Puluhan Rumah Warga Terendam, Banjir Situbondo Landa Bungatan Akibat Luapan Sungai
Banjir Situbondo kembali melanda Desa Bungatan, merendam puluhan rumah warga setelah hujan deras memicu luapan Sungai Curah Udang. Simak penyebab dan dampaknya di sini.
Situbondo, Jawa Timur, dilanda banjir pada Jumat malam (07/3) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dengan intensitas cukup tinggi. Peristiwa ini mengakibatkan puluhan rumah warga di Desa Bungatan terendam akibat luapan air sungai. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Camat Bungatan, Yogie Kripsian Sah, menjelaskan bahwa sekitar 50 rumah di Dusun Gunung Sari, Desa Bungatan, terdampak langsung oleh banjir. Ketinggian air mencapai 40-50 sentimeter, memaksa warga untuk bersiaga penuh menghadapi situasi tersebut. Banjir mulai terjadi sekitar pukul 20.00 WIB setelah hujan intensitas tinggi berlangsung berjam-jam.
Hujan deras yang memicu banjir Situbondo ini dilaporkan dimulai sejak pukul 13.00 WIB dan baru reda sepenuhnya sekitar pukul 21.30 WIB. Luapan air berasal dari Sungai Curah Udang yang tidak mampu menampung debit air yang masif. Akibatnya, air meluap dengan cepat, menyebabkan kerugian material bagi banyak keluarga yang terdampak.
Kronologi dan Dampak Banjir di Bungatan
Yogie Kripsian Sah menjelaskan bahwa luapan Sungai Curah Udang menjadi penyebab utama insiden banjir Situbondo kali ini. Sungai yang mengalir di sekitar permukiman warga tersebut meluap drastis dan langsung masuk ke dalam rumah. Tercatat, sekitar 50 rumah yang berlokasi di RT 07 RW 03, Dusun Gunung Sari, Desa Bungatan, terdampak langsung oleh genangan air.
Dampak banjir tidak hanya terbatas pada rumah-rumah penduduk. Kantor Kecamatan Bungatan juga turut terendam, mengingat lokasinya yang berdekatan dengan aliran sungai yang meluap. Ketinggian air yang mencapai 40 hingga 50 sentimeter menunjukkan bahwa skala dampak banjir cukup signifikan, mengganggu aktivitas warga dan pelayanan publik.
Insiden banjir Situbondo ini, menurut Yogie, bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut. Banjir serupa sudah menjadi "langganan" setiap memasuki musim hujan dalam dua tahun terakhir. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam di kalangan warga dan menuntut adanya solusi jangka panjang yang efektif dari pihak berwenang.
Penyebab Utama dan Upaya Mitigasi Banjir
Camat Bungatan menduga kuat bahwa pendangkalan Sungai Curah Udang merupakan faktor krusial yang berkontribusi pada banjir Situbondo. Kondisi sungai yang dangkal membuatnya tidak bisa berfungsi secara optimal dalam menampung volume air yang besar saat hujan deras. Akibatnya, air dengan mudah meluap ke permukiman warga, menyebabkan genangan yang meluas.
Selain masalah pendangkalan, jebolnya tangkis sungai juga memperparah kondisi luapan air. Tangkis sungai yang rusak atau tidak kuat menahan debit air membuat air lebih mudah keluar dari alur sungai dan membanjiri area sekitar. Kombinasi faktor ini menciptakan kondisi Desa Bungatan menjadi sangat rentan terhadap banjir musiman.
Untuk mencegah terulangnya banjir Situbondo di masa mendatang, Yogie Kripsian Sah sangat berharap adanya tindakan pengerukan sungai. Pengerukan diharapkan dapat mengembalikan kapasitas sungai untuk menampung air secara memadai, terutama saat intensitas hujan tinggi. Upaya mitigasi ini dianggap esensial untuk melindungi warga dari dampak buruk banjir yang terus berulang.
Pemerintah daerah diharapkan dapat segera merespons kondisi ini dengan melakukan kajian mendalam serta implementasi solusi konkret. Pengerukan rutin dan perbaikan infrastruktur tangkis sungai menjadi langkah awal yang krusial. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat juga penting dalam menjaga kebersihan serta kelancaran aliran sungai untuk mengurangi risiko banjir.
Sumber: AntaraNews