Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, baru-baru ini dilanda banjir di sejumlah wilayah setelah hujan turun dengan intensitas tinggi. Peristiwa ini menyebabkan genangan air yang signifikan di permukiman warga, akses jalan utama, serta beberapa fasilitas umum. Kondisi ini sempat mengganggu aktivitas masyarakat dan lalu lintas di beberapa titik strategis.
Operator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop) BPBD Grobogan, Muhaimin, melaporkan bahwa banjir terjadi di beberapa kecamatan, termasuk Pulokulon, Toroh, dan Purwodadi. Genangan air bervariasi mulai dari puluhan sentimeter hingga mencapai setengah meter di beberapa lokasi. Meskipun demikian, sebagian besar wilayah yang terdampak banjir kini telah berangsur surut.
Pemerintah daerah melalui BPBD Grobogan terus memantau situasi dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Potensi cuaca ekstrem masih ada, sehingga risiko banjir susulan tetap menjadi perhatian serius bagi warga di wilayah rawan bencana. Tidak ada laporan korban jiwa akibat kejadian ini, namun kerugian material masih dalam pendataan.
Advertisement
Advertisement
Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kecamatan Pulokulon, khususnya di Desa Pojok. Banjir menggenangi Dusun Gade, Nambuhan, dan Jungkal, menyebabkan akses jalan dan beberapa rumah warga terendam. Ketinggian air di lokasi ini berkisar antara 30 hingga 60 sentimeter, cukup untuk mengganggu mobilitas harian penduduk setempat.
Muhaimin dari BPBD Grobogan menyatakan bahwa meskipun sempat parah, kondisi banjir di wilayah Pulokulon kini telah sepenuhnya surut. Warga secara bertahap mulai membersihkan sisa-sisa lumpur dan puing yang terbawa arus banjir. Upaya pemulihan pasca-banjir terus dilakukan untuk mengembalikan kondisi normal di desa-desa tersebut.
Advertisement
Di Kecamatan Toroh, banjir juga menyebabkan gangguan signifikan, terutama pada akses jalan utama Purwodadi–Solo di wilayah Mojolegi. Genangan air di ruas jalan ini sempat menghambat arus lalu lintas, memaksa pengendara untuk lebih berhati-hati atau mencari jalur alternatif. Gangguan ini berdampak pada kelancaran distribusi barang dan jasa.
Selain itu, Desa Katong di Kecamatan Toroh juga mengalami dampak banjir dengan genangan setinggi 20 hingga 25 sentimeter di akses Jalan Katong–Sedadi, tepatnya di Jembatan Katong. Banjir ini tidak hanya merendam jalan, tetapi juga memengaruhi sekitar 100 kepala keluarga (KK) di Dusun Jetis, Ngagrok, Kembangan, dan Katong. SD Negeri 2 Katong juga sempat terendam air setinggi 20 hingga 50 sentimeter.
Berkat upaya penanganan cepat dan surutnya air secara alami, kondisi banjir di seluruh wilayah Kecamatan Toroh kini telah kembali normal. Masyarakat setempat dapat kembali beraktivitas seperti biasa, meskipun tetap diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di masa mendatang.
Advertisement
Advertisement
Kecamatan Purwodadi, sebagai pusat kabupaten, juga tidak luput dari terjangan banjir. Sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman di Kelurahan Purwodadi tergenang air, antara lain Jalan R. Suprapto, Jalan Kartini, Jalan Arjuna, serta kawasan Alun-Alun Purwodadi. Perumahan RSS, Jalan Untungsuropati/Plendungan, Lingkungan Cebok, dan Perumahan Permata Hijau Kalongan juga menjadi lokasi terdampak.
Ketinggian air di Purwodadi bervariasi antara 20 hingga 30 sentimeter di sebagian besar lokasi, namun di Perumahan Permata Hijau Kalongan, genangan mencapai sekitar 50 sentimeter. Kondisi ini sempat menyulitkan warga untuk beraktivitas dan mengancam kerusakan pada properti mereka.
Selain itu, Desa Candisari di Kecamatan Purwodadi juga mengalami banjir di Jalan Danyang–Pengkol, tepatnya di sebelah timur Jembatan Serang Candisari, dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter. Berita baiknya, menurut Muhaimin, seluruh genangan di wilayah Kecamatan Purwodadi kini telah surut.
Advertisement
Advertisement
Meskipun kondisi Banjir Grobogan telah surut di sebagian besar wilayah, BPBD Grobogan tetap mengeluarkan imbauan penting kepada masyarakat. "Tidak ada laporan korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Warga diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi," kata Muhaimin.
Masyarakat diharapkan untuk selalu memantau informasi cuaca dari sumber resmi dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan cuaca buruk. Kesiapsiagaan dini sangat penting untuk meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam seperti banjir. Koordinasi antara warga dan pihak berwenang diharapkan dapat terus terjalin dengan baik.
Sumber: AntaraNews
Advertisement