Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan, aktif menggalang kerja sama lintas sektor guna memperkuat upaya perlindungan penyu. Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat lokal. Fokus utama kegiatan ini adalah konservasi penyu hijau di kawasan strategis Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau.
Langkah ini diambil mengingat pentingnya peran serta komunitas dalam menjaga kelestarian biota laut yang terancam punah. Partisipasi aktif masyarakat dinilai sebagai kunci keberhasilan jangka panjang program konservasi. Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran kolektif serta kepemilikan terhadap upaya pelestarian lingkungan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, menegaskan bahwa konservasi tidak bisa hanya mengandalkan regulasi semata. Pelibatan langsung warga pesisir diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap perlindungan sumber daya pesisir dan laut. Program ini juga mencakup pelatihan teknis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat setempat.
Advertisement
Advertisement
Peran Vital Masyarakat dalam Upaya Konservasi Penyu Hijau
Irhan Hukmaidy menekankan bahwa keterlibatan masyarakat adalah elemen krusial dalam keberhasilan Konservasi Penyu hijau. Tanpa partisipasi aktif dari warga, upaya pelestarian akan sulit mencapai tujuan jangka panjang yang diharapkan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis komunitas menjadi prioritas utama dalam strategi konservasi.
Kabupaten Berau memiliki peran strategis dalam konservasi global karena menjadi habitat peneluran penyu hijau terbesar di Asia Tenggara. Keunikan geografis ini menjadikan wilayah tersebut sangat penting untuk dijaga kelestariannya. Perlindungan ekosistem di Berau secara langsung berkontribusi pada populasi penyu hijau dunia.
Upaya Konservasi Penyu tidak dapat hanya bergantung pada kerangka peraturan yang ada. Ketika masyarakat terlibat langsung, memiliki kapasitas, dan merasakan kepemilikan, maka peluang keberhasilan perlindungan sumber daya pesisir dan laut akan jauh lebih besar. Hal ini mendorong pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Peningkatan Kapasitas Melalui Pelatihan Pemantauan Penyu
Untuk memperkuat keterlibatan masyarakat, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berkolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur dan Balai Pengelola Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak. Mereka menyelenggarakan pelatihan teknis pemantauan penyu di bawah program Somacore.
Program Somacore, singkatan dari Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle, dirancang khusus untuk komunitas di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP-3K) Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya. Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 3 hingga 7 Februari 2026.
Rizya Ardiwijaya, Spesialis Terumbu Karang YKAN, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan membangun kapasitas masyarakat melalui pendekatan sains warga. Sekitar 60 peserta, termasuk nelayan dan warga pesisir, menerima instruksi intensif. Materi yang diberikan meliputi biologi penyu, identifikasi spesies, siklus hidup, ancaman konservasi, pemantauan pantai peneluran, dan manajemen data.
Advertisement
Selain sesi di kelas, para peserta juga mengikuti praktik lapangan langsung. Kegiatan ini mencakup identifikasi jejak penyu, pencatatan sarang, serta simulasi pengumpulan dan pengorganisasian data menggunakan aplikasi berbasis Android. Ini memastikan peserta memiliki keterampilan praktis yang relevan.
Advertisement
Tantangan dan Perlindungan Habitat Peneluran Penyu
Hasil survei menunjukkan bahwa beberapa pantai di area pesisir dan pulau-pulau kecil Derawan berfungsi sebagai lokasi pendaratan dan peneluran penyu yang aktif sepanjang tahun. Aktivitas puncak peneluran penyu biasanya terjadi pada bulan Juni hingga Agustus.
Namun, aktivitas manusia di wilayah pesisir seringkali membuat lokasi-lokasi ini kurang cocok bagi penyu untuk mendarat dan bertelur dengan aman. Gangguan dari manusia dapat menghambat proses alami peneluran dan mengancam kelangsungan hidup spesies ini.
“Penyu sangat sensitif terhadap aktivitas manusia. Bahkan gangguan kecil dapat mencegah mereka bertelur, sehingga perlindungan pantai peneluran harus melibatkan masyarakat yang tinggal dan bekerja langsung di daerah tersebut,” ungkap Ardiwijaya. Pernyataan ini menekankan pentingnya peran komunitas sebagai garda terdepan Konservasi Penyu.
Advertisement
Program Somacore didukung oleh Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Konservasi Alam, Keselamatan Nuklir, dan Aksi Iklim (BMUKN) melalui International Climate Initiative (IKI). Program ini diimplementasikan oleh konsorsium yang terdiri dari 10 organisasi nasional, regional, dan internasional di enam negara Segitiga Terumbu Karang.
Sumber: AntaraNews