Kapten Dwi Prasetyo Akui Tersulut Lihat Andrie Yunus Interupsi Revisi UU, Terlibat Penyiraman Air Keras Biar Kapok
Pengakuan itu muncul saat Oditur Militer menyoroti posisi Nandala sebagai terdakwa berpangkat tertinggi dibanding tiga terdakwa lain.
Kapten Nandala Dwi Prasetyo mengaku ikut mendukung aksi penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus agar korban kapok dan tidak mengulangi aksinya lagi di kemudian hari. Padahal, perwira paling senior di antara para terdakwa anggota BAIS itu sadar tindakan tersebut tidak pantas dilakukan anggota TNI.
"Setelah terdakwa satu menunjukan video tersebut saya merasa kesal dan pada saat itu dalam posisi memuncaknya emosi saya. Setelah itu saya ikut berjiwa korsa untuk sama-sama melaksanakan biar Andrie Yunus kapok,” kata Nandala di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Rabu (13/5).
Pengakuan itu muncul saat Oditur Militer menyoroti posisi Nandala sebagai terdakwa berpangkat tertinggi dibanding tiga terdakwa lain.
Oditur menilai Nandala seharusnya mencegah rencana penyerangan terhadap Andrie Yunus.
“Harusnya dicegah,” kata Oditur.
Namun Nandala mengaku ikut tersulut emosi setelah melihat video viral interupsi rapat revisi UU TNI di Hotel Fairmont. Video itu diperlihatkan Terdakwa I Sersan Dua Edi Sudarko di mess pada 11 Maret 2026.
“Di situ Andrie Yunus merasa berteriak-teriak menghentikan revisi undang-undang TNI. Saya nilai di situ dia tidak sopan, tidak beretika,” ujar Nandala.
Dalam persidangan terungkap Nandala tidak berada di Hotel Fairmont saat kejadian. Ia hanya mengetahui peristiwa itu dari video media sosial yang diperlihatkan Terdakwa I.
“Jadi mengetahui hanya dari media sosial yang ditunjukkan terdakwa satu?” tanya Oditur.
“Siap benar,” jawab Nandala.
Nandala juga mengakui mengetahui rencana pemukulan terhadap Andrie Yunus. Bahkan saat Terdakwa II Letnan Satu Budhi Hariyanto Widhi mengusulkan penyiraman, Nandala tidak menghentikan rencana tersebut.
“Saran terdakwa satu ingin menghajar dan memukul, setelah itu terdakwa dua menyarankan untuk disiram,” kata Nandala.
Oditur kemudian mencecar Nandala soal sikapnya sebagai senior. Sebab Nandala sendiri mengakui tindakan itu tidak pantas dilakukan prajurit TNI.
“Apakah kira-kira perbuatan itu pantas dilakukan oleh anggota TNI?” tanya Oditur.
“Siap tidak pantas,” jawab Nandala.
Alih-alih menghentikan, Nandala mengaku ikut mendukung aksi itu demi membuat Andrie Yunus jera. Oditur menilai pernyataan itu menunjukkan adanya tujuan dalam penyerangan.
“Di sini muncul tujuan nih, biar kapok,” kata Oditur.
“Siap,” jawab Nandala.