BWS Sumatera I Percepat Pemulihan Irigasi Aceh Utara Pasca-Banjir
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat memulihkan Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye-Langkahan di Aceh Utara yang rusak parah akibat banjir bandang, demi mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Banda Aceh – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I tengah gencar mempercepat pemulihan Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye-Langkahan di Kabupaten Aceh Utara. Upaya ini dilakukan pasca-banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025, menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur irigasi. Percepatan pemulihan ini krusial untuk mengembalikan fungsi vital irigasi bagi sektor pertanian lokal.
Kepala BWS Sumatera I, Asyari, menegaskan komitmen pihaknya untuk bergerak cepat dalam penanganan darurat selama masa bencana. Langkah tanggap ini bertujuan agar operasional daerah irigasi yang sempat terhenti dapat segera berfungsi kembali. Pemulihan ini diharapkan dapat meringankan beban petani dan mendukung keberlanjutan aktivitas pertanian di Aceh Utara.
DI Jambo Aye-Langkahan, yang memiliki luas layanan mencapai 19.473 hektare, sangat bergantung pada pasokan air dari Sungai Arakundo. Kerusakan akibat banjir bandang mencakup bangunan utama, jaringan irigasi, serta berbagai sarana dan prasarana pendukung lainnya. Kondisi ini menyebabkan terhentinya aliran air ke areal persawahan masyarakat, sehingga memerlukan intervensi cepat dan terkoordinasi.
Kerusakan dan Langkah Penanganan Awal
Banjir bandang akhir November 2025 telah menimbulkan kerusakan parah pada Daerah Irigasi Jambo Aye-Langkahan. Bangunan utama dan jaringan irigasi, yang merupakan tulang punggung pertanian di Aceh Utara, tidak dapat beroperasi. Selain itu, sarana dan prasarana pendukung lainnya juga mengalami kerusakan serius, mengganggu distribusi air ke lahan pertanian.
Sebagai respons cepat, BWS Sumatera I segera melakukan penanganan darurat dengan fokus pada pembersihan bangunan bendung dan saluran irigasi. Tujuannya adalah untuk memulihkan kembali fungsi daerah irigasi agar air dapat mengalir ke areal persawahan. Sebanyak sembilan unit alat berat dikerahkan untuk memastikan kelancaran proses pemulihan jaringan irigasi ini.
Proses pemulihan dilakukan secara bertahap, dan uji coba pengaliran air pasca-bencana telah berhasil dilaksanakan pada Sabtu, 31 Januari 2026. Pada tahap awal ini, pengaliran air difokuskan melalui saluran primer BJA 0 hingga BJA 5, yang mencakup jarak kurang lebih 15 kilometer. Ini merupakan langkah progresif menuju pengaktifan kembali seluruh sistem irigasi.
Target Pemulihan Bertahap untuk Sub-DI
BWS Sumatera I menargetkan sejumlah ruas irigasi dapat segera difungsikan kembali secara bertahap hingga ke sub-DI. Daerah Irigasi Jambo Aye-Langkahan sendiri memiliki sekunder pada empat layanan sub-daerah irigasi di kawasan setempat. Sub-DI tersebut meliputi Mon Sukon, Panton Labu, Arakundo, hingga Lhoksukon.
Target operasional kembali untuk Sub-DI Panton Labu, yang melayani sekitar 2.700 hektare lahan, ditetapkan pada akhir Februari 2026. Sementara itu, beberapa ruas lainnya seperti Sub-DI Lhoksukon seluas 1.381 hektare, Sub-DI Mon Sukon seluas 590 hektare, dan Sub-DI Arakundo seluas 2.375 hektare, ditargetkan beroperasi kembali pada akhir Maret 2026.
Dengan target pemulihan bertahap ini, total luas areal irigasi yang diperkirakan dapat kembali berfungsi hingga akhir Maret 2026 mencapai 7.046 hektare. Rencana yang terukur ini menunjukkan komitmen BWS Sumatera I dalam mengembalikan produktivitas pertanian di wilayah terdampak.
Dukungan untuk Ketahanan Pangan Masyarakat
Asyari berharap, upaya percepatan pemulihan ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat, khususnya para petani. Setelah sebelumnya aktivitas pertanian mereka terhenti akibat banjir bandang, pemulihan irigasi ini diharapkan dapat memungkinkan mereka untuk kembali menggarap lahan.
Keberhasilan pemulihan irigasi ini tidak hanya akan mendukung keberlanjutan aktivitas pertanian masyarakat. Lebih dari itu, langkah ini juga sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan di wilayah Aceh Utara pasca-bencana. Ketersediaan air yang memadai untuk pertanian adalah kunci untuk memastikan pasokan pangan yang stabil.
Sumber: AntaraNews