Banjir Balantak Utara Rendam 22 Rumah, BPBD Sulteng Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem
Hujan deras picu banjir di Balantak Utara, Banggai, merendam 22 rumah warga dan dua rumah ibadah. BPBD Sulteng terus berkoordinasi dan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Banjir melanda Desa Batu Mandi, Kecamatan Balantak Utara, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, pada Minggu (29/3), menyebabkan sedikitnya 22 rumah warga terdampak. Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah pegunungan di kecamatan tersebut. Akibatnya, sungai meluap hingga air masuk ke permukiman warga dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) segera melaporkan kejadian ini dan melakukan koordinasi penanganan darurat. Plt. Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Asbudianto, memastikan tim telah turun ke lokasi untuk melakukan pendataan dan asesmen. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada mengingat potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi.
Dampak banjir ini tidak hanya merusak puluhan rumah, tetapi juga menyebabkan beberapa keluarga harus mengungsi secara mandiri. Kerugian material lainnya juga tercatat, termasuk kerusakan pada fasilitas umum. BPBD Sulteng terus memantau situasi dan berupaya memenuhi kebutuhan mendesak bagi para korban.
Dampak dan Kerugian Akibat Banjir Balantak Utara
Banjir yang menerjang Desa Batu Mandi menyebabkan dampak signifikan bagi masyarakat setempat. Berdasarkan laporan sementara, sebanyak 22 rumah warga terdampak, dengan dua di antaranya mengalami kerusakan sedang. Selain itu, dua bangunan rumah ibadah, yaitu gereja, serta satu kantor desa juga turut terendam banjir dan mengalami kerusakan.
BPBD Sulteng juga mencatat bahwa tiga Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi secara mandiri ke tempat yang lebih aman untuk menghindari dampak lebih lanjut dari banjir. Meskipun demikian, pendataan mengenai korban jiwa masih terus dilakukan oleh tim di lapangan. Situasi ini menunjukkan perlunya penanganan cepat dan terkoordinasi untuk membantu warga yang terdampak.
Ketinggian air yang mencapai lutut orang dewasa di permukiman warga mengindikasikan seberapa parah luapan sungai akibat curah hujan tinggi di wilayah hulu. Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu dan menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit. Penilaian lebih lanjut mengenai kerugian masih terus dilakukan oleh pihak berwenang.
Upaya Penanganan dan Koordinasi BPBD
Menanggapi bencana banjir ini, BPBD Sulteng segera mengambil langkah-langkah penanganan darurat. Pihaknya berkoordinasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Poso yang langsung bergerak menuju lokasi setelah menerima informasi kejadian. Koordinasi juga dilakukan dengan aparat desa setempat untuk memastikan penanganan berjalan efektif.
“Tim sudah turun ke lokasi untuk melakukan pendataan dan koordinasi penanganan darurat bersama pemerintah desa,” kata Plt. Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Asbudianto. Upaya ini bertujuan untuk mengumpulkan data akurat mengenai jumlah korban dan tingkat kerusakan, yang menjadi dasar perencanaan bantuan dan rehabilitasi selanjutnya.
Proses asesmen di lokasi banjir sangat penting untuk memahami skala bencana dan menentukan prioritas penanganan. BPBD memastikan bahwa kondisi terkini di lokasi kejadian telah berangsur kondusif, namun tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Langkah-langkah preventif juga mulai dipertimbangkan untuk mengurangi risiko banjir susulan.
Kebutuhan Mendesak dan Imbauan Waspada
Untuk penanganan pascabencana, BPBD Sulteng mengidentifikasi beberapa kebutuhan mendesak. Bantuan logistik penanggulangan bencana menjadi prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak. Selain itu, material bangunan seperti papan dan balok kayu sangat diperlukan untuk perbaikan rumah yang rusak.
Pembangunan bronjong sepanjang sekitar 300 meter juga diusulkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi banjir susulan di masa mendatang. Bronjong ini diharapkan dapat memperkuat tebing sungai dan mencegah luapan air kembali merendam permukiman warga.
Meskipun kondisi di lokasi telah berangsur kondusif, BPBD tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Perubahan iklim yang tidak menentu dapat menyebabkan hujan deras kembali terjadi, sehingga kesiapsiagaan masyarakat sangat dibutuhkan. Informasi terkini mengenai perkembangan cuaca akan terus disampaikan oleh pihak berwenang.
Sumber: AntaraNews