1 Suro itu artinya apa? Dalam tradisi Jawa, malam 1 Suro bukan hanya sekadar perayaan tahun baru, melainkan juga merupakan waktu yang penuh dengan nilai spiritual, simbolisme kosmos, dan ritual adat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Perayaan ini dirayakan tidak hanya oleh masyarakat desa, tetapi juga oleh komunitas kota yang tetap melestarikan nilai-nilai nenek moyang sebagai bagian dari identitas budaya.
Setiap tahun, perayaan 1 Suro diadakan pada malam sebelum tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriyah, yang menandai tahun baru dalam kalender Jawa. Namun, malam ini lebih dari sekadar penanda waktu; ia dianggap sebagai saat yang paling tepat untuk merenung, membersihkan diri dari energi negatif, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan dan leluhur.
Dengan suasana mistis yang mendalam dan berbagai larangan serta pantangan yang harus dipatuhi, malam 1 Suro menjadi salah satu titik penting dalam kehidupan kultural masyarakat Jawa. Selanjutnya, kita akan membahas lebih lanjut mengenai apa itu 1 Suro, termasuk sejarah dan tradisi malam yang dianggap paling suci dalam setahun ini.
Advertisement
Kalender Jawa yang kita kenal saat ini merupakan hasil kombinasi antara sistem penanggalan Saka (Hindu-Buddha) dan Hijriyah (Islam). Paduan ini diciptakan oleh Sultan Agung dari Mataram Islam pada tahun 1633 M. Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk menyatukan masyarakat Jawa yang terpecah antara kelompok kejawen (abangan) dan Islam (putihan).
1 Suro memiliki makna tertentu. Menurut Kiswo (2022) yang dikutip dalam kajian di Raden Intan Repository, suro adalah sebutan untuk bulan Muharram dalam budaya Jawa. Istilah "Suro" diambil dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab yang berarti suci atau mulia, dan merujuk pada bulan Muharram dalam tradisi Islam. Sultan Agung memilih istilah ini untuk menekankan kesucian bulan tersebut, serta menghubungkan nilai-nilai lokal dengan ajaran Islam. Dari sinilah malam 1 Suro mulai dianggap sebagai malam yang sakral dalam kalender Jawa.
Dalam buku Sejarah Indonesia yang ditulis oleh Windriatu, dijelaskan bahwa masyarakat Jawa menganggap hari 1 Suro sebagai hari yang keramat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika berbagai kegiatan atau ritual tertentu sering dilakukan pada hari ini.
Advertisement
Suro memiliki arti yang penting dalam budaya Jawa. 1 Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa yang bersamaan dengan 1 Muharram pada kalender Hijriah. Di dalam tradisi Jawa, 1 Suro dianggap sebagai awal tahun yang memiliki makna spiritual yang mendalam.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, 1 Suro tahun 2025 jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025. Malam 1 Suro dimulai pada Kamis malam, 26 Juni 2025, tepat setelah waktu maghrib dan berlangsung hingga fajar hari berikutnya.
Pada tahun ini, 1 Suro juga bertepatan dengan hari Jumat Kliwon, yang di dalam kepercayaan masyarakat Jawa dikenal sebagai hari dengan energi spiritual yang sangat kuat.
- Malam 1 Suro: Kamis malam, 26 Juni 2025 (setelah maghrib).
- 1 Suro / 1 Muharram 1447 H: Jumat, 27 Juni 2025, yang juga ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah.
Gabungan antara 1 Suro, 1 Muharram, dan Jumat Kliwon ini dikenal sebagai formasi waktu yang langka, yang hanya terjadi setiap 8-10 tahun sekali. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika masyarakat Jawa menyambutnya dengan penuh kehati-hatian serta melaksanakan ritual yang lebih khusyuk dan bermakna.
Keyakinan ini didukung oleh anggapan bahwa perpaduan tersebut dapat memperbesar kemungkinan "pembukaan portal" antara dunia nyata dan dunia gaib, sehingga malam tersebut menjadi waktu yang ideal untuk memohon keselamatan, membersihkan diri, dan menjauhkan diri dari malapetaka.
Advertisement
Apa makna dari 1 Suro? Di kalangan masyarakat Jawa, 1 Suro menandai hari pertama dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Pada malam ini, ritual utama yang dilaksanakan adalah tirakat dan laku prihatin, yaitu serangkaian tindakan spiritual seperti berpuasa, tapa bisu, dan tidak tidur semalaman. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk merenungkan diri dan mengurangi hawa nafsu agar dapat menyambut tahun baru dengan jiwa yang bersih.
Selain itu, Keraton Yogyakarta dan Surakarta secara rutin menggelar kirab pusaka yang meliputi keris, tombak, dan kerbau putih Kyai Slamet, yang diyakini memiliki kekuatan spiritual. Prosesi kirab ini dilakukan dalam suasana hening sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Masyarakat umumnya menghindari kegiatan besar seperti pernikahan atau perjalanan jauh pada malam ini. Banyak orang memilih untuk tetap berada di rumah karena malam Suro dianggap sebagai waktu yang "rawan gangguan makhluk halus," sehingga perlu dihadapi dengan kesunyian dan ketenangan.
Menurut Muhammad Solikhin dalam bukunya "Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa" (2010), malam Satu Suro memiliki nilai sakral yang sangat terkait dengan tradisi budaya keraton. Di masa lalu, keraton secara rutin menyelenggarakan berbagai upacara dan ritual yang kemudian diwariskan secara turun-temurun kepada masyarakat.
Muhammad Solikhin menyebutkan, "Dari Sultan Agung inilah, pola peringatan tahun Hijriah kemudian dilaksanakan secara resmi oleh negara, dan diikuti seluruh masyarakat Jawa. Berbagai ritual perayaan Muharram dan Asyura di Indonesia terus lestari sampai sekarang berkat jasa Sultan Agung."
Advertisement
Tradisi yang menyertai malam 1 Suro berbeda-beda di tiap daerah.
- Pati: Kenduri Suro, yaitu syukuran dan doa bersama warga sebagai wujud rasa syukur menyambut tahun baru Jawa.
- Yogyakarta: Kirab Mubeng Beteng, yakni berjalan mengelilingi benteng keraton dalam keadaan tapa bisu (tanpa bicara, makan, dan minum) sebagai bentuk introspeksi dan refleksi diri. Menurut Jurnal Dialog (Ridha Hayati, 2020), ritual ini melambangkan perlindungan dan keselamatan dari keraton.
- Solo (Surakarta): Kirab Pusaka Malam 1 Suro atau Kirab Kerbau Bule, berupa arak-arakan benda pusaka keraton seperti keris, kerbau bule dan tombak sakral. Ritual ini diiringi tapa bisu oleh abdi dalem dan masyarakat sebagai bentuk penghormatan, penyucian diri, dan penyambutan tahun baru Jawa.
- Parangkusumo (Bantul, pesisir selatan Yogyakarta): Labuhan Suro, yaitu pelarungan sesaji ke laut sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut dan doa memohon keselamatan.Magetan: Ledug Suro, ditandai dengan iring-iringan budaya dan tradisi rebutan bolu Rahayu yang dipercaya membawa berkah bagi yang mendapatkannya.
Simbol-simbol seperti bunga, dupa, makanan tradisional, dan air suci digunakan dalam setiap tradisi sebagai representasi dari harapan, perlindungan, dan transformasi spiritual menuju fase hidup yang lebih baik.
Advertisement
Dalam kosmologi Jawa, malam 1 Suro dianggap sebagai momen penting di mana energi spiritual mencapai puncaknya. Filosofi Tri Tangtu, yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan, menjadi landasan bagi seluruh rangkaian prosesi yang dilakukan.
Masyarakat meyakini bahwa pada malam ini, roh leluhur turun ke dunia untuk mengawasi dan memberikan restu kepada keturunannya. Oleh karena itu, banyak orang yang melakukan ziarah ke makam orang tua atau sesepuh keluarga untuk mendoakan mereka.
Selain sebagai malam untuk berdoa dan meminta pengampunan, 1 Suro juga dipahami sebagai pengingat akan kefanaan hidup. Proses perjalanan tapa bisu menjadi simbol untuk merenungkan apa yang telah dan belum dilakukan, sebagai bentuk pertanggungjawaban individu kepada Tuhan.
Advertisement
Malam 1 Suro, meskipun berasal dari tradisi Jawa, tetap sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Banyak umat Muslim yang menggabungkan tirakat dengan ibadah puasa Asyura pada tanggal 9 dan 10 Muharram, serta menyantuni anak yatim dan berzikir sepanjang malam.
Hal ini menunjukkan bahwa malam 1 Suro merupakan contoh sinkretisme antara budaya dan agama yang dapat berjalan berdampingan tanpa saling mengalahkan. Selama tidak ada unsur syirik yang terlibat, umat Islam diperbolehkan untuk mengikuti tradisi ini sebagai bentuk refleksi diri dan penguatan spiritual.
Namun, kita harus selalu ingat untuk mencukupkan diri dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Jika mereka tidak pernah melakukan ritual khusus untuk menyambut tahun baru Hijriyah, maka sebaiknya kita mengikuti jejak mereka dalam hal ini.
Seperti yang sering diungkapkan oleh para ulama Ahlus Sunnah, mereka menekankan sebuah kaidah penting:
لَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ
"Seandainya suatu amalan itu baik, tentu para sahabat telah mendahului kita dalam melakukannya." (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Ibnu Katsir, tafsir surat Al-Ahqaf)
Ungkapan ini menjadi pedoman untuk mengevaluasi setiap bentuk ibadah atau amalan baru yang tidak memiliki dasar dari praktik para sahabat. Dengan demikian, berhati-hati dalam hal agama adalah wujud kecintaan kita terhadap sunnah dan penghormatan terhadap warisan generasi terbaik umat ini.