BPBD Sulteng Catat 77 Jiwa Terdampak Banjir Pagimana di Banggai
Curah hujan tinggi memicu Banjir Pagimana di Desa Uwedaka, Banggai, mengakibatkan 77 jiwa terdampak dan puluhan rumah terendam. Simak detail penanganan dan imbauan BPBD.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah (Sulteng) melaporkan bahwa sebanyak 77 jiwa terdampak bencana banjir di Desa Uwedaka, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai. Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Jumat (15/5) sore, menyebabkan drainase meluap dan merendam permukiman warga.
Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Asbudianto, menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi menjadi penyebab utama meluapnya drainase. Air kemudian masuk ke permukiman warga di Dusun I dan Dusun II, mengakibatkan kerugian materiil bagi penduduk setempat.
Meskipun tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengungsi, sejumlah rumah terendam dan masyarakat kini fokus membersihkan sisa material banjir. BPBD Sulteng bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Banggai telah bergerak cepat melakukan asesmen di lokasi kejadian.
Dampak dan Asesmen Banjir di Pagimana
Hujan deras pada Jumat sore di wilayah Pagimana menyebabkan drainase tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis. Akibatnya, luapan air merendam rumah-rumah warga, khususnya di Dusun I dan Dusun II Desa Uwedaka. Kondisi ini menunjukkan kerentanan infrastruktur drainase terhadap curah hujan ekstrem.
Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh BPBD Sulteng dan TRC BPBD Kabupaten Banggai, tercatat sebanyak 21 rumah terdampak banjir. Rinciannya adalah 11 rumah di Dusun I dan 10 rumah di Dusun II, menunjukkan sebaran dampak yang cukup merata di kedua dusun tersebut. Data ini menjadi dasar penting untuk perencanaan bantuan dan rehabilitasi selanjutnya.
Dari total 77 jiwa yang terdampak, 44 jiwa berada di Dusun I, termasuk lima orang lanjut usia (lansia) dan empat balita. Sementara itu, 33 jiwa lainnya terdampak di Dusun II, yang mencakup enam orang lansia dan dua balita. Angka ini menyoroti bahwa kelompok rentan seperti lansia dan balita juga menjadi bagian dari korban yang perlu diperhatikan dampak Banjir Pagimana.
Meskipun air banjir sudah surut, warga masih sibuk membersihkan sisa lumpur dan material yang terbawa arus ke dalam rumah mereka. Proses pembersihan ini memerlukan waktu dan tenaga ekstra, menunjukkan bahwa dampak banjir tidak hanya berhenti saat air surut, tetapi berlanjut ke tahap pemulihan.
Upaya Penanganan dan Imbauan Kewaspadaan
BPBD Sulteng dan TRC BPBD Kabupaten Banggai telah berkoordinasi erat dengan pemerintah desa setempat untuk menangani dampak bencana banjir ini. Kolaborasi ini penting untuk memastikan respons yang cepat dan tepat sasaran, serta untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak masyarakat yang terdampak.
Asbudianto menyatakan bahwa kebutuhan mendesak di lokasi terdampak saat ini meliputi pembangunan plat duiker serta pelebaran dan peninggian drainase. Langkah-langkah ini krusial untuk mengurangi risiko terjadinya banjir serupa di masa mendatang, terutama mengingat potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi di wilayah yang rawan Banjir Pagimana.
Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat melanda wilayah Kabupaten Banggai dalam beberapa waktu ke depan. Peringatan dini dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam.
Edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan juga relevan untuk mencegah penyumbatan drainase. Dengan demikian, upaya mitigasi tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi risiko Banjir Pagimana.
Sumber: AntaraNews