Banjir Bandang Tebing Tinggi Kalsel: 1.615 KK Terdampak, Ratusan Rumah Rusak
Banjir Bandang Tebing Tinggi Kalsel pada Sabtu (27/12) menyebabkan 1.615 kepala keluarga terdampak dan ratusan rumah rusak di delapan desa Kecamatan Tebing Tinggi, Balangan.
Banjir bandang melanda delapan desa di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, pada Sabtu (27/12) menyebabkan dampak signifikan bagi ribuan warga. Peristiwa ini mengakibatkan setidaknya 1.615 kepala keluarga (KK) terdampak dan 1.466 rumah terendam atau mengalami kerusakan. Data sementara ini dilaporkan oleh Polres Balangan jajaran Polda Kalimantan Selatan setelah melakukan peninjauan di lokasi kejadian.
Kapolres Balangan, AKBP Yulianor Abdi, menyatakan bahwa kerusakan rumah warga bervariasi mulai dari kategori sedang hingga berat. Petugas gabungan terus melakukan pendataan dan penanganan di area terdampak. Banjir ini tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga mengganggu sejumlah fasilitas umum penting di wilayah tersebut.
Delapan desa yang merasakan dampak terparah dari bencana alam ini meliputi Mayanau, Tebing Tinggi, Simpang Bumbuan, Simpang Nadong, Sungsum, Juuh, Gunung Batu, dan Langkap. Tim gabungan telah dikerahkan untuk membantu warga yang terdampak. Saat ini, kondisi banjir di seluruh desa yang disebutkan telah berangsur surut.
Dampak Kerusakan di Berbagai Desa Terdampak Banjir Bandang
Kerusakan akibat banjir bandang Tebing Tinggi Kalsel tersebar di delapan desa dengan tingkat keparahan yang berbeda. Di Desa Mayanau, sebanyak 171 rumah dan 171 KK terdampak, di mana tujuh rumah mengalami rusak berat dan 18 rusak sedang. Seluruh warga di desa tersebut merasakan dampak langsung dari bencana ini.
Desa Tebing Tinggi mencatat 277 rumah dan 298 KK terdampak, dengan lima rumah rusak berat dan 11 rusak sedang. Sementara itu, Desa Simpang Bumbuan memiliki 127 rumah dan 127 KK yang terkena dampak, di antaranya enam rumah rusak berat dan 19 rusak sedang. Data ini menunjukkan skala kerusakan yang luas di permukiman warga.
Di Desa Simpang Nadong, 110 rumah dan 128 KK terdampak, dengan enam rumah rusak berat dan 14 rusak sedang. Desa Sungsum menjadi salah satu yang paling parah dengan 205 rumah dan 280 KK terdampak, termasuk 15 rumah rusak berat dan 35 rusak sedang, meskipun sekitar 53 rumah tidak terdampak.
Desa Juuh melaporkan 180 rumah dan 215 KK terdampak, dengan empat rumah rusak berat dan tujuh rusak sedang. Sedangkan di Desa Gunung Batu dan Desa Langkap, masing-masing terdapat 198 rumah dan 198 KK terdampak, dengan tiga rumah rusak berat dan tujuh rusak sedang di setiap desa.
Kerusakan Fasilitas Umum dan Upaya Penanganan Banjir
Banjir bandang Tebing Tinggi Kalsel juga menyebabkan sejumlah fasilitas umum vital terendam dan rusak. Di Desa Mayanau, SDN Mayanau terendam air, mengganggu aktivitas pendidikan. Musala, Kantor Desa Tebing Tinggi, dan Kantor Kecamatan Tebing Tinggi juga turut terendam di Desa Tebing Tinggi.
Fasilitas ibadah seperti musala dan langgar di Desa Simpang Bumbuan tidak luput dari rendaman. Di Desa Simpang Nadong, Polsubsektor Tebing Tinggi, musala, dan puskesmas juga terdampak. Ini menunjukkan bahwa infrastruktur publik sangat rentan terhadap bencana banjir.
Masjid dan SDN Sungsum di Desa Sungsum, serta masjid dan SDN Juuh di Desa Juuh, juga dilaporkan terendam. Selain itu, masjid dan Kantor Desa Gunung Batu di Desa Gunung Batu dan Desa Langkap juga mengalami hal serupa. Kerusakan fasilitas umum ini memerlukan perhatian serius untuk pemulihan pascabanjir.
Kapolres Balangan AKBP Yulianor Abdi mengonfirmasi bahwa saat ini kondisi banjir bandang di delapan desa tersebut sudah surut. Petugas gabungan dari Polres Balangan dan instansi terkait sedang aktif membantu warga dalam proses pembersihan dan pemulihan pascabencana. Upaya penanganan terus dilakukan untuk meringankan beban masyarakat.
Sumber: AntaraNews