Enam Desa di Sindue Donggala Terdampak Banjir, BPBD Sulteng Lakukan Penanganan Cepat
Banjir Donggala melanda enam desa di Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. BPBD Sulteng segera bergerak atasi dampak, pastikan tidak ada korban jiwa dan kerugian dapat diminimalisir.
Banjir bandang melanda enam desa di Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada Minggu (11/1). Curah hujan dengan intensitas tinggi sejak pagi hari menjadi pemicu utama meluapnya debit air sungai di wilayah tersebut, menyebabkan sejumlah infrastruktur vital terganggu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah telah melaporkan kejadian ini dan langsung melakukan koordinasi penanganan.
Desa-desa yang terdampak meliputi Desa Amal Dusun Maliko, Toaya, Kumbasa, Enu, Lero, dan Sumari. Meskipun bencana ini menyebabkan kerusakan signifikan pada akses jalan dan jembatan, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Sulteng, Asbudianto, memastikan tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun warga yang mengungsi. Tim gabungan segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pendataan dan penanganan awal.
Pemerintah daerah, melalui Bupati Donggala Vera Elena Laruni, telah menginstruksikan BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum setempat untuk segera mengerahkan alat berat. Langkah ini diambil guna mempercepat pembersihan material sisa banjir dan memperbaiki akses yang terputus. Penanganan darurat menjadi prioritas utama untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses dan bantuan yang diperlukan.
Dampak Kerusakan Infrastruktur Akibat Banjir Donggala
Banjir Donggala menyebabkan sejumlah kerusakan infrastruktur yang signifikan, terutama pada akses jalan dan jembatan. Di Desa Amal, akses jalan penghubung menuju Desa Saloya terputus akibat rusaknya duiker dan longsor, sehingga jalur alternatif via Desa Tibo harus digunakan. Kondisi ini tentu menghambat mobilitas warga dan distribusi logistik di wilayah tersebut.
Selain itu, jembatan gantung di Desa Kumbasa, yang merupakan penghubung penting antara Desa Sumari dan Kumbasa, tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Sementara itu, di Desa Enu, jalan penghubung Dusun 2 ke Dusun 4 juga tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat, menambah daftar panjang titik-titik yang terisolir.
Kerusakan juga terjadi di Desa Lero, di mana satu unit jembatan mengalami penggerusan pada area landasannya oleh arus sungai yang deras. Meskipun masih bisa dilewati kendaraan bermotor, kondisi ini memerlukan perhatian serius untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. BPBD Donggala masih terus melakukan pendataan kerusakan di Desa Toaya dan Sumari untuk mendapatkan gambaran lengkap.
Respons Cepat Pemerintah Daerah dan Kebutuhan Mendesak
Menyikapi dampak banjir Donggala, pemerintah daerah segera mengambil langkah responsif. Plt Kepala BPBD Sulteng Asbudianto menekankan pentingnya penanganan cepat untuk memulihkan kondisi di lokasi terdampak. Kebutuhan mendesak yang diidentifikasi antara lain pembuatan jembatan darurat dan pengerahan alat berat untuk membersihkan material sisa banjir.
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, telah memberikan instruksi tegas kepada BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) setempat untuk segera menurunkan alat berat. Tim BPBD Donggala telah bergerak cepat ke lapangan untuk melakukan penanganan di beberapa titik krusial. Kolaborasi antarinstansi ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan mitigasi risiko.
Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menanggulangi bencana alam dan memastikan keselamatan serta kenyamanan masyarakat. Fokus utama adalah memulihkan akses transportasi dan memastikan tidak ada warga yang terisolir terlalu lama. Koordinasi yang baik antara BPBD provinsi dan kabupaten menjadi kunci keberhasilan penanganan darurat ini.
Banjir Serupa di Wilayah Lain Donggala
Selain Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala juga menghadapi bencana serupa di wilayah lain. Banjir sebelumnya dilaporkan menerjang empat desa di Kecamatan Tanantovea. Desa-desa tersebut adalah Desa Wani 1, Wani 2, Wani 3, dan Wani Lumbumpetigo. Kejadian ini menambah daftar panjang wilayah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi di Donggala.
Dampak banjir di Kecamatan Tanantovea juga tidak kalah parah, dengan empat unit rumah warga dilaporkan hanyut terbawa arus. Selain itu, satu jembatan penting di wilayah tersebut juga putus, semakin memperparah kondisi aksesibilitas. Kejadian berulang ini menggarisbawahi perlunya upaya mitigasi jangka panjang dan kesiapsiagaan bencana yang lebih baik.
Pola cuaca ekstrem yang menyebabkan hujan intensitas tinggi menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur dan sistem drainase perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko banjir di masa mendatang. Edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana juga menjadi bagian penting dari upaya penanggulangan.
Sumber: AntaraNews