Evakuasi Korban ATR: Tujuh Paket Jenazah Berhasil Diangkat dari Lokasi Kecelakaan
Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi tujuh paket korban dari lokasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, melanjutkan proses identifikasi korban ATR.
Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi tujuh paket korban dari lokasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pada Jumat, 23 Januari. Keberhasilan operasi ini menjadi langkah penting dalam upaya pencarian dan identifikasi korban insiden nahas yang terjadi seminggu sebelumnya.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mohammad Syafii, menyatakan bahwa cuaca yang kondusif sangat mendukung kelancaran evakuasi udara. Seluruh paket korban telah diterbangkan ke Pangkalan Udara Hasanuddin sebelum kemudian dibawa ke pos Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Sulawesi Selatan di Makassar untuk pemeriksaan forensik.
Dari tujuh paket yang dievakuasi, enam di antaranya berisi jenazah utuh, sementara satu paket lainnya berupa bagian tubuh. Proses identifikasi lanjutan kini sepenuhnya berada di tangan tim DVI gabungan, yang bekerja sesuai prosedur forensik standar. Dengan penambahan ini, total 11 paket korban telah diterima pihak berwenang, terdiri dari 10 kantong jenazah dan satu paket bagian tubuh. Hingga saat ini, tiga korban telah berhasil diidentifikasi, sementara tujuh lainnya masih dalam proses.
Proses Evakuasi Udara yang Terkoordinasi
Operasi evakuasi udara pada Jumat lalu menunjukkan koordinasi yang sangat erat antarlembaga, memastikan setiap tahapan berjalan aman dan terkendali. Mohammad Syafii menekankan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari profesionalisme kru penerbangan dan kemampuan pesawat yang digunakan.
Selama operasi, Panglima Komando Operasi Udara (Pangkoopsud) dan Kepala Basarnas turut memantau langsung proses evakuasi dari helikopter Caracal milik TNI Angkatan Udara. Kapolda Sulawesi Selatan juga melakukan pemantauan udara menggunakan helikopter Bell 429, menunjukkan komitmen penuh dari berbagai pihak. Dukungan tambahan juga diberikan oleh helikopter Dauphin HR 3601 milik Basarnas, yang memperkuat kapasitas tim di lapangan.
Helikopter Caracal TNI Angkatan Udara melaksanakan tiga sorti penerbangan, mengangkut dua paket pada sorti pertama, dua paket pada sorti kedua, dan satu paket pada sorti ketiga dari lokasi pegunungan yang sulit dijangkau. Sementara itu, helikopter Basarnas Dauphin berhasil menyelesaikan dua sorti, masing-masing mengevakuasi satu paket. Total tujuh paket korban berhasil diangkut melalui jalur udara pada hari tersebut, menandai kemajuan signifikan dalam upaya evakuasi korban ATR.
Identifikasi Korban dan Perkembangan Terbaru
Setelah berhasil dievakuasi, seluruh paket korban segera dibawa ke pos DVI Kepolisian Sulawesi Selatan di Makassar untuk menjalani pemeriksaan forensik. Tim DVI gabungan bertugas mengidentifikasi para korban berdasarkan prosedur ilmiah yang telah ditetapkan. Ini merupakan tahap krusial untuk memastikan identitas setiap individu yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut.
Dengan penambahan tujuh paket baru, total paket yang telah diterima pihak berwenang kini mencapai sebelas. Rinciannya adalah sepuluh kantong jenazah dan satu paket yang berisi bagian tubuh. Sejauh ini, tiga korban telah berhasil diidentifikasi secara resmi, memberikan kejelasan bagi keluarga yang menunggu. Namun, masih ada tujuh korban yang identitasnya belum terungkap dan masih dalam proses verifikasi oleh tim DVI.
Pesawat ATR 42-500 yang nahas ini dioperasikan oleh Indonesia Air Transport. Insiden tragis tersebut terjadi di Pegunungan Bulusaraung pada Sabtu, 17 Januari 2026. Pesawat tersebut membawa sepuluh orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Kecelakaan ini telah memicu operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran yang melibatkan banyak pihak untuk mengevakuasi korban ATR dan mencari tahu penyebab pasti insiden tersebut.
Sumber: AntaraNews