BNPB Intensif Tangani Banjir Grobogan-Demak, Ribuan Rumah Terendam
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan penanganan intensif terhadap banjir Grobogan-Demak yang telah merendam ribuan rumah dan area persawahan selama hampir sepekan.
Banjir parah masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Grobogan dan Demak, Jawa Tengah, selama hampir sepekan terakhir. Ribuan rumah warga serta area persawahan dilaporkan terendam air akibat luapan sungai. Situasi ini menimbulkan kerugian materiil yang tidak sedikit bagi masyarakat setempat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah bergerak cepat dengan melakukan penanganan intensif untuk mengatasi dampak bencana ini. Petugas gabungan diterjunkan ke lokasi terdampak guna membantu evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak. Upaya ini dilakukan secara terkoordinasi dengan pemerintah daerah.
Sejak 15 Februari, banjir mulai merendam Grobogan dan Demak, dipicu oleh jebolnya tanggul sungai Tuntang yang tidak mampu menahan debit air tinggi. Pemerintah Kabupaten Grobogan bahkan telah menetapkan status tanggap darurat hingga 22 Februari 2026 untuk mempercepat respons.
Skala Dampak Banjir di Grobogan dan Demak
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan bahwa di Kabupaten Grobogan, sebanyak 10.061 keluarga dengan 9.736 unit rumah terdampak banjir sejak 15 Februari. Wilayah terparah yang masih terendam meliputi Kecamatan Tegowanu dan Kecamatan Godong, yang memerlukan penanganan khusus.
Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Demak, di mana BNPB mencatat 8.163 unit rumah terdampak bencana hidrometeorologi ini. Pemantauan visual tim reaksi cepat BNPB di lapangan menemukan area persawahan di Kebonagung, Plangwetan, dan Tlogosih masih terendam banjir. Kerugian sektor pertanian diperkirakan cukup besar.
Meluasnya genangan air ini telah menyebabkan terganggunya aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat secara signifikan. Banyak akses jalan terputus, menghambat distribusi bantuan serta mobilitas warga. Ribuan warga harus mengungsi atau bertahan di tengah genangan air yang tinggi, menunggu surutnya banjir.
Strategi Penanganan dan Pemulihan Pascabanjir
Pemerintah Kabupaten Grobogan telah merespons kondisi darurat ini dengan menetapkan status tanggap darurat yang berlaku aktif hingga 22 Februari 2026. Keputusan ini diambil untuk mempercepat penanganan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, termasuk penyediaan logistik dan fasilitas pengungsian.
BNPB memastikan pendampingan melekat kepada pemerintah daerah untuk membantu mengatasi dampak bencana hingga kondisi benar-benar pulih. Pendampingan ini mencakup koordinasi logistik, distribusi bantuan, dan dukungan teknis di lapangan, memastikan bantuan tepat sasaran.
Menurut Abdul Muhari, salah satu fokus utama penanganan adalah memasifkan upaya perbaikan tanggul yang jebol usai dihantam arus deras air luapan sungai Tuntang. Sejumlah alat berat telah dikerahkan untuk menutup titik-titik kerusakan pada tanggul.
Perbaikan tanggul ini krusial untuk mencegah meluasnya genangan banjir dan mempercepat surutnya air di wilayah Demak-Grobogan. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan aktivitas masyarakat kembali normal secepatnya, serta meminimalkan risiko banjir berulang di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews