10.575 Warga Terdampak Banjir Padang Pariaman, Satu Orang Hilang
Banjir Padang Pariaman telah berdampak pada 10.575 warga di 11 kecamatan, menyebabkan satu orang hilang dan ribuan dievakuasi. Peringatan cuaca ekstrem masih berlanjut.
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman melaporkan bahwa sebanyak 10.575 warga terdampak banjir yang melanda daerah tersebut. Bencana ini terjadi sejak Sabtu (22/11) hingga Kamis (27/11) pekan lalu, menyebabkan kerugian signifikan.
Banjir meluas ke 11 dari 17 kecamatan di Padang Pariaman, dengan Kecamatan Ulakan Tapakis menjadi wilayah terparah. Ribuan rumah terendam dan fasilitas umum mengalami kerusakan serius akibat luapan air.
Satu orang dilaporkan hilang terbawa arus saat jembatan Koto Buruak di Nagari Lubuk Alung ambruk pada Kamis pagi. Peristiwa ini menambah daftar panjang dampak serius dari bencana alam tersebut.
Dampak Luas Banjir dan Kerugian Material di Padang Pariaman
Banjir yang melanda Padang Pariaman telah menyebabkan dampak yang sangat luas bagi masyarakat setempat. Total 10.575 warga dari 3.450 rumah kini terdampak langsung oleh bencana ini. Sebanyak 2.968 korban harus dievakuasi ke tempat-tempat penampungan yang telah disiapkan pemerintah.
Kerugian material akibat banjir ini juga tidak sedikit. Tercatat enam unit fasilitas ibadah terendam, satu unit fasilitas pendidikan juga terendam, serta 17 unit rumah mengalami kerusakan. Selain itu, 13 unit rumah dilaporkan hanyut terbawa arus sungai.
Bukan hanya itu, tiga unit fasilitas pendidikan lainnya juga rusak parah akibat terjangan banjir. Lahan pertanian seperti ladang dan sawah milik petani juga mengalami kerusakan signifikan, mengancam mata pencarian warga di wilayah terdampak.
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman terus berupaya mendata seluruh kerugian dan dampak yang ditimbulkan oleh bencana ini. Upaya mitigasi dan bantuan darurat terus disalurkan kepada para korban yang membutuhkan.
Penyebab Banjir dan Respons Cepat Pemerintah Daerah
Banjir di Padang Pariaman ini diakibatkan oleh meluapnya sejumlah sungai utama di daerah tersebut. Sungai-sungai seperti Batang Anai, Batang Tapakih, dan Sungai Batang Ulakan tidak mampu menampung debit air yang tinggi. Tingginya curah hujan menjadi pemicu utama meluapnya sungai-sungai ini.
Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman segera mengambil langkah-langkah responsif. Dapur umum telah didirikan untuk memastikan kebutuhan pangan para korban terpenuhi. Selain itu, pelayanan kesehatan juga dibuka untuk merawat warga yang terdampak bencana.
Menurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Padang Pariaman, Zahirman, "Satu orang dinyatakan hilang hanyut terbawa banjir saat jembatan (Koto Buruak) di Nagari Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung ambruk (pagi tadi)". Pernyataan ini menunjukkan keseriusan dampak yang terjadi.
Pihak Pemkab juga mengimbau seluruh warga untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Hal ini mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di Padang Pariaman dan wilayah sekitarnya dalam beberapa waktu ke depan.
Peringatan Cuaca Ekstrem dan Kewaspadaan Berkelanjutan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap hujan lebat hingga ekstrem yang disertai angin kencang. Kondisi ini diperkirakan dapat terjadi hingga 29 November 2025 di sebagian besar wilayah Sumatera Barat.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan bahwa peringatan ini didasari oleh perkembangan dinamika atmosfer aktual. "Dengan melihat perkembangan dinamika atmosfer aktual, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem terutama hujan lebat hingga ekstrem yang dapat disertai angin kencang di sebagian besar wilayah Sumbar," ujarnya.
Adanya bibit siklon tropis 95B yang teridentifikasi sejak 21 November 2025 di wilayah Selat Malaka sebelah timur perairan Aceh menjadi salah satu faktor pemicu. Kondisi ini memicu pola pertemuan arus angin atau massa udara di Sumatera Barat.
Selain itu, Indeks Ocean Dipole (IOD) yang bernilai negatif juga turut berkontribusi. Faktor-faktor ini secara kolektif meningkatkan suplai uap air dan kelembapan, menyebabkan kondisi atmosfer menjadi labil. Warga diminta untuk terus memantau informasi cuaca resmi.
Sumber: AntaraNews