Banjir Donggala Rendam Ratusan Rumah di Sirenja dan Balaesang, BPBD Sulteng Bergerak Cepat

Banjir Donggala melanda Kecamatan Sirenja dan Balaesang, Sulawesi Tengah, menyebabkan 552 rumah terdampak. BPBD Sulteng bergerak cepat untuk penanganan dan mitigasi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Banjir Donggala Rendam Ratusan Rumah di Sirenja dan Balaesang, BPBD Sulteng Bergerak Cepat
Banjir Donggala melanda Kecamatan Sirenja dan Balaesang, Sulawesi Tengah, menyebabkan 552 rumah terdampak. BPBD Sulteng bergerak cepat untuk penanganan dan mitigasi. (AntaraNews)

Banjir melanda dua kecamatan di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (3/4) sore. Sebanyak 552 unit rumah warga dilaporkan terdampak akibat peristiwa ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah segera melakukan pendataan dan koordinasi untuk penanganan lebih lanjut.

Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sepanjang siang hingga sore hari. Curah hujan yang tinggi menimbulkan terjadinya luapan air dari sungai, menjadi pemicu utama genangan yang merendam permukiman warga. BPBD Sulteng dan pemerintah daerah berupaya sigap menanggulangi dampak banjir.

Kecamatan Sirenja dan Balaesang menjadi lokasi terparah yang dilanda banjir. Meskipun air dilaporkan telah surut, kebutuhan mendesak seperti alat berat untuk normalisasi sungai sangat diperlukan. Pihak berwenang memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini dan jumlah pengungsi masih dalam tahap pendataan.

Dampak dan Sebaran Banjir Donggala

Banjir yang terjadi di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, telah menyebabkan kerusakan signifikan pada permukiman warga. Total 552 unit rumah dilaporkan terendam air di dua kecamatan berbeda. Dampak ini tersebar di beberapa desa yang padat penduduk, menunjukkan skala luas dari bencana.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Asbudianto, menjelaskan detail lokasi terdampak. Ia menyebutkan, "Rumah terendam itu mencapai 522 unit yang tersebar di Desa Balentuma, Tompe, Lompio, Tanjung Padang, Dampal, Tondo dan Lende Tovea". Selain rumah warga, SDN 3 Lende Tovea serta kantor desa juga ikut terendam banjir.

Sementara itu, di Kecamatan Balaesang, sebanyak 30 rumah di Desa Labean juga tidak luput dari genangan air. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar dampak banjir terkonsentrasi di Kecamatan Sirenja. BPBD Sulteng terus memantau kondisi dan melakukan pendataan lebih lanjut terhadap seluruh wilayah terdampak.

Penyebab dan Kebutuhan Mendesak Penanganan Banjir

Banjir di Donggala dipicu oleh intensitas hujan yang sangat tinggi sejak siang hingga sore hari. Curah hujan ekstrem ini menyebabkan debit air sungai meningkat drastis. Akibatnya, sungai tidak mampu menampung volume air dan meluap ke permukiman warga, merendam ratusan rumah.

Asbudianto juga menyampaikan kebutuhan mendesak untuk penanganan pasca-banjir. "Untuk kebutuhan mendesak di wilayah Sirenja berupa alat berat dan normalisasi sungai," kata Asbudianto. Normalisasi sungai sangat penting guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang dan mengembalikan fungsi sungai.

Di Kecamatan Balaesang, kebutuhan yang diidentifikasi adalah pembuatan bronjong dan drainase. Infrastruktur ini krusial untuk mengendalikan aliran air dan mengurangi risiko banjir di kemudian hari. BPBD Sulteng terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memenuhi kebutuhan tersebut secepatnya demi pemulihan wilayah.

Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian banjir ini, jumlah pengungsi masih dalam tahap pendataan. Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan menyediakan bantuan darurat yang memadai. Upaya mitigasi jangka panjang juga menjadi fokus pemerintah daerah.

Respons Cepat dan Koordinasi Pemerintah Daerah

BPBD Sulteng dan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Kabupaten Donggala terus berkoordinasi secara intensif. Langkah-langkah penanganan banjir dilakukan secara terpadu untuk memastikan efektivitas bantuan dan pemulihan. Kolaborasi antarinstansi ini sangat penting dalam menghadapi situasi darurat bencana.

Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, juga telah mengambil tindakan cepat merespons bencana ini. Ia segera memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum untuk berkoordinasi dengan BPBD setempat. Tujuannya adalah pengerahan alat berat ke lokasi banjir di wilayah Sirenja guna mempercepat penanganan.

Vera Elena Laruni menekankan pentingnya penggunaan alat berat meskipun air telah surut. "Memang laporan yang masuk, hujan sudah berhenti dan air telah surut tapi penggunaan alat berat di Sirenja penting," ujarnya. Hal ini bertujuan untuk normalisasi sungai dan pencegahan banjir di masa depan secara berkelanjutan.

Upaya normalisasi sungai diharapkan dapat meminimalisir risiko banjir berulang di wilayah tersebut. Pemerintah daerah berkomitmen untuk melakukan langkah-langkah mitigasi jangka panjang serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Koordinasi antar instansi menjadi kunci keberhasilan penanganan bencana di Donggala.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi