Pemprov Jatim Gerak Cepat: Perbaikan Irigasi Situbondo Pascabanjir Rampung Tiga Hari
Pemerintah Provinsi Jawa Timur sigap menangani dampak banjir di Situbondo dengan fokus pada perbaikan irigasi. Perbaikan Irigasi Situbondo ditargetkan selesai dalam tiga hari untuk mengembalikan suplai air ke lahan pertanian.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menunjukkan respons cepat dalam menangani dampak bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Situbondo. Fokus utama penanganan ini adalah perbaikan infrastruktur pengairan yang vital bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan masyarakat setempat. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, telah menginstruksikan jajarannya untuk segera bertindak.
Instruksi tersebut secara spesifik mengarahkan perbaikan saluran irigasi yang mengairi sawah di delapan desa di Kabupaten Situbondo. Banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/1) lalu telah merusak saluran irigasi sepanjang kurang lebih 15 meter, menyebabkan terputusnya suplai air ke lahan pertanian. Langkah cepat ini bertujuan untuk memulihkan kondisi pertanian.
Menurut Khofifah, proses perbaikan irigasi ini dipastikan akan selesai dalam waktu tiga hari, mulai dari 24 hingga 26 Januari 2026. Target penyelesaian cepat ini diharapkan dapat mengembalikan aliran air ke lahan pertanian secara normal dan memastikan aktivitas petani tidak terganggu. Ini merupakan upaya konkret Pemprov Jatim dalam mitigasi bencana.
Detail Pelaksanaan Perbaikan Irigasi Situbondo
Proses perbaikan saluran irigasi di Situbondo diperkirakan memakan waktu tiga hari, dimulai sejak 24 Januari hingga 26 Januari 2026. Perbaikan ini krusial untuk memulihkan suplai air ke lahan pertanian seluas 1.336 hektare. Area terdampak tersebar di delapan desa, meliputi Desa Gunung Putri, Selomukti, Trebungan, Sumberpinang, Mlandingan, Selowogo, Bungatan, dan Pasir Putih.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov Jatim mengerahkan 31 personel terlatih untuk memastikan pekerjaan berjalan lancar dan efisien. Dukungan peralatan berat juga disediakan, termasuk 1 unit ekskavator standar, 2 unit self loader, dan 1 unit truck crane. Ketersediaan alat ini mempercepat proses perbaikan infrastruktur.
Material yang digunakan untuk perbaikan meliputi 2 unit dump truck, 12 lonjor pipa berdiameter 20 inci, serta 400 lembar sandbag. Pipa-pipa ini penting untuk menyambung kembali saluran yang rusak, sementara sandbag digunakan untuk memperkuat struktur sementara. Langkah ini juga bertujuan mencegah kerusakan lanjutan akibat aliran air.
Sebagai penanganan darurat awal, Pemprov Jatim sebelumnya telah melakukan pemasangan pipa sepanjang enam meter dengan diameter 20 inci sebanyak 12 buah. Pemasangan ini memungkinkan fungsi saluran irigasi dapat kembali berjalan sementara. Hal ini menunjukkan kesigapan dalam memberikan solusi cepat sebelum perbaikan permanen.
Mitigasi Jangka Panjang dan Normalisasi Sungai Lubawang
Selain fokus pada perbaikan irigasi, Gubernur Khofifah juga menginstruksikan tim teknis untuk melakukan penanganan lanjutan berupa normalisasi Sungai Lubawang. Normalisasi ini merupakan upaya mitigasi penting guna mengurangi risiko terjadinya banjir susulan di wilayah Situbondo. Ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam penanganan pascabencana.
Normalisasi Sungai Lubawang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sungai agar mampu menampung volume air yang lebih besar. Dengan kapasitas yang meningkat, potensi banjir di masa depan diharapkan dapat ditekan secara signifikan. Langkah ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama pemerintah daerah.
Khofifah menegaskan bahwa upaya ini adalah bagian dari komitmen Pemprov Jatim untuk melindungi masyarakat dan menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Dengan meminimalkan risiko banjir, stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat, khususnya para petani, dapat lebih terjamin. Ini adalah investasi jangka panjang untuk ketahanan wilayah.
Sumber: AntaraNews