Mensos Gus Ipul Target Sekolah Rakyat Bertambah 100 Gedung Permanen
Alasannya, saat ini beberapa Sekolah Rakyat masih menggunakan gedung sementara milik Kementerian Sosial (Kemensos).
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menargetkan pada tahun 2026 ada 100 Sekolah Rakyat baru di seluruh Indonesia. Hal tersebut disampaikan saat meninjau Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar, Sabtu (18/4).
Gus Ipul mengatakan keinginan Presiden Prabowo Subianto setiap kabupaten/kota memiliki satu gedung permanen Sekolah Rakyat. Alasannya, saat ini beberapa Sekolah Rakyat masih menggunakan gedung sementara milik Kementerian Sosial (Kemensos).
"Kita harapkan setiap kabupaten/kota memiliki satu gedung permanen Sekolah Rakyat. Untuk tahun ini dibangun di lebih dari 100 titik yang Insya Allah bisa dimanfaatkan tahun ini," ujarnya kepada wartawan.
Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur ini berharap dengan bertambahnya 100 gedung permanen tersebut, diharapkan bisa menampung 1000 siswa mulai tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Ia membeberkan tahun 2026 ditargetkan sekolah rakyat bisa menampung 30 ribu siswa di seluruh Indonesia.
"Tahun lalu itu hampir 16 ribu. Sekarang alokasinya lebih dari 30 ribu. Jadi kita harapkan bisa berjalan dengan baik" sebutnya.
"Kalau tahun ini alokasinya benar-benar bisa mencapai lebih dari 30 ribu dan direalisasikan, maka tahun ini pula lebih dari 46 ribu siswa Sekolah Rakyat. Kemudian tahun depan bisa lebih dari 100 ribu," imbuhnya.
Untuk di Kota Makassar, Gus Ipul mengungkapkan ada satu gedung permanen sekolah rakyat yang sementara dalam proses pembangunan. Ia menyebut sekolah rakyat tersebut berada di Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya.
"Di dekat gedung olahraga (GOR Sudiang), sedang dibangun, sekitar 4 kilometer dari sini," kata Gus Ipul.
Gus Ipul juga mengungkapkan evaluasi pelaksanaan Sekolah Rakyat yang sudah berjalan selama 9 bulan. Ia menyebut evaluasi dari Kemensos terkait program Sekolah Rakyat adalah adaptasi siswa dan juga guru saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
"Dua minggu sampai satu bulan pertama itu memang masa-masa adaptasi. Tidak hanya siswanya, tapi juga guru-gurunya, karena itu untuk pertama kali. Tapi pada bulan kedua, bulan ketiga mulai ada saling menyesuaikan, dan kemudian pada bulan-bulan berikutnya sudah mulai berjalan dengan baik," kata mantan Wali Kota Pasuruan ini.
Ia memastikan sudah tidak ada siswa maupun guru yang mengundurkan diri
"Kita tanya sekarang, tidak ada. Guru-guru juga sudah tidak ada yang mengundurkan diri. Awalnya ada, tapi sekarang alhamdulillah sudah tidak ada," ucapnya.