YKAN dan Pemkab Berau Perkuat Edukasi Konservasi Penyu untuk Anak-anak
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Pemerintah Kabupaten Berau gencar lakukan edukasi konservasi penyu sejak dini. Anak-anak diajak memahami peran penting penyu dan ancaman terhadapnya, demi keberlanjutan ekosistem laut.
Edukasi lingkungan hidup tentang konservasi penyu terus digalakkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Pemerintah Kabupaten Berau. Tujuannya adalah untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya pelestarian penyu sejak usia dini kepada anak-anak di wilayah tersebut.
Direktur Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) YKAN, Imran Amin, menyatakan bahwa melalui edukasi ini, anak-anak diajak mengenal penyu sebagai satwa yang dilindungi negara. Mereka juga diajarkan pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan laut secara keseluruhan. Kegiatan ini dikemas dengan metode pembelajaran interaktif yang menarik.
Pada Ahad, 31 Mei 2026, puluhan anak di Kampung Balikukup, Kecamatan Batu Putih, Berau, mengikuti pendidikan lingkungan hidup bertema penyu. Program ini bukan hanya melibatkan Pemkab Berau dan Pemprov Kalimantan Timur, tetapi juga Pemerintah Kampung Balikukup, menunjukkan sinergi multipihak dalam upaya konservasi.
Menanamkan Kesadaran Sejak Dini
Edukasi konservasi penyu ini dirancang khusus untuk anak-anak agar pengetahuan tentang kelestarian penyu tertanam kuat. Anak-anak diajak memahami bahwa penyu adalah satwa dilindungi yang harus dijaga bersama. Metode interaktif seperti diskusi, kuis, dan mewarnai gambar digunakan untuk mempermudah pemahaman mereka.
Peserta diajarkan tentang peran vital penyu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Mereka juga diperkenalkan pada berbagai ancaman serius terhadap kelestarian penyu. Ancaman tersebut meliputi sampah plastik, kerusakan habitat pantai, pengambilan telur, dan praktik perburuan ilegal.
Selain itu, edukasi juga menjelaskan keterkaitan erat antara kesehatan terumbu karang, padang lamun, dan keberlangsungan hidup penyu. Pemahaman ini penting untuk membentuk perspektif holistik tentang ekosistem laut. Imran Amin menekankan bahwa edukasi ini sudah sering dilakukan di Berau sebagai bagian dari upaya berkelanjutan.
Kolaborasi Multisektoral untuk Konservasi
Upaya konservasi penyu di Berau melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari tingkat lokal hingga provinsi. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menjadi salah satu motor penggerak utama dalam inisiatif ini. Mereka bekerja sama erat dengan Pemerintah Kabupaten Berau dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mencapai tujuan konservasi.
Tidak hanya itu, Pemerintah Kampung Balikukup juga turut serta aktif dalam mendukung program edukasi ini. Keterlibatan masyarakat lokal, terutama di tingkat kampung, sangat krusial untuk keberhasilan jangka panjang. Pendekatan ini memastikan bahwa upaya konservasi mendapat dukungan luas dari komunitas.
Edukasi ini merupakan bagian integral dari Program Sustainable Ocean Management and Coral Reef Conservation (SOMACORE). Program ini bertujuan melestarikan penyu di perairan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K-KDPS). Termasuk di dalamnya adalah pendataan dan pemantauan penyu berbasis citizen science, yang mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengumpulan data.
Harapan Keberlanjutan Ekosistem Laut
Pendidikan lingkungan hidup memiliki peran penting dalam menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga penyu dan ekosistem pesisir. Penanaman kesadaran sejak usia dini diharapkan dapat membentuk generasi yang peduli lingkungan. Anak-anak diharapkan memahami peran mereka dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut di masa depan.
Salah seorang peserta, Nisa, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan edukasi tersebut. Ia memperoleh banyak pengetahuan baru sekaligus dapat bermain dengan teman-teman sebayanya. Pengalaman ini menunjukkan efektivitas metode pembelajaran interaktif yang diterapkan.
“Saya baru tahu kalau penyu bisa kembali ke pantai tempat dia menetas sebelumnya, kemudian balik lagi ke lokasi yang sama untuk bertelur. Saya juga jadi tahu kalau sampah plastik berbahaya bagi penyu. Saya bersama teman-teman ingin terus menjaga alam agar penyu tetap ada,” ujar Nisa. Pernyataan Nisa mencerminkan keberhasilan program dalam menumbuhkan pemahaman dan komitmen pada anak-anak.
Sumber: AntaraNews