Percepatan Penutupan Tanggul Sungai Tuntang di Demak Ditargetkan Selesai Tiga Hari

Wakil Gubernur Jawa Tengah memastikan percepatan penutupan tanggul Sungai Tuntang di Demak-Grobogan akan rampung dalam tiga hari, menanggapi jebolnya tanggul yang memutus jalur vital dan menimbulkan kerugian.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Percepatan Penutupan Tanggul Sungai Tuntang di Demak Ditargetkan Selesai Tiga Hari
Wakil Gubernur Jawa Tengah memastikan percepatan penutupan tanggul Sungai Tuntang yang jebol di Demak, menargetkan penyelesaian dalam tiga hari ke depan guna mengembalikan akses dan mencegah dampak lebih luas. (AntaraNews)

Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Taj Yasin Maimoen meninjau lokasi jebolnya tanggul Sungai Tuntang di perbatasan Demak dan Grobogan pada Rabu (18/2). Ia memastikan percepatan penutupan tanggul Sungai Tuntang tersebut ditargetkan selesai dalam tiga hari mendatang.

Jebolnya tanggul yang terjadi pada Senin (16/2) sore ini telah mengakibatkan terputusnya jalur provinsi Semarang-Grobogan. Bahkan, beton cor sepanjang 25 meter ikut terbawa arus air yang deras.

Kunjungan Wagub ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Gubernur sebelumnya, Ahmad Luthfi. Hal ini untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal dan langkah antisipatif menyeluruh segera dilakukan.

Saat meninjau progres perbaikan di Desa Kebonagung, Kecamatan Kebonagung, Demak, Wagub Taj Yasin Maimoen menyatakan optimisme. Ia menyebut, "Alhamdulillah, tinggal 2–3 hari lagi tanggulnya selesai," ujarnya. Target ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menangani bencana dengan cepat.

Selain fokus pada titik kerusakan, Wagub juga meminta pemerintah desa dan masyarakat aktif memantau kondisi tanggul. Pemantauan ini penting di sepanjang aliran Sungai Tuntang untuk mendeteksi potensi masalah. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat memperkuat sistem mitigasi bencana.

Menurutnya, banyak bagian tanggul memerlukan perawatan rutin agar tidak menimbulkan risiko baru. Terutama saat curah hujan tinggi yang dapat memicu kerusakan lebih lanjut. Perawatan preventif menjadi kunci untuk menjaga integritas tanggul.

"Kalau ada yang membahayakan, segera dilaporkan ke kami," tegasnya. Koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) akan dilakukan untuk mencegah jebolnya tanggul kembali saat hujan. Penanganan kali ini tidak semata memperbaiki kerusakan, tetapi juga langkah antisipatif di seluruh bentang tanggul.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Alam (OP SDA) IV BBWS Pemali Juana, Heri Santoso, menjelaskan upaya percepatan. Pihaknya telah memobilisasi sembilan alat berat untuk penutupan tanggul. Pengerahan alat berat ini menunjukkan keseriusan dalam penanganan darurat.

Alat-alat berat tersebut disebar di dua titik jebolnya tanggul. Lima alat berat, terdiri dari satu dozer dan empat ekskavator, berada di titik pertama. Empat ekskavator lainnya ditempatkan di titik kedua. Pembagian ini bertujuan untuk efisiensi dan kecepatan kerja.

BBWS juga menambah satu alat kecil khusus untuk normalisasi saluran irigasi di kaki tanggul. Ini untuk mendukung kelancaran aliran air dan stabilitas tanggul secara keseluruhan. Upaya ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam perbaikan.

Heri Santoso menargetkan penutupan tanggul selesai pada hari Jumat (20/2). Setelah itu, akan dilanjutkan dengan tahap penguatan tanggul menggunakan bronjong selama tujuh hari. Proses penguatan ini penting untuk memastikan daya tahan tanggul di masa mendatang.

BBWS Pemali Juana terus melakukan pengawasan ketat terhadap debit air Sungai Tuntang. Hal ini mengingat kondisi cuaca yang masih tergolong ekstrem di wilayah tersebut. Pemantauan intensif diperlukan untuk mengantisipasi potensi bahaya.

Pengendalian aliran Sungai Tuntang dilakukan melalui titik kontrol sesuai prosedur operasional standar (SOP). Salah satu titik kontrol penting berada di Bendung Gelapan. Mekanisme ini membantu dalam pengelolaan volume air.

Debit air yang masuk berasal dari Bancak maupun Rawapening. Meskipun Rawapening bisa ditutup sementara, debit terbesar sebenarnya berasal dari Bancak. Sumber air dari Bancak menjadi perhatian khusus dalam pengelolaan.

"Bancak belum memiliki kontrol poin buka-tutup debit," terang Heri. Ia menegaskan kondisi cuaca menjadi faktor krusial dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Kebutuhan logistik warga terdampak dilaporkan relatif aman.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi