Kisah Dai Temukan Harapan Masa Depan di Sekolah Rakyat, dari Gerobak Tahu Bulat Masuk ke Ruang Kelas

Meskipun usianya lebih tua dibandingkan teman-teman sekelasnya, Dai tidak menyerah untuk mengejar impiannya setelah sempat terhenti selama dua tahun.

Muhammad Farih Fanani
Oleh Muhammad Farih Fanani - Reporter
Kisah Dai Temukan Harapan Masa Depan di Sekolah Rakyat, dari Gerobak Tahu Bulat Masuk ke Ruang Kelas
Dari Gerobak Tahu Bulat ke Ruang Kelas, Kisah Dai Temukan Harapan Masa Depan di Sekolah Rakyat (© 2026 Liputan6.com)

Program Sekolah Rakyat memberikan kesempatan pendidikan gratis bagi mereka yang terpaksa putus sekolah akibat masalah ekonomi, termasuk seorang penjual tahu bulat. Daifulloh Afif, yang akrab disapa Dai, adalah siswa berusia 19 tahun asal Bekasi yang kini melanjutkan pendidikan di kelas 1 SRMA 13 Bekasi.

Meskipun usianya lebih tua dibandingkan teman-teman sekelasnya, Dai tidak menyerah untuk mengejar impiannya setelah sempat terhenti selama dua tahun.

"Dulu saya pernah sekolah SMA sampai kelas 10, tapi tidak sampai lulus. Saya sekolah cuma sekitar tujuh bulan," ungkap Dai dalam sebuah wawancara pada 16 April.

"Karena orang tua kurang biaya," sambungnya yang menunjukkan tantangan yang dihadapinya.

Orang tua Dai berjualan jajanan menggunakan gerobak di Bekasi, dan kondisi ini membuatnya berusaha untuk tidak memberatkan ekonomi keluarga. Pada usia 16 tahun, ia mulai berjualan tahu bulat dan pernah bekerja di beberapa tempat, termasuk bengkel mobil dan sebagai kurir. Meski sudah memiliki penghasilan sendiri, Dai tetap ingin kembali bersekolah.

"Karena dari dulu sebenarnya saya ingin sekolah SMA," katanya, dengan minat di bidang pemrograman atau coding.

Keinginannya terwujud ketika ia mengetahui bahwa Sekolah Rakyat menerima siswa yang putus sekolah tanpa biaya. "Menurut saya, Sekolah Rakyat sangat membantu. Karena di luar sana masih banyak orang yang putus sekolah karena biaya," katanya.

Seluruh fasilitas pendidikan serta kebutuhan sehari-hari siswa, seperti perlengkapan mandi, sepatu, kaos kaki, tas sekolah, dan pakaian, disediakan secara gratis oleh Sekolah Rakyat. Dai juga bersyukur karena mendapatkan makanan bergizi tiga kali sehari di asrama.

Selain itu, sistem pendidikan di Sekolah Rakyat membantunya untuk disiplin dan kembali ke rutinitas sebagai pelajar. "Sejak di SR, saya jadi bisa bangun pagi. Waktu masih berdagang, saya sering sampai pagi, bahkan sampai jam 2 atau 3 pagi. Jadi biasanya baru bangun sekitar jam 10. Sekarang, saya selalu bangun pagi," jelas Dai.

Ketika ditanya tentang cita-citanya, Dai mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pengusaha. Minat ini tidak hanya berasal dari pengalaman berjualan tahu bulat, tetapi juga dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler kewirausahaan di sekolah. Salah satu kegiatan kewirausahaan di SRMA 13 Bekasi adalah budidaya tanaman sayuran, di mana hasil panen yang dirawat oleh siswa akan dijual untuk manfaat mereka.

"Untuk Bapak Presiden, terima kasih karena sudah mengadakan program Sekolah Rakyat. Kami yang kekurangan biaya jadi bisa punya harapan lagi untuk meraih cita-cita," tutup Dai dengan harapan yang penuh semangat. Kisahnya menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat lebih dari sekadar pendidikan, tetapi juga memberikan harapan masa depan bagi mereka yang kurang mampu.

Rekomendasi