Jenazah Hariadi, Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Dimakamkan di Karanganyar
Jenazah akan dikebumikan setelah prosesi penyerahan secara kedinasan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Jenazah Hariadi (46) salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 akan dimakamkan di Karanganyar, Jawa Tengah.
Jenazah tiba di rumah duka Perumahan Puri Kahuripan 3 Blok A No.4, Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Minggu (25/1) sekitar pukul 13.30 WIB.
Jenazah diberangkatkan dari Bandara Juanda, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, melalui jalur darat menggunakan mobil ambulans. Jenazah akan dikebumikan setelah prosesi penyerahan secara kedinasan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Setibanya di rumah duka, langsung dilakukan upacara penyerahan jenazah oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Prosesi penyerahan berlangsung khidmat hingga jenazah diterima oleh perwakilan keluarga.
Tangis keluarga pecah saat peti jenazah disemayamkan di halaman rumah duka.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar sejak sebelum jenazah tiba di rumah duka.Sejumlah kerabat dan warga kemudian melakukan salat jenazah.
Jenazah Hariadi akan dimakamkan di Dusun Karangnongko, Desa Karangrejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar.Ketua RT 03/08, Rudy Hermawan mengatakan, jenazah almarhum diberangkatkan dari Surabaya sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan ambulans.
“Setelah tiba, jenazah akan disalatkan terlebih dahulu di masjid, kemudian diberangkatkan ke pemakaman sekitar pukul 14.30 WIB,” ungkap Rudy.
Hariadi di Mata Kerabat
Selain prosesi keluarga dan warga, penyerahan jenazah juga dilakukan secara kedinasan oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Kepala Stasiun PSDKP Cilacap, Dwi Santoso Wibowo, hadir mewakili pimpinan KKP untuk menyerahkan jenazah sekaligus memberikan penghormatan terakhir.
“Kami mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan serta Dirjen PSDKP untuk menyerahkan jenazah almarhum kepada keluarga secara kedinasan,” kata Dwi.
Menurutnya, Hariadi telah cukup lama bertugas di lingkungan PSDKP dan dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul.
“Beliau humble, komunikatif, dan cepat menyatu dengan tim, terutama saat menjalankan patroli pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan,” katanya.
Dwi mengenang pertemuan terakhir dengan almarhum beberapa hari sebelum kecelakaan. Saat itu, mereka bertemu dalam rangkaian patroli udara pengawasan.
“Kami sempat berjanji makan malam bersama. Tapi kemudian musibah itu terjadi,” tuturnya.
Hariadi diketahui tengah menjalankan tugas pengawasan kelautan dan perikanan di wilayah Sulawesi saat kecelakaan pesawat tersebut terjadi.