BPBD Data Dampak Banjir Rob di Buol dan Banggai Laut, Puluhan Rumah Terendam
BPBD Sulteng bergerak cepat mendata dampak banjir rob yang melanda Buol dan Banggai Laut, menyebabkan puluhan rumah terendam dan warga mengungsi mandiri. Simak kebutuhan mendesak dan langkah penanganan pasca bencana.
Banjir rob kembali menerjang wilayah pesisir di Kabupaten Buol dan Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, pada Sabtu (18/4). Peristiwa ini memicu respons cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah yang segera melakukan koordinasi dan pendataan dampak di lapangan. Gelombang pasang air laut yang tinggi menjadi pemicu utama genangan air yang merendam permukiman warga di dua kabupaten tersebut.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Asbudianto, menjelaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Buol dan Banggai Laut untuk segera melakukan asesmen. Pendataan ini vital untuk mengetahui secara pasti jumlah rumah yang terdampak serta mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh masyarakat. Langkah proaktif ini bertujuan memastikan penanganan bencana dapat dilakukan secara efektif dan tepat sasaran.
Dampak banjir rob ini menyebabkan puluhan rumah terendam dan sejumlah warga terpaksa mengungsi secara mandiri ke tempat yang lebih aman. Meskipun kondisi mulai berangsur kondusif, BPBD tetap mengimbau masyarakat di wilayah pesisir untuk selalu waspada terhadap potensi gelombang pasang susulan. Kewaspadaan dini sangat penting untuk meminimalkan risiko dan kerugian lebih lanjut akibat bencana alam ini.
Dampak Banjir Rob di Kabupaten Buol
Di Kabupaten Buol, banjir rob dilaporkan melanda dua desa di Kecamatan Lakea, yakni Desa Lakea I dan Desa Ngune. Berdasarkan laporan awal yang diterima BPBD, lima unit rumah warga di Desa Lakea I mengalami genangan air cukup tinggi. Kondisi ini memerlukan perhatian serius untuk memastikan keselamatan penghuni dan aset mereka.
Sementara itu, di Desa Ngune, dampak banjir rob jauh lebih signifikan dengan sekitar 50 unit rumah tercatat terdampak. Genangan air yang merendam puluhan rumah ini memaksa 50 kepala keluarga (KK) atau sekitar 150 jiwa untuk mengungsi. Mereka memilih mengungsi secara mandiri ke rumah-rumah kerabat yang berada di lokasi lebih aman, menunjukkan kesadaran masyarakat akan risiko bencana.
Pihak BPBD Kabupaten Buol bersama tim terkait terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Pendataan menyeluruh sedang dilakukan untuk memastikan semua warga terdampak mendapatkan bantuan yang diperlukan. Upaya ini juga mencakup penilaian kerusakan infrastruktur dan lingkungan akibat gelombang pasang yang menerjang.
Kondisi Terkini di Kabupaten Banggai Laut
Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Banggai Laut, di mana banjir rob melanda beberapa desa di dua kecamatan berbeda. Di Kecamatan Banggai, Desa Lambako dan Desa Pasir Putih menjadi lokasi terdampak. Laporan dari Desa Lambako menunjukkan delapan unit rumah warga mengalami kerusakan berat, mengakibatkan 39 jiwa terdampak. Seluruh warga dari delapan kepala keluarga ini juga memilih untuk mengungsi secara mandiri demi keamanan mereka.
Di Desa Pasir Putih, dua unit rumah warga terdampak, dengan total enam jiwa yang harus menghadapi genangan air. Selain itu, di Desa Kendek yang terletak di Kecamatan Banggai Utara, satu unit perahu milik warga dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kerusakan ini tentu menimbulkan kerugian materiil bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada sektor kelautan.
BPBD Kabupaten Banggai Laut terus berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk memastikan bantuan dapat disalurkan dengan cepat. Prioritas utama adalah memastikan tidak ada korban jiwa dan meminimalkan dampak lanjutan dari bencana ini. Tim di lapangan juga membantu warga yang membutuhkan evakuasi atau bantuan darurat lainnya.
Upaya Penanganan dan Kebutuhan Mendesak
Asbudianto menegaskan bahwa peristiwa banjir rob ini tidak menimbulkan korban jiwa, sebuah kabar baik di tengah situasi bencana. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD, bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, terus melakukan pemantauan intensif dan koordinasi untuk penanganan lebih lanjut. Fokus utama adalah memastikan keselamatan warga dan memulihkan kondisi pasca-bencana.
Dalam asesmen awal, BPBD telah mengidentifikasi beberapa kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi. Kebutuhan tersebut meliputi logistik penanggulangan bencana seperti makanan, air bersih, dan selimut untuk para pengungsi. Selain itu, pembangunan tanggul pengaman pantai menjadi prioritas jangka panjang untuk melindungi permukiman dari gelombang pasang di masa mendatang. Relokasi permukiman warga di wilayah pesisir yang rawan terdampak, khususnya di Desa Ngune, juga menjadi opsi yang dipertimbangkan untuk mengurangi risiko bencana berulang.
Meskipun air laut sudah mulai surut dan kondisi berangsur kondusif, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Potensi pasang susulan selalu ada, mengingat fenomena gelombang pasang seringkali terjadi berulang. BPBD akan terus memberikan informasi dan peringatan dini kepada masyarakat agar mereka dapat mengambil langkah antisipasi yang diperlukan. Kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi ancaman bencana alam seperti banjir rob.
Sumber: AntaraNews