Fakta Unik: Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang Resmi Beroperasi, Dimulai dengan MPLS Bebas Bullying!

Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang resmi beroperasi di Kompleks BBPVP, memulai MPLS dengan 100 siswa miskin yang dibekali fasilitas setara sekolah unggulan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang Resmi Beroperasi, Dimulai dengan MPLS Bebas Bullying!
Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang resmi beroperasi di Kompleks BBPVP, memulai MPLS dengan 100 siswa miskin yang dibekali fasilitas setara sekolah unggulan. (Merdeka.com)

Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 45 Semarang kini resmi beroperasi, menandai langkah baru dalam upaya pemerataan pendidikan di Indonesia. Berlokasi strategis di Kompleks Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Kota Semarang, sekolah ini memulai aktivitasnya dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Peresmian sekolah ini dilakukan oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono pada hari Selasa, 30 September, di Semarang. Beliau menegaskan bahwa inisiatif Sekolah Rakyat merupakan program prioritas Presiden untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui akses pendidikan yang berkualitas.

Dengan sistem asrama, SRT 45 Semarang menampung 100 siswa yang terdiri dari 50 siswa sekolah dasar (SD) dan 50 siswa sekolah menengah atas (SMA). Mereka semua berasal dari keluarga kurang mampu yang terseleksi melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa pendirian Sekolah Rakyat ini memiliki tujuan mulia. "Sekolah rakyat ini ditujukan untuk memuliakan saudara-saudara kita yang miskin, sekaligus memberikan harapan agar mereka bisa mewujudkan cita-citanya," ujarnya saat peresmian.

SRT 45 Semarang menyediakan fasilitas lengkap bagi para siswanya, memastikan mereka mendapatkan pengalaman belajar setara sekolah unggulan. Fasilitas tersebut mencakup ruang kelas modern, asrama yang nyaman, laboratorium IPA, serta perlengkapan sekolah yang memadai.

Setiap siswa juga akan dibekali seragam lengkap dan laptop pribadi untuk mendukung proses pembelajaran digital. Setelah MPLS yang berlangsung selama dua minggu, siswa akan menjalani matrikulasi sebelum memasuki proses belajar mengajar formal.

Agus Jabo Priyono menekankan pentingnya lulusan sekolah rakyat yang tidak hanya cerdas secara akademik. Mereka juga harus memiliki karakter kebangsaan yang kuat, solidaritas sosial yang tinggi, serta keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Visi ini memastikan bahwa para siswa siap menghadapi masa depan, baik melalui jalur pendidikan tinggi maupun dunia kerja. "Setelah lulus SMA, jika tidak melanjutkan kuliah, anak-anak ini tetap bisa bekerja dengan bekal pendidikan vokasi. Jadi, mereka siap membantu orang tuanya," jelasnya.

Proses seleksi siswa dilakukan secara ketat melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang menjamin bahwa bantuan pendidikan ini tepat sasaran. "Kita pastikan anak-anak dari keluarga miskin tetap bisa bersekolah dengan fasilitas setara sekolah unggulan," tambah Agus.

Salah satu komitmen utama SRT 45 Semarang adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif bagi semua siswa. Agus Jabo Priyono secara tegas menyatakan bahwa sekolah ini dijamin bebas dari praktik bullying (perundungan), intoleransi, dan "harassment" (pelecehan).

Untuk mencapai tujuan tersebut, para guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidik telah diberikan pembekalan khusus. Pembekalan ini bertujuan untuk memastikan mereka mampu menciptakan suasana sekolah yang suportif dan inklusif bagi seluruh peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bambang Pramusinto, menambahkan bahwa siswa yang diterima berasal dari keluarga dengan kriteria Desil 1 dan 2 sesuai data sosial ekonomi nasional. Guru-guru yang mengajar merupakan tenaga baru yang direkrut melalui rekomendasi Kemensos dan berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Dinas Pendidikan Kota Semarang akan terus mendampingi jalannya proses pembelajaran dan memastikan tidak ada praktik perundungan maupun intoleransi, sesuai kurikulum boarding yang diterapkan. Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Sumarno juga turut memberikan semangat kepada para siswa, mendorong mereka untuk terus semangat belajar. Saat ini, program sekolah rakyat telah berjalan di 13 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan satu lagi segera menyusul di Sragen.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi