Migrant Care Jember Buka Kanal Pengaduan, Lindungi PMI di Tengah Konflik Timur Tengah
Migrant Care Jember membuka kanal pengaduan khusus bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Timur Tengah, termasuk Iran, menyusul eskalasi konflik. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan PMI dan mendesak pemerintah bertindak.
Migrant Care Jember secara resmi membuka kanal pengaduan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berada di wilayah Timur Tengah, khususnya Iran. Pembukaan kanal ini dilakukan menyusul meningkatnya konflik dan eskalasi ketegangan di kawasan tersebut yang berpotensi membahayakan keselamatan para pekerja migran.
Koordinator Wilayah Migrant Care Jember, Bambang Teguh Karyanto, menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Ia menekankan bahwa banyak pekerja migran asal Kabupaten Jember yang mencari nafkah di berbagai negara Timur Tengah.
Sebagai organisasi yang berfokus pada advokasi pekerja migran, Migrant Care menyadari bahwa eskalasi konflik dapat berdampak langsung pada kondisi psikologis dan keselamatan PMI. Kondisi yang penuh ketidakpastian serta ancaman konflik membuat mereka merasa tidak aman.
Keprihatinan Migrant Care Jember terhadap PMI di Konflik Timur Tengah
Eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI) di kawasan tersebut. Migrant Care Jember menyoroti dampak langsung ketidakpastian ini terhadap para pekerja migran.
Kondisi yang dicekam rasa ketakutan dan berada di lokasi yang dekat dengan zona konflik membuat PMI merasa tidak aman dan terancam. Oleh karena itu, Migrant Care mendesak pemerintah untuk memastikan kondisi PMI di Timur Tengah.
Organisasi ini juga meminta pemerintah untuk segera membuka kanal informasi dan pengaduan di wilayah-wilayah terdampak perang. Selain itu, pembaruan informasi secara berkala dan persiapan langkah-langkah kontinjensi sangat diperlukan demi keselamatan pekerja migran Indonesia di Timur Tengah.
Koordinasi dan Data PMI Asal Jember
Dalam upaya perlindungan, Migrant Care Jember telah melakukan koordinasi intensif dengan beberapa desa yang memiliki Pusat Pelayanan Terpadu Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi) binaan mereka. Hal ini bertujuan untuk memastikan kondisi pekerja migran di desa-desa tersebut dalam keadaan baik-baik saja.
Bambang Teguh Karyanto mengungkapkan adanya informasi dari salah satu kader Migrant Care mengenai pekerja migran yang terpaksa menyelamatkan diri. Situasi ini sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka dan memerlukan perhatian serius.
Data per Maret 2026 menunjukkan bahwa total pekerja migran asal Jember mencapai 41.701 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.581 orang bekerja di wilayah Eropa dan Timur Tengah, sementara 35.887 orang di Asia dan Afrika, serta 233 orang di Amerika dan Pasifik.
Respons Pemerintah Kabupaten Jember
Menanggapi situasi yang berkembang, Bupati Jember, Muhammad Fawait, yang saat ini sedang menunaikan ibadah umrah, menyampaikan responsnya melalui pesan suara. Ia menyatakan komitmennya untuk berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
Koordinasi ini bertujuan untuk mengecek dan memantau kondisi pekerja migran asal Jember yang berada di wilayah konflik. Bupati Fawait menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau situasi terkini.
Pemerintah Kabupaten Jember berharap agar seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) asal Jember yang berada di kawasan tersebut tetap dalam kondisi aman. Koordinasi erat dengan KBRI akan terus dilakukan untuk memastikan perlindungan optimal bagi para pekerja migran.
Sumber: AntaraNews