Banjir Sumatera Utara: Empat Daerah Terdampak, Ratusan Jiwa Mengungsi
Empat wilayah di Sumatera Utara dilanda banjir akibat curah hujan tinggi dan pasang air laut, menyebabkan ratusan jiwa mengungsi dan kerugian material.
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara melaporkan empat kabupaten/kota di daerah itu dilanda banjir pada Sabtu (18/4) dan Ahad (19/4). Wilayah yang terdampak meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Deliserdang, serta Kota Tanjungbalai.
Bencana ini dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi serta fenomena pasang air laut, yang mengakibatkan luapan sungai dan genangan di permukiman warga. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Sumatera Utara, mengindikasikan potensi hujan sedang hingga lebat pada periode tersebut.
Meskipun dampak di beberapa wilayah masih dalam pendataan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut memastikan tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka. Berbagai upaya koordinasi dan penanganan darurat terus dilakukan oleh pemangku kebijakan terkait di lokasi terdampak.
Hujan Deras Picu Banjir di Tapanuli dan Deli Serdang
Kabupaten Tapanuli Tengah mengalami banjir setelah Sungai Lopian meluap akibat hujan lebat sepanjang Sabtu (18/4). Situasi serupa terjadi di Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, yang juga dilanda banjir akibat curah hujan tinggi.
BMKG sebelumnya telah merilis peringatan dini cuaca untuk Sumatera Utara, mengindikasikan potensi hujan sedang hingga lebat pada 18 April 2026. Kondisi ini memperkuat penyebab terjadinya banjir di kedua kabupaten tersebut.
Di Kabupaten Deliserdang, banjir merendam 105 unit rumah yang dihuni sekitar 400 jiwa di Kecamatan Hamparan Perak. Sedikitnya 35 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman untuk menghindari dampak genangan air.
Pasang Air Laut Sebabkan Banjir Rob di Tanjungbalai
Kota Tanjungbalai menghadapi banjir yang disebabkan oleh fenomena pasang air laut yang meluas di beberapa titik. Wilayah pesisir Sumatera Utara memang berpotensi mengalami banjir rob hingga 21 April 2026.
BMKG menjelaskan bahwa fenomena Fase Bulan Baru pada 17 April 2026 dan Perigee pada 19 April 2026 berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum. Hal ini berkontribusi signifikan terhadap terjadinya banjir rob di kawasan pesisir.
Potensi gelombang tinggi di perairan Sumatera Utara juga diwaspadai antara 19-22 April 2026, yang dapat memperparah kondisi di wilayah pesisir. Kewaspadaan masyarakat pesisir menjadi sangat penting dalam menghadapi kondisi ini.
Penanganan dan Koordinasi Tanggap Bencana
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menyatakan bahwa laporan yang diterima merupakan data sementara. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, tidak ada laporan korban luka maupun meninggal dunia akibat bencana banjir ini.
Berbagai upaya penanganan atas bencana tersebut telah dilakukan oleh sejumlah pemangku kebijakan terkait di lokasi terdampak. BPBD Sumut juga aktif melakukan koordinasi dalam hal penanganan bencana di lokasi-lokasi yang terdampak.
Pendataan dampak banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Tapanuli Utara masih terus berlangsung. Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak masyarakat dan memastikan bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran.
Sumber: AntaraNews