Harap-Harap Cemas Pekerja Ibu Kota Tunggu Giliran Kena PHK
Lutfian telah berkarir selama empat tahun di sebuah perusahaan skincare yang berasal dari Korea Selatan.
Suatu pagi di bulan April 2025, ponsel Lutfian Fikri bergetar menandakan adanya pesan masuk. Ketika membaca isi pesan tersebut, ia terdiam sejenak, merasakan dampak dari kabar yang diterimanya. Meskipun terasa pahit, ia akhirnya menerima kenyataan itu dengan pasrah. Tak banyak pilihan yang bisa diambilnya, selain mengikuti prosedur pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Saya alami itu pemanggilan dulu. Jadi pemanggilan one-on-one dengan Head of Marketing. Terus dibilangin kalau ada efisiensi," ungkap Lutfian saat berbincang pada Rabu (30/7).
Selama empat tahun, Lutfian bekerja di sebuah perusahaan skincare yang berasal dari Korea Selatan. Di akhir masa tugasnya, ia menjabat sebagai eksekutif media sosial dan bertanggung jawab atas tim kecil yang terdiri dari dua content creator dan dua desainer grafis.
"Jadi ada intern content creator dua orang sama 2 design graphics lah yang harus saya supervise. Terus saya juga handle QOL," jelasnya. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan karirnya meskipun harus berakhir dengan cara yang tidak terduga.
Sudah Persiapkan Diri Hadapi PHK
Sebagai anggota tim kreatif, ia sangat memahami arah kebijakan perusahaan. Ketika rekan-rekannya di divisi mulai dicoret satu per satu sejak akhir 2024, ia pun mulai mempersiapkan diri.
"Efisiensi itu yang emang bertahap sih. Jadi emang kalau ada isu dan juga ada sesuatu itu pasti dari mulut ke mulut itu pasti langsung kedengeran jelas lah. Dan di akhir percakapan juga dikabarin kalau misalkan salah satu yang kena efisiensi itu saya sendiri," ujarnya.
Isu pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menyebar di ruang kantor yang sempit itu, menciptakan suasana mendadak sunyi. Kantor yang hanya memiliki 15 karyawan itu kembali mengambil keputusan untuk merampingkan tim. Ia dan empat rekannya terdaftar sebagai yang terkena pemutusan kerja pada awal April 2025.
Ketika berita tersebut sampai kepadanya, ia tidak merasa terlalu terkejut. Namun, tetap ada rasa cemas yang sulit untuk diabaikan.
"Karena emang ini kebijakan dari perusahaan kita enggak bisa pungkirin hal tersebut," tuturnya. Dari total 15 karyawan di kantor Jakarta, sepertiga di antaranya harus pergi.
Lutfian merasa beruntung karena ia masih mendapatkan pesangon. "Alhamdulillah dari perusahaan dapet sih (pesangon) sesuai dengan UU yang berlaku di Indonesia," katanya. Meskipun situasi ini sulit, ia mencoba untuk tetap optimis dan bersyukur atas apa yang masih dimiliki.
Sulit Cari Kerja
Setelah badai pemutusan hubungan kerja melanda perusahaannya, Lutfian kembali membuka laptopnya. Ia mulai mengirimkan curriculum vitae ke berbagai perusahaan. Beberapa di antaranya memberikan tanggapan, bahkan ada yang mengundangnya untuk wawancara. Namun, semua proses tersebut terhenti sebelum mencapai tahap penawaran.
"Banyak yang sudah saya lamar, ada yang sampai HR atau user tapi belum ada yang sampai tahap offering letter," jelasnya.
Tanpa terasa, setahun telah berlalu. Ia mengakui bahwa mencari pekerjaan baru sangatlah sulit, dan ia merasakannya sendiri. Meskipun pemerintah pernah berjanji untuk menyediakan 19 juta lapangan kerja, kenyataannya tampak seperti sebuah janji kosong.
"Udah lebih dari setahun itu saya amati itu lumayan cukup susah juga untuk cari kerja juga. Dan juga saya alami juga sendiri," ungkapnya.
Namun, kehidupan harus tetap berjalan. Saat ini, Lutfian mengandalkan penghasilan dari pekerjaan freelance untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ia berharap bahwa ke depannya, ekonomi Indonesia akan semakin membaik, sehingga angka pengangguran dapat berkurang.
"Mungkin itu salah satunya kenapa perusahaan juga sulit cari pekerjaan mungkin dari demand dari pencari kerjanya yang untuk istilahnya gajinya yang offeringnya terlalu tinggi dan juga sebagian mungkin salah satunya itu sih penyebabnya," tuturnya.