Farhan Copilot Pesawat ATR Dikenal Tetangga Sebagai Sosok Rendah Hati dan Mudah Bergaul
Muhammad Farhan Gunawan, copilot pesawat ATR 42-500 korban kecelakaan, dikenal tetangga sebagai sosok rendah hati dan mudah bergaul. Farhan Copilot Pesawat ATR ini meninggalkan kesan mendalam.
Jenazah Muhammad Farhan Gunawan, copilot pesawat ATR 42-500 korban kecelakaan, tiba di rumah duka Makassar Sabtu (24/1). Farhan dikenal luas tetangganya sebagai pribadi sangat baik dan rendah hati. Kedatangan jenazah disambut duka mendalam keluarga dan kerabat.
Kecelakaan nahas yang menimpa pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar ini terjadi pada Sabtu (17/1) di wilayah pegunungan Bulusaraung. Pesawat hilang kontak dan baru ditemukan setelah Operasi SAR gabungan berlangsung selama tujuh hari. Farhan adalah salah satu dari sepuluh korban dalam insiden tragis tersebut.
Menurut Zulkarnain, tetangga dekat almarhum, Farhan memiliki sikap yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Rencananya, jenazah Farhan akan dikebumikan pada Minggu (25/1) pagi di pemakaman umum Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Sosok Muhammad Farhan di Mata Tetangga
Zulkarnain, tetangga yang tinggal persis di depan rumah Farhan, menceritakan bahwa almarhum memiliki kepribadian yang sangat baik. Ia dikenal mudah bergaul dan humble, tidak sombong kepada warga sekitar. Farhan sering menyapa dengan senyuman hangat, meninggalkan kesan positif bagi siapa saja yang mengenalnya.
"Kalau ananda ini luar biasa attitudenya, bagus sekali terhadap tetangga apalagi tetangga di sekitar sini," tutur Zulkarnain sesaat jenazah tiba di rumah duka. Sikap sopan santunnya selalu ditunjukkan, bahkan kepada orang yang lebih tua. Hal ini membuat Farhan sangat dihormati di lingkungan tempat tinggalnya.
Meskipun orang tua Farhan tidak tinggal serumah dengannya di Makassar karena berada di Sorowako, Luwu Timur, Farhan tetap menjaga pergaulan. Zulkarnain telah mengenal Farhan sejak almarhum masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Makassar. Farhan menempuh pendidikan di Sekolah Islam Athira.
Perjalanan Karier dan Tragedi Pesawat ATR
Muhammad Farhan Gunawan diketahui bekerja sebagai copilot pada maskapai penerbangan swasta, Indonesia Air Transport (IAT). Meskipun masih muda dan belum berkeluarga, Farhan adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia telah mengabdi sebagai copilot selama sekitar tiga tahun.
Selama bekerja, Farhan tidak selalu rutin pulang ke rumahnya di Makassar. Ia akan kembali jika pesawatnya transit di kota tersebut. "Setahu saya baru tiga tahun (sebagai Copilot) sering pulang di sini, cuma tidak sesering, misalnya waktu di awal (jadi kru pesawat). Kalau sekarang, setelah terbang ke sana ke mari, itu bisa sampai dua sampai tiga bulan baru kelihatan," ucap Zulkarnain.
Pesawat ATR tipe 42-500 yang dikemudikan Farhan bersama kru dan tiga penumpang hilang kontak pada Sabtu (17/1) pukul 13.17 WITA. Menara pengawas pesawat (Air Traffic Control/ATC Tower) melaporkan kehilangan kontak di wilayah pegunungan perbatasan Maros-Pangkep. Tragedi ini mengejutkan banyak pihak, termasuk tetangga Farhan yang baru mengetahui kabar dari pemberitaan.
Operasi SAR gabungan berhasil menemukan korban pada Kamis (22/1/2026) pagi. Jenazah Farhan ditemukan bersama lima korban lainnya yang saling berdekatan radius 50 meter dari titik temuan awal korban, berada di jurang 250 meter di bawah puncak Gunung Bulusaraung. Hasil identifikasi tim DVI memastikan bahwa kantong nomor PM 62.B.07 cocok dengan nomor AM 001 teridentifikasi Muhammad Farhan Gunawan, copilot berusia 26 tahun.
Sumber: AntaraNews