Ayah Kabur dan Himpitan Ekonomi Buat Khusnul Takut Bermimpi Sekolah Tinggi
Dia tak sampai hati merepotkan terus bibi dan pamannya untuk membiayainya sekolah. Khusnul hanya tinggal di rumah reyot.
Bahagia terpancar dari wajahnya. Mimpinya akhirnya terkabul. Khusnul Mubarok Arafah bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMA.Khusnul tinggal bersama bibi dan pamannya yang kerja serabutan.
Dia tak sampai hati merepotkan terus bibi dan pamannya untuk membiayainya sekolah. Khusnul hanya tinggal di rumah reyot.
Berdinding triplek. Sewa tanah dari pemilik lahan Rp1,5 juta per tahun.Khusnul yang berhasil lulus dari SMPN 44 Bandar Lampung saja merasa sudah bersyukur.
Sejak kecil ia dan sang kakak dibesarkan oleh bibi dan pamannya. Ibu meninggal sejak mereka kecil. Sementara sang ayah pun tidak bertanggung jawab atas keduanya.
Sekolah Rakyat
Kondisi ini yang membuat Khusnul tak berniat untuk melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi. Karena tak ingin terus-terusan menyusahkan bibi dan pamannya.
Apalagi, paman dan bibinya juga memiliki dua orang anak yang lebih membutuhkan biaya. Paman yang hanya kerja serabutan dan bibi bekerja bersama orang dengan membuat kemplang pun memiliki penghasilan yang pas pasan.
“Saya sangat bahagia karena bisa melanjutkan sekolah, dan berharap bisa sukses dan bahagiakan bibi saya dan orang tua,” ucap Khusnul.
Khusnul salah satu calon murid di sekolah Rakyat untuk tahun ajaran 2025/2026 yang akan dimulai di bangunan milik Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) daerah Provinsi Lampung.
Nyaris Putus Asa
Dengan adanya program yang diberikan secara gratis ini, ia harap tak lagi menyusahkan sang bibi dengan biaya pendidikan yang dibilang tak murah.
“Tadinya memang enggak mau lanjut sekolah karena enggak tega sama bibi, karena mengurus saya dan kakak, bibi juga punya anak sendiri,” kata Khusnul.
Bibi Khusnul, Meliana mengatakan, ibu Khusnul meninggal dunia sejak ia duduk di bangku Taman Kanak-kanan.
“Ibunya sudah meninggal sejak Khusnul TK, kalau bapaknya pergi enggak tahu kemana dari Januari 2025 ini, tapi dari kecil memang sudah sama saya,” kata Meliana.
Meliana mengatakan, awalnya ia tak mengatahui adanya sekolah rakyat, tak lama ketua RT datang dan menawarkan kepadanya.
“Awalnya pak RT itu datang dan bilang mau sekolah tidak dibantu oleh negara, saya bilang tanya ke anaknya dulu mau atau enggak. Dan saya tanya mau anaknya dari pada enggak sekolah, yaudah akhirnya masuk di sana,” ungkapnya.