur suro untuk tahun baru Islam kali ini?