Data Terbaru: Rumah Terdampak Banjir Situbondo Bertambah Jadi 7.435 Unit
BPBD Situbondo melaporkan peningkatan signifikan jumlah rumah warga yang terdampak Banjir Situbondo pada Rabu (21/1) lalu, mencapai 7.435 unit setelah asesmen lanjutan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, melaporkan peningkatan jumlah rumah warga yang terdampak banjir bandang. Data terbaru mencatat 7.435 unit rumah terdampak, naik dari angka sebelumnya 6.328 unit. Banjir ini melanda enam kecamatan di wilayah tersebut pada Rabu (21/1) malam.
Peningkatan jumlah ini merupakan hasil asesmen berkelanjutan yang dilakukan oleh tim Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) dan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD di lapangan. Tim terus bekerja untuk memverifikasi dan memperbarui data dampak bencana pasca-banjir.
Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto, menegaskan bahwa upaya asesmen tidak hanya berfokus pada penanganan pasca-banjir tetapi juga pada pendataan menyeluruh. Hal ini dilakukan untuk memastikan semua area terdampak teridentifikasi dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Peningkatan Data Rumah Terdampak Banjir Situbondo
Jumlah rumah yang terdampak Banjir Situbondo terus mengalami pembaruan seiring dengan intensifikasi asesmen lapangan oleh BPBD Situbondo. Awalnya, BPBD mencatat 6.328 unit rumah terdampak, namun angka tersebut kini melonjak menjadi 7.435 unit. Kenaikan ini menunjukkan skala dampak bencana yang lebih luas dari perkiraan awal.
Timbul Surjanto menjelaskan bahwa tim Pusdalops dan TRC BPBD secara aktif menyisir lokasi-lokasi terdampak untuk mengumpulkan data akurat. Proses asesmen ini krusial untuk memastikan tidak ada rumah atau warga yang terlewat dari pendataan. Data yang akurat menjadi dasar bagi penyaluran bantuan dan upaya rehabilitasi.
Fokus utama asesmen adalah dampak luapan air sungai yang signifikan akibat hujan intensitas tinggi pada Rabu (21/1). Sungai-sungai yang meluap menyebabkan genangan parah di berbagai permukiman warga. Upaya pendataan ini akan terus dilakukan hingga seluruh dampak teridentifikasi.
Sebaran Dampak Terparah di Enam Kecamatan
Banjir Situbondo menyebabkan dampak terparah di beberapa kecamatan, dengan luapan air Sungai Lubawang menjadi salah satu penyebab utama. Kecamatan Banyuglugur menjadi salah satu wilayah dengan dampak signifikan, mencatat 1.271 unit rumah terdampak. Desa Kalianget menjadi yang paling parah di Banyuglugur dengan 1.065 rumah, diikuti Desa Lubawang 140 rumah, Desa Banyuglugur 65 rumah, dan Desa Tepos satu rumah.
Kecamatan Besuki mengalami dampak paling besar dengan 5.414 rumah terdampak akibat luapan air sungai. Di Besuki, Desa Pesisir mencatat 2.822 rumah terdampak, Desa Besuki 2.306 rumah, Desa Kalimas 238 rumah, Desa Demung 44 rumah, dan Desa Bloro empat rumah. Angka ini menunjukkan konsentrasi kerusakan yang tinggi di wilayah tersebut.
Selain itu, Banjir Situbondo juga memengaruhi kecamatan lain. Di Kecamatan Bungatan, 113 rumah warga di Desa Mlandingan Wetan tergenang. Kecamatan Mlandingan mencatat 402 unit rumah terdampak, tersebar di Desa Selomukti (305 rumah) dan Desa Mlandingan Kulon (97 rumah).
Dampak juga meluas ke Desa/Kecamatan Kendit dengan 227 rumah terdampak, serta Desa Curah Suri, Kecamatan Jatibanteng, yang mencatat delapan rumah terdampak. Sebaran dampak yang luas ini memerlukan koordinasi penanganan yang komprehensif dari berbagai pihak.
BPBD Terus Perbarui Data dan Lakukan Asesmen Menyeluruh
BPBD Situbondo berkomitmen untuk terus memperbarui data terkait dampak Banjir Situbondo secara berkala. Timbul Surjanto menyatakan bahwa pendataan tidak hanya terbatas pada rumah warga, tetapi juga akan mencakup fasilitas umum, lembaga pendidikan, dan sektor pertanian. Ini menunjukkan pendekatan holistik dalam penilaian kerusakan.
Infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan juga menjadi fokus asesmen lanjutan oleh tim BPBD. Kerusakan pada infrastruktur ini dapat menghambat akses dan mobilitas warga, sehingga pendataannya sangat penting untuk perencanaan perbaikan.
Proses asesmen yang berkelanjutan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai kerugian yang ditimbulkan oleh banjir. Data komprehensif akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk merencanakan langkah-langkah pemulihan dan mitigasi bencana di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews