Basarnas Lanjutkan Pencarian Korban Pesawat Bulusaraung, Cuaca Jadi Tantangan Utama

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) terus melanjutkan upaya pencarian korban pesawat Bulusaraung, ATR 42-500, di Gunung Bulusaraung. Tim fokus menemukan delapan korban yang belum ditemukan, meski cuaca menjadi kendala utama operasi pencari

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Basarnas Lanjutkan Pencarian Korban Pesawat Bulusaraung, Cuaca Jadi Tantangan Utama
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) terus mengintensifkan pencarian delapan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung, Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, di tengah tantangan cuaca ekstrem. (AntaraNews)

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) kembali melanjutkan operasi pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan. Upaya ini dilakukan setelah tim berhasil mengevakuasi dua jenazah korban dari lokasi kejadian. Delapan korban lainnya masih dalam proses pencarian intensif oleh tim gabungan.

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo menegaskan komitmen lembaganya untuk menuntaskan pencarian seluruh korban. Ia menyatakan bahwa tanggung jawab untuk menemukan sisa korban yang belum ditemukan masih diemban. Kondisi cuaca yang kerap menghambat menjadi tantangan signifikan dalam operasi ini.

Untuk mengatasi kendala cuaca, tim berencana menggunakan helikopter dan melakukan operasi modifikasi cuaca guna memudahkan proses pencarian. Harapannya, cuaca cerah dapat mendukung kelancaran operasi pencarian yang telah berlangsung sejak Sabtu (17/1) lalu.

Tim pencari dan penyelamat, yang terdiri dari berbagai unsur, berupaya keras menyisir area Gunung Bulusaraung yang sulit dijangkau. Kondisi geografis yang menantang ditambah dengan perubahan cuaca ekstrem menjadi hambatan utama dalam operasi ini. Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo mengungkapkan bahwa tim akan mengoptimalkan penggunaan helikopter pada Rabu (21/1) pagi.

Selain itu, operasi modifikasi cuaca juga akan kembali dilakukan untuk menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi tim di lapangan. "Kami berusaha untuk menggunakan helikopter besok," kata Yudhi Bramantyo pada konferensi pers Selasa (20/1) malam. "Harapan kami, besok pagi hingga siang hari cuaca cerah, sehingga tanggung jawab yang harus kami selesaikan dapat dilaksanakan dengan baik."

Prioritas utama saat ini adalah menemukan delapan korban yang masih hilang dan mengevakuasi satu jenazah yang masih dalam perjalanan menuju posko. Tim Basarnas berkoordinasi erat dengan pihak Kepolisian untuk memastikan proses identifikasi berjalan lancar.

Dua jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 telah berhasil ditemukan dan dievakuasi dari Bulusaraung. Satu jenazah di antaranya sudah dibawa ke Posko DVI Biddokes Polda Sulawesi Selatan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pada Selasa (20/1). Kepolisian telah mengerahkan tim untuk melakukan pemeriksaan dan pengumpulan data guna mengidentifikasi kedua jenazah tersebut.

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak di daerah perbatasan Kabupaten Maros dengan Pangkajene dan Kepulauan. Insiden ini terjadi sebelum pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1).

Pesawat nahas tersebut ditumpangi oleh 10 orang. Mereka terdiri atas tujuh kru pesawat dan tiga penumpang. Ketiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yaitu Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal. Sementara itu, awak pesawat terdiri atas pilot Andi Dahananto, kopilot Muhammad Farhan Gunawan, anggota kru Hariadi, Restu Adi, dan Dwi Murdiono, serta pramugari Florencia Lolita dan Esther Aprilita.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi