Tips Hadapi PHK: Dari Dana Darurat hingga Bisnis Sendiri
Kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan semakin nyata bagi banyak karyawan.
Hingga Maret 2025, badai pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menghantam dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Data terbaru dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). mencatat, lebih dari 50 ribu buruh telah kehilangan pekerjaan mereka.
Presiden KSPI, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa gelombang PHK ini merupakan dampak lanjutan dari kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memberlakukan tarif masuk baru sebesar 32 persen terhadap berbagai produk impor ke AS. Kebijakan ini, menurut Said, memukul keras sektor-sektor industri yang bergantung pada pasar ekspor ke Amerika.
"Industri tekstil, garmen, sepatu, elektronik, makanan dan minuman, serta sektor sawit, karet, dan tambang adalah yang paling rentan. Kami perkirakan dalam tiga bulan setelah kebijakan tarif ini diberlakukan, akan ada tambahan 50 ribu buruh lagi yang terkena PHK," kata Said.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2025, mencapai 7,28 juta jiwa. Jumlah ini meningkat sekitar 83 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya.
Di tengah ketidakpastian ini, kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan semakin nyata bagi banyak karyawan. Namun, para pekerja tidak harus menunggu sampai gelombang PHK menyapa. Ada sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dan menghadapi kemungkinan terburuk.
Perbarui Resume dan Portofolio
Salah satu langkah paling praktis adalah menyiapkan diri dengan memperbarui CV dan portofolio. Pastikan semua pengalaman kerja, pencapaian, dan keterampilan ditulis dengan jelas dan menarik. Portofolio yang berisi proyek besar atau kerja sama dengan klien ternama akan menjadi nilai lebih di mata perekrut.
Perluas Jaringan Profesional
Jaringan bukan sekadar jumlah kontak di LinkedIn. Relasi yang aktif dan saling mendukung bisa membuka peluang kerja, proyek baru, bahkan usaha bersama. Hadiri seminar, workshop, dan komunitas industri untuk memperluas koneksi.
Ikuti Pelatihan dan Pengembangan Diri
Jika selama ini rutinitas kerja membatasi pengembangan diri, ini saatnya meluangkan waktu untuk kursus, webinar, atau pelatihan. Keterampilan seperti public speaking, analisis data, atau manajemen proyek bisa meningkatkan daya saing di pasar kerja.
Siapkan Dana Darurat
Tak kalah penting adalah memiliki dana darurat. Idealnya, dana ini mencakup 6 bulan pengeluaran untuk lajang, 9 bulan untuk yang sudah menikah, dan 12 bulan bagi yang sudah menikah dan memiliki anak. Dana ini bisa menjadi penyangga hidup saat belum mendapatkan penghasilan baru.
Mulai Bisnis Sendiri
Jika sudah jenuh menjadi karyawan, membuka bisnis bisa menjadi jalan baru. Mulailah dari usaha kecil, seperti dropshipping atau menjual produk buatan sendiri. Dunia digital membuka banyak peluang usaha dengan modal terbatas.