Seluruh Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Berhasil Diidentifikasi
Tim DVI Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan berhasil mengidentifikasi seluruh 10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport di Pegunungan Bulusaraung, termasuk awak dan penumpang, membawa kejelasan bagi keluarga korban.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) telah menuntaskan proses identifikasi seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT). Kecelakaan tragis ini terjadi di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pekan lalu. Seluruh 10 korban, yang terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang, kini telah berhasil diidentifikasi secara resmi.
Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, Inspektur Jenderal Djuhandani Rahardjo Puro, mengumumkan keberhasilan identifikasi ini dalam sebuah konferensi pers di Makassar pada hari Sabtu. Keberhasilan ini menjadi titik terang bagi keluarga korban yang menanti kepastian. Proses identifikasi dilakukan terhadap 11 kantong jenazah yang diterima tim DVI dari petugas penyelamat di lokasi kejadian, dengan kantong terakhir diterima pada Jumat (23 Januari).
Keberhasilan tim DVI dalam mencocokkan identitas korban dengan manifes penerbangan sangat terbantu oleh kondisi jasad yang memungkinkan. Bahkan, satu kantong jenazah yang berisi sisa kerangka berhasil dikonfirmasi sebagai bagian dari salah satu korban. Semua korban yang teridentifikasi telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.
Proses Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Proses identifikasi seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dilakukan dengan metode yang komprehensif dan teliti oleh tim DVI Polda Sulsel. Tim ini merupakan bagian dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri yang memiliki keahlian dalam identifikasi korban bencana.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulawesi Selatan, Komisaris Besar Muh. Haris, menjelaskan bahwa identifikasi memanfaatkan berbagai data ante-mortem dan post-mortem. Metode yang digunakan meliputi pemeriksaan sidik jari, rekam gigi, barang-barang pribadi yang ditemukan, serta data medis korban. Pendekatan multi-aspek ini memastikan akurasi identifikasi.
Keberhasilan identifikasi seluruh korban ini menegaskan profesionalisme tim DVI dalam menghadapi tantangan di lapangan. Meskipun menghadapi kondisi medan yang sulit dan kompleksitas dalam proses identifikasi, tim berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Seluruh korban kini telah mendapatkan kepastian identitasnya, memungkinkan keluarga untuk melanjutkan proses duka.
Daftar Lengkap Korban yang Teridentifikasi
Seluruh 10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 telah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI. Identifikasi ini mencakup tujuh awak pesawat dan tiga penumpang yang berada dalam penerbangan nahas tersebut. Beberapa korban telah diidentifikasi lebih awal dan diserahkan kepada keluarga mereka.
Berikut adalah daftar lengkap korban yang berhasil diidentifikasi:
Kronologi Kecelakaan dan Penemuan Puing Pesawat
Pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari, saat mendekati perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene dan Kepulauan. Pesawat ini dijadwalkan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Insiden ini segera memicu operasi pencarian dan penyelamatan skala besar.
Puing-puing pesawat ditemukan di Pegunungan Bulusaraung pada keesokan harinya, Minggu, 18 Januari. Penemuan ini mengkonfirmasi kekhawatiran terburuk. Pada hari yang sama, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menyatakan bahwa insiden ini diklasifikasikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yaitu kecelakaan di mana pesawat yang berfungsi penuh menabrak tanah atau air, biasanya karena kesalahan pilot atau navigasi.
Investigasi lebih lanjut oleh KNKT akan berfokus pada penyebab pasti kecelakaan untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang. KNKT adalah lembaga independen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden untuk melakukan investigasi kecelakaan transportasi.
Sumber: AntaraNews