ITB Serahkan Program Air Bersih di Agam, Dukung Pemulihan Pascabencana Banjir Bandang
Institut Teknologi Bandung (ITB) menyerahkan program ITB Air Bersih Agam di Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, untuk mempercepat pemulihan pascabencana banjir bandang dan memastikan akses vital bagi masyarakat.
Institut Teknologi Bandung (ITB) telah menyerahkan program penyediaan air bersih di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Inisiatif ini bertujuan mendukung upaya pemulihan masyarakat pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.
Penyerahan program ini dilakukan pada Jumat (3/4) oleh Rektor ITB, Tata Cipta Dirgantara, di Lubuk Basung. Kolaborasi ini melibatkan ITB bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) dan Rumah Amal Salman.
Akses air bersih menjadi fundamental untuk kesehatan masyarakat dan mempercepat pemulihan aktivitas sosial serta ekonomi warga. Program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam penanganan pascabencana di wilayah terdampak.
Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Akses Air Bersih
Program penyediaan air bersih ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak yang berkomitmen. ITB berkolaborasi dengan IIDI dan Rumah Amal Salman dalam pembangunan infrastruktur vital ini. Dukungan juga datang dari Ikatan Alumni ITB (IA ITB) dan Paragon Corp.
Paragon Corp turut menyalurkan bantuan pangan berupa 200 paket bingkisan bagi warga terdampak bencana. Kolaborasi lintas lembaga semacam ini menjadi kunci utama. Hal ini terbukti efektif dalam percepatan pemulihan wilayah pascabencana.
Ketua Ikatan Istri Dokter Indonesia Usanti menjelaskan, pihaknya menggandeng Rumah Amal Salman untuk membangun kembali jaringan pipa air yang rusak akibat bencana. Pembangunan ini didanai dari donasi masyarakat yang dihimpun untuk korban bencana di Sumatera.
Rektor ITB, Tata Cipta Dirgantara, menekankan pentingnya langkah fundamental ini. "Penyediaan akses air bersih merupakan langkah fundamental dalam mendukung kesehatan masyarakat sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi warga," ujarnya.
Infrastruktur Air Bersih Modern untuk Warga Agam
Jaringan pipa berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) sepanjang 4,1 kilometer kini telah terpasang di Salareh Aia. Infrastruktur modern ini dirancang untuk menjangkau permukiman warga secara efektif. Pemasangan pipa ini menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan air bersih.
Sistem ini mampu melayani 281 keluarga, atau sekitar 1.000 jiwa penduduk setempat. Kapasitas distribusi air mencapai 35.000 liter per hari, memastikan pasokan yang memadai. Lebih dari 10 titik keran hidran juga dibangun untuk memudahkan akses air bersih bagi masyarakat.
Ketua Pengurus Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma, menambahkan bahwa program ini adalah bagian dari pemulihan berkelanjutan. "Program penyediaan air bersih ini merupakan hasil kolaborasi banyak pihak dalam upaya memulihkan martabat warga terdampak bencana di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam," katanya.
Sistem penyediaan air bersih tersebut juga menjangkau fasilitas layanan kesehatan setempat, termasuk Puskesmas Koto Alam yang kini terbantu dalam melayani sekitar 150 pasien.
Dampak Positif dan Keterlibatan Masyarakat Lokal
Pembangunan jaringan pipa ini tidak hanya menyediakan air bersih, tetapi juga melibatkan lebih dari 50 warga setempat. Keterlibatan aktif masyarakat lokal ini mempercepat proses pembangunan secara signifikan. Hal ini juga memberikan dampak ekonomi positif bagi warga.
Selain itu, partisipasi warga menumbuhkan rasa memiliki yang kuat terhadap infrastruktur yang dibangun. Program ini diharapkan menjadi fondasi awal bagi pemulihan kehidupan di Nagari Salareh Aia, sekaligus menjadi contoh kolaborasi berkelanjutan dalam penanganan pascabencana.
Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesra Sekretariat Daerah Agam, Yunilson, menyampaikan apresiasi pemerintah daerah. "Air bersih ini menjadi masalah bagi masyarakat kita, sehingga pelayanan Puskesmas Koto Alam sempat terhenti selama dua bulan dan semenjak terpasangnya instalasi maka pelayanan sudah jalan," ujarnya.
Yunilson mengakui bahwa permasalahan air di daerah bencana seperti Palembayan, Malalak, dan Tanjung Raya telah teratasi. Namun, masih ada beberapa instalasi yang perlu diperbaiki lebih lanjut. Ia berharap kolaborasi antara ITB dan IIDI dapat terus berlanjut.
- ITB telah memasang 63 instalasi pengolahan air bersih di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh sepanjang masa tanggap darurat.
- Jaringan pipa HDPE sepanjang 4,1 kilometer terpasang di Salareh Aia.
- Melayani 281 keluarga atau sekitar 1.000 jiwa.
- Kapasitas distribusi air mencapai 35.000 liter per hari.
- Lebih dari 10 titik keran hidran dibangun.
- Melibatkan lebih dari 50 warga setempat dalam pembangunan.
- Kerugian akibat bencana di Agam diperkirakan mencapai Rp7,9 triliun akibat kerusakan infrastruktur, rumah, dan lahan pertanian.
Sumber: AntaraNews