Bahaya Laten Pengangguran: Emosional, Tertutup dan Kehilangan Percaya Diri
Makna pekerjaan rupanya begitu penting dalam kehidupan bersosial. Jika bertemu orang pertama kali, pekerjaan kerap yang ditanyakan lebih dahulu.
Status pengangguran sudah pasti mengganggu stabilitas keuangan seseorang. Namun, tidak hanya itu Dampak lainnya adalah bisa mempengaruhi kondisi emosional hingga hubungan sosial seorang individu.
Survei terbaru dari perusahaan perjodohan Tawkify mengungkapkan bahwa 38 persen orang dewasa menjadi lebih tertutup secara emosional selama masa pengangguran. Temuan ini menyoroti aspek psikologis dari pengangguran yang sering kali terabaikan, khususnya dalam konteks kehidupan sosial dan hubungan pribadi.
Dikutip dari CNBC, Rabu (14/1), survei yang melibatkan lebih dari 1.000 responden dewasa di Amerika Serikat ini mengkaji dampak kehilangan pekerjaan terhadap kehidupan kencan, baik pada tahap kencan pertama maupun hubungan jangka panjang.
Banyak responden mengaku membatalkan kencan karena keterbatasan finansial, merasa ragu untuk memulai hubungan baru, bahkan menarik diri secara emosional dari pasangan atau calon pasangan. Peneliti senior Kinsey Institute untuk riset seks dan hubungan, Justin Lehmiller, menilai hasil survei tersebut bukanlah hal yang mengejutkan.
Lehmiller bahkan memperkirakan bahwa angka orang yang menutup diri secara emosional selama masa pengangguran bisa lebih tinggi. Dalam pandangannya, dalam budaya masyarakat modern, terutama di Amerika Serikat, pekerjaan sering kali menjadi tolok ukur utama nilai diri seseorang.
"Jika Anda memikirkan pertanyaan pertama yang diajukan seseorang saat bertemu Anda," kata Lehmiller, "seringkali pertanyaannya adalah, 'Apa pekerjaan Anda?'" Ini menunjukkan betapa pentingnya pekerjaan dalam membentuk pandangan orang lain terhadap kita.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat Steven Vallas, profesor emeritus sosiologi dari Northeastern University, yang menyatakan bahwa pekerjaan merupakan sarana utama bagi individu untuk mendapatkan rasa hormat dan pengakuan sosial. Ketika pekerjaan hilang, dampaknya tidak hanya pada penghasilan, tetapi juga pada rasa percaya diri dan identitas personal seseorang.
"Di AS, pekerjaan adalah satu-satunya cara terpenting untuk membuktikan nilai diri" sebagai seorang individu, kata Steven Vallas, profesor emeritus sosiologi di Northeastern University.
Rasa Malu dan Cemas Perburuk Emosional
Lehmiller menyatakan bahwa makna sosial yang kuat dari pekerjaan dapat "benar-benar memperparah perasaan malu dan kecemasan akibat pengangguran." Hal ini menciptakan tantangan bagi banyak individu untuk bersikap terbuka, jujur, dan rentan secara emosional, yang merupakan elemen penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Sebagai akibatnya, banyak orang merasa terpaksa untuk menjauh dari kehidupan sosial dan percintaan mereka. Keputusan ini tidak diambil karena kurangnya keinginan untuk berinteraksi, tetapi lebih disebabkan oleh tekanan psikologis yang belum dikelola dengan baik.
Tak Masalah Seseorang Pilih Istirahat dari Kencan saat Menganggur
Menghadapi situasi ini, para pakar berpendapat bahwa mengambil jeda dari dunia kencan tidaklah menjadi hal yang keliru. Lehmiller merekomendasikan agar individu yang sedang tidak bekerja memberikan waktu bagi diri mereka untuk memulihkan kesehatan mental.
Dan Space, seorang mantan praktisi SDM di berbagai perusahaan besar, juga menyarankan agar seseorang sesekali menghentikan pemikiran tentang lamaran kerja dan menikmati aktivitas sederhana yang bisa menjadi pelarian emosional, seperti menonton film atau bersantai di rumah.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa beristirahat dari kencan tidak berarti sepenuhnya menutup diri. Dukungan dari keluarga dan teman tetap menjadi elemen penting dalam menjaga kesehatan mental selama masa pengangguran.
"Kemampuan untuk bersandar pada keluarga dan teman sangatlah penting," ungkap mereka. Oleh karena itu, penting untuk tetap terhubung dengan orang-orang terkasih meskipun sedang menghadapi tantangan dalam karier.