BPBD Grobogan Sigap Tangani Banjir, Ribuan Keluarga Terdampak di 16 Desa
Banjir Grobogan melanda 16 desa di lima kecamatan, menyebabkan ribuan keluarga terdampak. BPBD Grobogan bergerak cepat, namun warga diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, bergerak cepat menanggulangi dampak banjir yang melanda wilayah tersebut. Bencana ini telah memengaruhi 3.176 keluarga di 16 desa yang tersebar di lima kecamatan. Banjir terjadi pada Kamis malam (2 April) setelah hujan deras mengguyur dari sore hingga malam hari.
Kepala BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, menjelaskan bahwa luapan Sungai Tuntang, Serang, dan Kliteh menjadi pemicu utama banjir. Kondisi ini menyebabkan genangan air di sejumlah titik permukiman warga. Tim gabungan telah dikerahkan untuk membantu penanganan di lokasi terdampak.
Respons cepat dilakukan dengan mengerahkan personel BPBD bersama relawan, warga, dan aparat setempat. Mereka bergotong royong mengatasi bencana yang mengganggu aktivitas masyarakat. Upaya penanganan terus dilakukan untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan warga.
Dampak Terparah Banjir Grobogan di Kedungjati dan Gubug
Kecamatan Kedungjati menjadi wilayah yang paling parah terdampak dalam insiden banjir Grobogan kali ini. Sebanyak 2.102 keluarga di sembilan desa mengalami genangan air dengan ketinggian antara 10 hingga 50 sentimeter. Kondisi ini menyebabkan gangguan signifikan pada kehidupan sehari-hari warga.
Selain genangan, banjir juga mengakibatkan kerusakan ringan pada 11 rumah penduduk. Beberapa rumah yang terdampak berada di Desa Ngombak dan Desa Kedungjati. Kerusakan ini menambah daftar kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat setempat.
Sementara itu, di Kecamatan Gubug, ketinggian air mencapai 60 sentimeter di dua desa. Sekitar 814 kepala keluarga di wilayah ini turut merasakan dampak banjir. BPBD terus memantau perkembangan situasi di kedua kecamatan tersebut.
Sejumlah Wilayah Lain Ikut Terendam Banjir Grobogan
Tidak hanya Kedungjati dan Gubug, Kecamatan Tegowanu juga tidak luput dari terjangan banjir Grobogan. Sekitar 200 rumah di Tegowanu terendam, bahkan memaksa sebuah sekolah dasar untuk menunda kegiatan belajar mengajar. Ini menunjukkan luasnya cakupan dampak banjir di Grobogan.
Di Kecamatan Tanggungharjo, luapan Sungai Kliteh memengaruhi 60 kepala keluarga di Desa Sugihmanik. Selain itu, arus lalu lintas di Desa Mrisi juga sempat terganggu akibat genangan air. BPBD berupaya memastikan akses jalan kembali normal.
Kecamatan Purwodadi juga mencatat dampak banjir, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Sekitar 100 meter ruas jalan di Desa Candisari terendam air setinggi 20-25 sentimeter. Pihak berwenang mengimbau pengguna jalan untuk berhati-hati saat melintas.
Respons Cepat BPBD dan Imbauan Kewaspadaan
Menanggapi situasi banjir Grobogan, BPBD telah menyiagakan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan di lokasi terdampak. Tim juga telah memulai upaya kolaboratif untuk memperkuat tanggul Sungai Tuntang di Desa Ringinharjo, Kecamatan Gubug. Langkah ini diambil untuk mencegah potensi luapan air lebih lanjut.
Wahyu Tri Darmawanto menambahkan bahwa sebagian besar genangan air telah surut, memungkinkan warga untuk kembali beraktivitas. Namun demikian, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Risiko hujan deras yang berkelanjutan masih ada, sehingga potensi banjir susulan tetap perlu diantisipasi.
BPBD Grobogan akan terus memantau kondisi cuaca dan ketinggian air sungai. Koordinasi dengan berbagai pihak terkait juga terus dilakukan untuk memastikan penanganan bencana berjalan efektif. Kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
Sumber: AntaraNews