Di usia yang seharusnya sudah duduk di bangku sekolah dasar, Al-Jabbar baru akan merasakan pengalaman belajar untuk pertama kalinya. Anak berusia 12 tahun itu menjadi salah satu calon siswa Sekolah Rakyat, program pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan.
Kisah Al terungkap saat Menteri Sosial Saifullah Yusuf menceritakan pertemuan bocah tersebut dengan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di Istana Negara. Dalam kesempatan itu, Al dengan berani menyampaikan langsung bahwa dirinya belum pernah mengenyam pendidikan.
"Ini salah satu calon siswa Sekolah Rakyat dari Duren Sawit, enggak jauh dari sini, yang kemarin angkat tangan dan menyampaikan langsung kepada Pak Seskab. Secara spontan dia menyatakan nama saya Al-Jabbar, panggilannya Al. Saya usia 12 tahun, tapi saya belum pernah sekolah," cerita Gus Ipul dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (6/5).
Al hidup bersama ibu dan adiknya setelah sang ayah meninggal dunia. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuat mereka harus hidup menumpang. Dalam kesehariannya, Al bahkan kerap ditemukan berada di lampu merah sambil membawa sang adik.
Di tengah keterbatasan itu, Al tetap menyimpan harapan sederhana: melihat adiknya bisa bersekolah.
"Ayahnya sudah meninggal, status rumahnya juga masih menumpang dan ditemukan pada saat di lampu merah. Dia cerita juga di tengah-tengah dia yang belum pernah sekolah, dia bawa adiknya dan adiknya mau hanya sekolah PAUD, setelah itu dia enggak mau sekolah juga. Padahal Al ingin adiknya bisa sekolah," kata Gus Ipul.
Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto hadir untuk menjangkau anak-anak seperti Al—mereka yang berasal dari keluarga miskin atau masuk kelompok desil 1 dan 2. Pemerintah menargetkan program ini menjadi salah satu upaya memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan.
Menurut Gus Ipul, pada tahap awal pelaksanaan tahun 2025, Sekolah Rakyat menampung lebih dari 15 ribu siswa dengan mayoritas berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.
"Pertama, 60% orang tua yang bekerja sebagai guru atau penagih harian. 67% orang tua berpenghasilan di bawah 1 juta rupiah. 65% keluarga memiliki tanggungan di atasnya," jelasnya.
Advertisement
Tercatat 298 Siswa Putus Sekolah
Selain faktor ekonomi, banyak calon siswa juga memiliki latar belakang kehidupan yang berat. Data pemerintah mencatat terdapat 454 siswa yang belum pernah sekolah, 298 siswa putus sekolah, dan sebagian lainnya telah bekerja demi membantu keluarga.
"Di antara mereka banyak yang hidup bersama orang tua tunggal. Sebagian lagi mereka mengalami kekerasan," pungkasnya.
Advertisement
Siswa di SR Capai 46.000 Anak
Pemerintah menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat mencapai 46 ribu anak pada tahun ini. Angka tersebut ditargetkan meningkat menjadi 100 ribu siswa pada 2027 dan lebih dari 200 ribu siswa pada 2028.
Bagi Al-Jabbar, target besar itu mungkin terdengar jauh. Namun baginya, kesempatan mengenal ruang kelas dan belajar seperti anak-anak lain sudah menjadi awal dari mimpi yang selama ini tertunda.