Cerita Fia, Lima Tahun Sejak Lulus Kuliah Tak Kunjung Diterima Kerja
Fia sudah mati rasa terhadap kesempatan kerja di Indonesia.
"Tring,," bunyi notifikasi lowongan pekerjaan muncul di ponsel milik Fia. Setiap jam, tak henti-hentinya dia berselancar pada platform informasi lowongan pekerjaan, dan meng-klik tombol "apply" pada setiap perusahaan.
Namun usaha itu seperti tak ada jejaknya, nihil. Dia juga cukup gigih mendatangi tempat yang menyelenggarakan bursa kerja (job fair). Meski dalam benaknya, dia sudah cukup putus asa dengan kegiatan job fair seperti itu.
"Jujur pas liat banyak orang di job fair itu rasanya mau balik ke rumah saja, karena benar-benar banyak orang yang antri. Tapi karena sudah terlanjur bawa lamaran mau gimana lagi," kata Fia kepada merdeka.com.
Rasa pesimis Fia seperti diaminkan semesta alam. Dari sekian banyak surat lamaran yang disebar ke beberapa stan perusahaan, berjam-jam mengantre, tak ada satupun perusahaan yang menghubunginya dan menyampaikan kabar baik jika dia diterima.
Sikap perusahaan di Indonesia pun seringkali membuatnya jengkel dengan kalimat normative "nanti tunggu dua minggu lagi untuk kabar selanjutnya. Setelah itu ghosting, enggak ada kabar apapun," ungkapnya.
"Saya lebih suka ketika HR followup kalau saya enggak diterima atau enggak cocok setelah diwawancara karena itu bikin lega dan rasa stressnya tuh kurang daripada saya harus nebak-nebak nunggu-nunggu kabar."
Setelah melakukan wawancara, Fia berusaha mengingat Kembali bagaimana proses wawancara itu terjadi, sebagai bahan evaluasi, barangkali cara menjaab atau merespons interviewer tidak cukup ideal. Namun, usaha maksimal itu bahkan membuatnya jenuh.
Putus Asa hingga Menjadi Serabutan
Perempuan berusia 27 tahun itu sudah mati rasa terhadap kesempatan kerja di Indonesia. Sejak lulus kuliah tahun 2020 dengan bidang ilmu komunikasi, hingga tahun 2025 tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Fia ingin menyerah mendapatkan kerja di Indonesia. Ia ingin menyusul sang ibu yang berada di Malaysia sebagai dokter gigi.
"Sempat mau kerja di Malay, tapi Malay sekarang-sekarang ini sedang mengurangi pekerja immigrant. Karena kebanyakan yang kerja di Malaysia itu justru bukan warganegara Malaysia sendiri tapi WNA," terangnya.
Lamanya masa Fia menganggur bukan menunjukan dia sebagai pribadi pemilih kerja. "Apa aja saya apply selama bisa menghasilkan uang, pekerjaan dengan syarat pendidikan SMA juga saya apply," ungkapnya dengan rasa frustrasi.
Kegigihan Fia agar bisa bekerja tanpa pilih-pilih dibuktikan saat dia melamar kerja di Malaysia sebagai tukang bersih-bersih. Meski dia memiliki gelar sarjana, realita hidup tak mau membuatnya terbatas untuk memiliki pendapatan.
"Ribetnya tuh dari Indonesia pas urus visanya kadang ditanya-tanya seakan-akan kita enggak cinta negara sendiri padaha di Indonesia sendiri saja cari kerja susahnya Nauzubillah," ujar Fia kesal.
Selagi melanjutkan hidup, Fia menjadi pekerja serabutan. Dia pernah bekerja paruh waktu hanya tiga bulan sebagai penulis lepas. Sayangnya, kontrak Fia tidak diperpanjang.
Kondisi Fia saat ini tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai angka pengangguran di Indonesia. Berdasarkan data per Februari 2025, angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,76 persen, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,82 persen.