Banjir Rob Terjang Parigi Moutong, Belasan Warga Mengungsi Akibat Gelombang Tinggi

Banjir rob menerjang Desa Tingkulang, Parigi Moutong, pada Minggu malam, mengakibatkan belasan jiwa mengungsi dan dua rumah rusak berat. BPBD Sulteng terus memantau dampak **Banjir Rob Parigi Moutong**.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Banjir Rob Terjang Parigi Moutong, Belasan Warga Mengungsi Akibat Gelombang Tinggi
Banjir rob menerjang Desa Tingkulang, Parigi Moutong, pada Minggu malam, mengakibatkan belasan jiwa mengungsi dan dua rumah rusak berat. BPBD Sulteng terus memantau dampak **Banjir Rob Parigi Moutong**. (AntaraNews)

Banjir rob melanda Desa Tingkulang, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Minggu malam. Peristiwa ini menyebabkan 12 jiwa warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah melaporkan kejadian ini sebagai dampak dari air laut pasang.

Kejadian berlangsung sekitar pukul 18.00 WITA, ketika air laut pasang disertai gelombang tinggi menerjang wilayah pesisir. Kondisi ini mengakibatkan air meluap hingga ke jalan trans dan merendam sejumlah rumah warga yang berada di sekitar pesisir. Situasi ini memicu kekhawatiran akan dampak lebih lanjut.

Berdasarkan asesmen sementara, sebanyak 12 kepala keluarga atau sekitar 40 jiwa terdampak langsung oleh banjir rob tersebut. Selain itu, dua unit rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan berat. Dua kepala keluarga dengan total 12 jiwa telah dievakuasi dan mengungsi demi keselamatan.

Banjir rob di Desa Tingkulang bermula pada Minggu malam sekitar pukul 18.00 WITA. Fenomena alam ini terjadi akibat kombinasi air laut pasang yang sangat tinggi dan gelombang laut yang kuat. Kondisi cuaca ekstrem ini menyebabkan air laut meluap dengan cepat, merendam area pesisir dan infrastruktur di sekitarnya.

Luapan air laut yang masif tidak hanya menggenangi jalan trans yang vital, tetapi juga masuk ke dalam rumah-rumah warga. Beberapa area permukiman di pesisir Desa Tingkulang menjadi yang paling parah terdampak. Warga harus berjuang menyelamatkan barang-barang berharga mereka dari rendaman air.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulteng, Akris Fattah Yunus, menjelaskan, "Banjir rob terjadi sekitar pukul 18.00 WITA ketika air laut pasang disertai gelombang tinggi menyebabkan air meluap ke jalan trans dan merendam rumah warga di sekitar pesisir." Pernyataan ini menegaskan penyebab utama dari bencana **Banjir Rob Parigi Moutong**.

Dampak awal menunjukkan bahwa 12 kepala keluarga atau setara dengan 40 jiwa merasakan langsung akibat dari banjir ini. Selain itu, dua unit rumah milik warga tidak dapat dihuni lagi karena mengalami kerusakan yang cukup parah. Data ini menjadi fokus utama penanganan darurat BPBD.

Menanggapi bencana **Banjir Rob Parigi Moutong**, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah segera melakukan koordinasi intensif. Pihaknya bekerja sama dengan tim reaksi cepat (TRC) BPBD Kabupaten Parigi Moutong untuk melakukan asesmen di lapangan. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak dan merencanakan penanganan yang efektif bagi warga terdampak.

Sebanyak 12 jiwa telah mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk menghindari dampak lanjutan dari banjir rob. Di antara para pengungsi tersebut, terdapat satu bayi, satu balita, dan satu warga lanjut usia yang memerlukan perhatian khusus. Prioritas utama adalah memastikan keamanan dan kesehatan seluruh pengungsi.

Meskipun dampak yang signifikan, Akris Fattah Yunus memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, BPBD masih terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa air laut masih terus naik hingga Minggu malam, sehingga kewaspadaan tetap ditingkatkan.

Dalam situasi darurat ini, beberapa kebutuhan mendesak telah teridentifikasi untuk membantu warga terdampak **Banjir Rob Parigi Moutong**. Kebutuhan logistik seperti makanan, air bersih, dan selimut menjadi prioritas utama untuk para pengungsi. Selain itu, peralatan dapur umum juga sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang, BPBD menyoroti pentingnya pembangunan talud pantai. Struktur pelindung ini diharapkan dapat menahan gelombang tinggi dan luapan air laut, sehingga dapat melindungi permukiman warga di kawasan pesisir dari kerusakan lebih lanjut. Pembangunan talud menjadi solusi jangka panjang yang krusial.

Upaya mitigasi bencana di wilayah pesisir seperti Parigi Moutong menjadi sangat penting. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang risiko banjir rob dan langkah-langkah evakuasi darurat juga perlu terus digalakkan. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan dapat menciptakan ketahanan yang lebih baik terhadap bencana alam.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi