Menanti Siswa Tak Kunjung Datang, Deretan Sekolah dengan Murid Baru Tak Lebih dari 5 Orang

Tahun ajaran baru yang biasanya identik dengan riuhnya siswa baru, kini sepi karena beberapa sekolah hanya menerima segelintir murid kelas 1.

Merdeka.com
Oleh Merdeka.com - Reporter
Menanti Siswa Tak Kunjung Datang, Deretan Sekolah dengan Murid Baru Tak Lebih dari 5 Orang
Suasana di SD Negeri Cepokosawit 2, Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali (Arie Sunaryo/Merdeka.com)

Fenomena berkurangnya jumlah peserta didik baru mulai dirasakan sekolah dasar (SD) di berbagai daerah. Tahun ajaran baru yang biasanya identik dengan riuhnya siswa baru, kini sepi karena beberapa sekolah hanya menerima segelintir murid kelas 1.

Kondisi tersebut terjadi karena berbagai faktor, mulai dari menurunnya angka kelahiran di sejumlah wilayah, persaingan dengan sekolah lain di sekitar lokasi, hingga perubahan preferensi orang tua dalam memilih tempat pendidikan untuk anak.

Sejumlah sekolah mengaku telah melakukan berbagai upaya sosialisasi hingga mendatangi calon siswa secara langsung. Namun, jumlah peserta didik baru yang diterima tetap jauh dari kapasitas kelas yang tersedia.

Meski jumlah siswa tak banyak, para guru dan tenaga pendidik tetap berkomitmen memberikan layanan pendidikan. Bahkan sejumlah sekolah melakukan berbagai inovasi agar tetap menjadi pilihan masyarakat.

Berikut deretan sekolah dasar yang hanya menerima sedikit siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027:

1. SD Negeri 1 Gedung Meneng Lampung

SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, hanya menyambut dua murid baru untuk tahun ajaran 2026/2027. Sedikitnya siswa baru membuat suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (13/7/2026) tampak berbeda.

Tidak terlihat antrean panjang orang tua maupun keramaian siswa baru yang memasuki gerbang sekolah. Meski demikian, para guru tetap memberikan sambutan hangat dan menjalankan rangkaian MPLS seperti biasa.

Guru SDN 1 Gedung Meneng, Rita mengatakan, hari pertama sekolah menjadi momen penting bagi siswa kelas 1 untuk mengenal lingkungan belajar barunya.

"Setelah satu bulan kita tidak belajar, hari ini adalah hari pertama kita masuk sekolah. Untuk anak-anak kelas satu, Ibu ucapkan selamat datang dan selamat bergabung di SD Negeri 1 Gedung Meneng yang kita cintai ini," ujar Rita, Senin (13/7/2026).

Rita juga berpesan agar kedua siswa baru tidak merasa takut maupun canggung saat memulai perjalanan pendidikan mereka.

"Anak-anak tidak perlu takut atau risau. Kakak-kakak kelas akan menuntun kalian, guru-guru akan membimbing kalian supaya bisa belajar dengan ceria dan penuh kebahagiaan. Mulai hari ini kalian sudah menjadi bagian dari keluarga besar SD Negeri 1 Gedung Meneng," jelasnya.

2. SD Negeri Cepokosawit 2 Boyolali

Kondisi serupa terjadi di SD Negeri Cepokosawit 2, Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Sekolah dasar negeri tersebut hanya menerima satu siswa baru untuk kelas 1. Bocah itu bernama Khanza.

Guru kelas 1 SDN Cepokosawit 2, Andriyani Mudrikah mengatakan, pihak sekolah sudah berupaya maksimal menjaring siswa baru. Sosialisasi dilakukan ke sejumlah TK di sekitar wilayah sekolah hingga mendatangi rumah warga secara langsung.

"Untuk tahun ini kami menerima 1 murid di tahun ajaran 2026/2027. Dikarenakan memang keterbatasan dari daerah ini angka kelahiran memang sedikit. Jadi untuk anak usia masuk kelas 1 itu memang sangat terbatas," ujar Andriyani saat ditemui liputan6.com, Selasa (14/7/2026).

Selain itu, lanjut Andriyani, ada sekolah dasar dari desa lain yang jaraknya cukup dekat dengan SDN Cepokosawit 2. Pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi ke TK dan juga door to door ke rumah warga untuk mengajak calon siswa bersekolah SDN Cepokosawit 2. Namun, tahun ini pihaknya hanya mendapatkan satu siswa baru.

Menurut Andriyani, untuk mendapatkan satu siswa baru tersebut, guru bahkan mendatangi rumah calon siswa sebanyak tiga hingga empat kali.

Selain itu, sebagian orang tua memilih menyekolahkan anak ke sekolah berbasis agama dengan sistem full day. Pilihan tersebut dinilai sebagian keluarga lebih sesuai dengan kebutuhan pendidikan anak.

Andriyani menambahkan, jumlah keseluruhan siswa SDN Cepokosawit 2 saat ini hanya 25 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Rinciannya, kelas 6 sebanyak 8 siswa, kelas 5 sebanyak 4 siswa, kelas 4 sebanyak 2 siswa, kelas 3 sebanyak 4 siswa, kelas 2 sebanyak 6 siswa, dan kelas 1 hanya 1 siswa.

3. SD Negeri Purwoyoso 1 Semarang

SD Negeri Purwoyoso 1, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang juga menerima sedikit siswa. Kelas satu hanya diisi oleh tiga siswa baru.

Meski jumlah peserta didik baru terbilang minim, pihak sekolah tetap memberikan sambutan istimewa. Ketiga siswa tersebut disambut para guru bersama maskot sekolah berupa badut sebelum mengikuti rangkaian kegiatan MPLS.

Kepala SDN Purwoyoso 1 Semarang, Hajar Ristianni mengatakan, awalnya ada lima calon siswa yang mendaftar melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Namun, dua calon siswa tidak melakukan daftar ulang sehingga hanya tiga siswa yang resmi menjadi peserta didik baru.

"Jumlah siswa kemarin yang mendaftar secara online itu ada lima, tetapi ada dua yang tidak daftar ulang sehingga yang fiks masuk hanya tiga siswa saja," kata Hajar.

Hajar mengatakan, jumlah siswa yang sedikit tidak mengurangi komitmen sekolah dalam memberikan pelayanan pendidikan. Menurutnya, setiap siswa tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pembelajaran yang optimal.

4. SDN Mojongapit 3 Jombang

Di Jombang, Jawa Timur, SD Negeri hanya menerima satu siswa baru untuk kelas 1. Sekolah itu bernama SD Negeri Mojongapit 3.

Siswa tersebut bernama Yoga Pratama. Bocah berusia 6 tahun itu menjadi satu-satunya murid kelas 1 yang mengikuti kegiatan belajar mengajar pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026).

Kepala SDN Mojongapit 3, Nikmaturrohmah mengatakan, jumlah siswa baru tahun ini mengalami penurunan drastis dibandingkan jumlah lulusan dari sekolah tersebut.

“Hanya ada satu siswa laki-laki di tahun ajaran ini. Untuk yang lulus tahun ini ada 19 orang,” ujarnya.

Nikmaturrohmah menduga salah satu faktor minimnya pendaftar berkaitan dengan kondisi tenaga pengajar di sekolah tersebut pada tahun sebelumnya. Saat itu, SDN Mojongapit 3 hanya memiliki dua guru sehingga pembelajaran beberapa kelas harus digabung.

Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua calon siswa. Mereka khawatir proses belajar anak tidak berjalan optimal akibat keterbatasan jumlah guru.

“Waktu saya tanya ke orang tua siswa, mereka bilang alasannya karena tidak ada guru sehingga ragu,” katanya.

5. SD Negeri 2 Plandaan Tulungagung

SD Negeri 2 Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, merasakan hal yang sama. Sekolah tersebut hanya mendapatkan dua siswa baru.

Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariyah mengatakan, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat calon siswa. Upaya tersebut dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan taman kanak-kanak (TK) sekitar sekolah hingga mendatangi rumah warga secara langsung.

Menurut Siti, jumlah siswa di SDN 2 Plandaan memang terus mengalami penurunan sejak 2017. Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah tersebut hanya menerima sekitar dua siswa baru setiap tahunnya.

Dia menduga kondisi tersebut dipengaruhi persaingan dengan sekolah negeri maupun swasta lain di sekitar wilayah tersebut. Selain itu, muncul anggapan di tengah masyarakat bahwa SDN 2 Plandaan sudah tidak beroperasi, meski faktanya sekolah tersebut masih aktif menjalankan kegiatan belajar mengajar.

"Memang ada informasi yang beredar kalau sekolah ini sudah tutup, padahal sampai sekarang masih berjalan," kata Siti.

Selain faktor tersebut, lokasi sekolah yang berada di belakang Balai Desa Plandaan juga disebut membuat keberadaan SDN 2 Plandaan kurang terlihat oleh masyarakat.

Rekomendasi