Pusdokkes Polri Intensifkan Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung
Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri mengerahkan tim ahli untuk mempercepat proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, menggunakan standar DVI internasional. Proses ini mengutamakan ketepa
Makassar, 21 Januari 2026 – Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri telah mengerahkan tim khusus untuk melakukan pemeriksaan dan pengumpulan data guna mengidentifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Insiden tragis ini terjadi di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan.
Tim identifikasi bekerja berdasarkan prosedur standar internasional Disaster Victim Identification (DVI) untuk memastikan ketepatan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Kedokteran Kepolisian Pusdokkes Polri, Brigjen Pol dr. Nyoman Eddy Purnama, di Gedung Biddokes Polda Sulawesi Selatan.
Pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Pesawat tersebut membawa tujuh kru dan tiga penumpang, dengan total sepuluh orang di dalamnya.
Proses Identifikasi DVI Polri Berjalan Hati-hati
Brigjen Pol dr. Nyoman Eddy Purnama menjelaskan bahwa kepolisian telah menggerakkan petugas untuk mengumpulkan data antemortem dan post-mortem korban. Data antemortem telah berhasil dikumpulkan dari sepuluh anggota keluarga korban, sementara tim di lapangan fokus pada pengumpulan data post-mortem.
Tim yang diterjunkan terdiri dari dua dokter, tiga dokter forensik, seorang dokter radiologi, serta staf pendukung lainnya. Seluruh data yang terkumpul nantinya akan melalui proses rekonsiliasi, yaitu pencocokan data antemortem dan post-mortem, untuk memastikan identitas jenazah secara akurat.
Kepolisian menekankan pentingnya kehati-hatian dalam setiap tahapan pemeriksaan dan identifikasi jenazah guna menghindari kesalahan. "Kami tidak boleh salah dalam mengembalikan jenazah kepada keluarganya. Sekali lagi, ketepatan adalah yang utama. Karena proses ini membutuhkan ketelitian, tentu memerlukan waktu," tegas Brigjen Pol dr. Nyoman Eddy Purnama.
Dua Jenazah Ditemukan, Identitas Masih dalam Proses
Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Didik Supranoto, menginformasikan bahwa tim DVI Polda Sulawesi Selatan telah menerima satu kantong jenazah korban kecelakaan pesawat dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Jenazah tersebut kini dalam proses pemeriksaan atau identifikasi.
"Sampai saat ini kami belum bisa memberikan identitas secara jelas. Tapi, secara fisik mayat tersebut adalah perempuan. Tapi, karena perempuan ada dua (awak pesawat), maka kami belum bisa identifikasi," jelas Kombes Pol Didik Supranoto. Tim SAR gabungan telah menemukan dua jenazah korban, satu berjenis kelamin laki-laki dan satu perempuan.
Proses identifikasi memerlukan waktu karena prioritas utama adalah ketepatan, bukan kecepatan. "Secepatnya kita kumpulkan (data korban), baru rekonsiliasi atau pencocokan data. Begitu cocok, kita akan sampaikan. Kecepatan bukan prioritas, tetapi ketepatan. Kita tidak boleh salah mengembalikan jenazah kepada keluarganya, karena ini baru masuk, jadi mohon bersabar," tambahnya.
Upaya Pencarian Korban Lanjutan di Medan Sulit
Petugas telah berhasil mengevakuasi dua jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung. Namun, upaya pencarian masih terus dilanjutkan untuk menemukan delapan korban lainnya yang belum ditemukan.
Berdasarkan data manifes maskapai Indonesia Air Transport, pesawat tersebut membawa total sepuluh orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang. Kondisi medan yang ekstrem di Gunung Bulusaraung menjadi tantangan besar bagi tim pencari dan penyelamat.
Basarnas dan tim gabungan terus berupaya maksimal untuk menemukan seluruh korban. Mereka menghadapi kondisi cuaca yang sering berubah dan medan yang sulit di lokasi kejadian.
Sumber: AntaraNews