Suka Duka Siswa SMA Sekolah Rakyat di Bandung: Menimba Ilmu di Tengah Gempuran Rindu Ayah Ibu

24 Jam penuh mereka menghabiskan di lingkungan kampus tersebut, baik di dalam kelas maupun asrama.

Aksara Bebey
Oleh Aksara Bebey - Reporter
Suka Duka Siswa SMA Sekolah Rakyat di Bandung: Menimba Ilmu di Tengah Gempuran Rindu Ayah Ibu
Suka Duka Siswa SMA Sekolah Rakyat di Bandung: Menimba Ilmu di Tengah Gempuran Rindu Ayah Ibu (Merdeka.com)

Terhitung dua pekan sejak 14 Juli 2025, puluhan pelajar menjalani keseharian sebagai siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 11, di Politeknik Kesejahteraan Sosial (Polteksos) Bandung. 24 jam penuh mereka menghabiskan di lingkungan kampus tersebut, baik di dalam kelas maupun asrama.

Alasan remaja-remaja yang berasal dari keluarga kurang mampu itu cuma satu: menimba ilmu. Harapannya, upaya itu dapat menjadi bekal untuk menatap masa depan yang lebih cerah.

Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini direspons positif oleh para siswa. Mereka bersyukur, sebab program ini dapat meringankan beban orang tua mereka.

Kendati begitu, para siswa sadar betul tak bakal selalu mulus. Tantangan di masa-masa awal ini, salah satunya adalah adaptasi.

Hal tersebut diakui oleh Rangga Praja Anggara (17), salah satu siswa. Rasa kangen kebersamaan di rumah dan orang tua, tak bisa ia tampik kerap menghantui hari-hari awalnya sebagai siswa SRMA 11.

"Sebenarnya, pas awal-awal memang kadang kangen sama orang rumah lah. Lebih kangen ke orang tua, lebih kangen juga sama keluarga di rumah," kata Rangga saat dijumpai di ruang kelasnya, Senin (28/7).

Namun rasa kangen itu harus dilalui demi masa depan lebih baik. “Tapi, ini juga kan kesempatan buat kita semua untuk menghadap ke masa depan yang akan datanglah,” ujar Rangga.

Suasana Sekolah Rakyat SMA di Bandung
Suasana Sekolah Rakyat SMA di Bandung merdeka.com

Rangga bahkan bercerita bahwa awalnya tak ingin masuk ke Sekolah Rakyat. Tapi, lambat-laun, dirinya telah mulai kerasan.

“Awalnya saya juga nggak pengen masuk. Tapi, semenjak ada adaptasi juga, ada perubahan, alhamdulillah. Di waktu dua pekan ini, saya mulai nyaman,” kata dia.

Pelajar lainnya, Noviskarimah (15) bahkan merasa bahagia. Ia merasa senang bisa menjadi bagian dari 100 siswa yang dapat kesempatan menimba ilmu di SRMA 11.

Kebersamaan dengan kawan-kawan, kata dia, adalah hal membuatnya berkesan dan nyaman. Khususnya momen saat para siswa diberi kesempatan buat unjuk bakat.

“Kegiatan MPLS, terus sempet ada unjuk bakat. Di mana unjuk bakat ini memperlihatkan bakat-bakat siswa yang ada di sini dari tari, seni, dan sebagainya,” kata Novi.

“Itu yang paling berkesan menurut saya,” senyum Novi merekah.

Putri dari pasangan buruh harian lepas di Bandung ini pun berharap bekal ilmu yang ia dapat dari Sekolah Rakyat bisa mengantarkannya menggapai cita-citanya. Bukan guru, atau selebgram, tapi dokter anak.

Untuk itulah Novi pun bertahan meski selama belajar di Sekolah Rakyat mesti harus jauh dengan kedua orang tua yang ia sayang.

“Iya sangat membantu. Aku Insyaallah menjadi dokter anak,” ujarnya.

Siswa Tak Kuat

Tidak semua siswa kuat bertahan menghadapi ujian ini. Kepala SRMA 11 Tintin Sri Suprihatin mengatakan ada sebanyak 4 orang siswa yang mengundurkan diri, meski baru 2 pekan menjadi siswa SRMA 11. Alasannya karena tak kuat menanggung jarak yang terbentang dengan orang tua mereka.

“Karena mereka masih pengen tidur dengan orang tuanya, jadi mereka tidak biasa. Betul homesick,” kata dia.

Rekomendasi