Jenazah Keempat Korban Pesawat ATR 42-500 Tiba di DVI Makassar untuk Identifikasi

Jenazah keempat korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport telah tiba di Posko DVI Makassar, menandai langkah penting dalam proses identifikasi setelah insiden tragis yang terjadi di pegunungan Bulusaraung.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Jenazah Keempat Korban Pesawat ATR 42-500 Tiba di DVI Makassar untuk Identifikasi
Jenazah keempat korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport telah tiba di Posko DVI Makassar, menandai langkah penting dalam proses identifikasi setelah insiden tragis yang terjadi di pegunungan Bulusaraung. (AntaraNews)

Makassar – Jenazah keempat korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik maskapai penerbangan Indonesia Air Transport (IAT) akhirnya tiba di Posko DVI Biddokes Polda Sulsel. Kedatangan jenazah ini terjadi pada Kamis malam (23/1), sekitar pukul 22.45 WITA, di Jalan Kumala Makassar, Sulawesi Selatan.

Proses penyerahan jenazah dilakukan oleh Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo kepada Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Kombes Pol Muhammad Haris. Jenazah tersebut langsung dibawa menuju ruangan pemeriksaan Post Mortem untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Puluhan personel TNI Polri turut serta mengangkut tubuh korban yang terbungkus kantong mayat berwarna putih dari ambulans. Penyerahan jenazah keempat ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengidentifikasi seluruh korban insiden tragis tersebut.

Proses Identifikasi Jenazah di Posko DVI

Setibanya di Posko DVI, kantong mayat korban telah ditempeli stiker bertuliskan Post Mortem nomor PM.63.B.04. Penomoran ini bertujuan untuk memudahkan identifikasi dan menghindari tertukarnya jenazah dengan kantong lain yang mungkin telah tiba sebelumnya.

Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo menegaskan bahwa penyerahan jenazah kepada Kabiddokkes merupakan kewenangan tim DVI untuk identifikasi. “Jenazah ini yang (korban) keempat saya serahkan kepada Kabiddokkes (Kombes Pol Muhammad Haris). Tentang siapa ini (identitas), itu kewenangan Biddokkes,” ujar Bramantyo.

Terkait jenis kelamin maupun kondisi jenazah apakah utuh atau berupa potongan tubuh, Bramantyo menyatakan tidak memiliki kewenangan untuk menyimpulkan. Ia menambahkan bahwa informasi detail mengenai hal tersebut akan disampaikan oleh pihak Biddokkes setelah proses identifikasi selesai.

Lokasi Penemuan dan Upaya Pencarian

Berdasarkan laporan yang diterima, korban keempat ini ditemukan oleh tim SAR gabungan di dalam jurang gunung dengan kedalaman sekitar 300 meter dari puncak. Lokasi penemuan berada tepat di bawah ekor pesawat yang tersangkut pohon, atau “di bawah plane tail,” jelas Bramantyo.

Pada hari penemuan, total enam jenazah berhasil ditemukan, dengan harapan lima jenazah lainnya dapat diserahkan keesokan harinya. Sejauh ini, total empat jenazah telah diserahkan kepada tim DVI untuk diidentifikasi.

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) membawa total 10 orang dan dinyatakan hilang kontak di wilayah pegunungan Bulusaraung, daerah perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, pada Sabtu (17/1/2026) siang. Pesawat tersebut diketahui menabrak gunung setempat.

Perkembangan Penyerahan Jenazah kepada Keluarga

Dari empat jenazah yang diserahkan ke tim DVI, dua jenazah utuh sebelumnya telah berhasil diidentifikasi dan diambil oleh pihak keluarga. Sementara itu, satu body part (potongan tubuh) dan jenazah keempat yang baru tiba ini, yang diduga masih utuh, masih dalam proses identifikasi.

Bramantyo kembali menekankan bahwa keterangan resmi terkait kondisi utuh atau tidaknya jenazah, serta identitas korban, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Biddokkes. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi untuk memastikan setiap korban teridentifikasi dengan akurat sebelum diserahkan kembali kepada keluarga.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi