Satgas PRR Gencarkan Rehabilitasi Lahan Pertanian Pascabencana di Sumatera
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera terus menggenjot rehabilitasi lahan pertanian di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, demi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera tengah fokus merehabilitasi ribuan hektare area pertanian yang sebelumnya terdampak bencana banjir di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Upaya ini menjadi prioritas utama pemerintah untuk memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan di daerah yang terkena dampak.
Juru Bicara Satgas PRR, Amran, menyatakan bahwa pemulihan lahan pertanian sawah sangat krusial. Langkah ini tidak hanya bertujuan agar lahan kembali produktif, tetapi juga menjadi bagian integral dari percepatan pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana, khususnya bagi ribuan keluarga petani yang bergantung pada sektor pertanian.
Pemerintah juga telah menyalurkan berbagai bantuan dan transfer dana ke daerah di tiga provinsi terdampak untuk mendukung proses rehabilitasi ini. Dukungan ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan memastikan masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal.
Progres Rehabilitasi Lahan Pertanian Pascabencana
Berdasarkan data terbaru dari Satgas PRR per 7 Mei 2026, seluas 16.670 hektare lahan pertanian telah memasuki tahap konstruksi pemulihan. Dari jumlah tersebut, 4.098 hektare di antaranya telah berhasil direhabilitasi sepenuhnya.
Lebih lanjut, sebanyak 2.212 hektare lahan telah kembali diolah dan 2.110 hektare sudah mulai ditanami kembali oleh para petani. Progres ini menunjukkan komitmen serius dalam mengembalikan fungsi lahan pertanian.
Luas lahan yang telah masuk tahap konstruksi pemulihan ini mencakup hampir setengah dari total target pemulihan sawah yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Kementan menargetkan pemulihan seluas 42.702 hektare dengan dukungan anggaran sebesar Rp337,97 miliar.
Percepatan Pemulihan di Berbagai Wilayah
Progres paling signifikan terlihat di Sumatera Barat, di mana 3.809 hektare atau 98 persen dari target rehabilitasi 3.902 hektare telah masuk tahap konstruksi. Sebanyak 2.583 hektare di antaranya bahkan sudah selesai direhabilitasi.
Di Sumatera Barat, target rehabilitasi juga berhasil dicapai dengan 2.100 hektare lahan yang telah ditanami kembali. Hal ini menunjukkan efektivitas program di wilayah tersebut.
Sementara itu, di Sumatera Utara, rehabilitasi sawah seluas 5.201 hektare telah memasuki tahap konstruksi. Di Aceh, proses pemulihan terus dipercepat mengingat luas lahan terdampak yang mencapai 31.464 hektare, menjadi yang terbesar dibandingkan dua provinsi lainnya.
Beberapa wilayah di Aceh, seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya, kini mulai menunjukkan kemajuan dalam rehabilitasi. Pekerjaan meliputi pengerjaan saluran, pembentukan kembali petak sawah, hingga pengolahan lahan.
Dampak Positif dan Target Ketahanan Pangan
Percepatan rehabilitasi lahan pertanian ini memiliki dampak positif yang luas, terutama bagi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan petani. Dengan pulihnya lahan, produksi pertanian diharapkan dapat kembali normal, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
Selain itu, pemulihan lahan pertanian juga secara langsung meningkatkan pendapatan ribuan keluarga petani yang mata pencahariannya sempat terganggu akibat bencana. Ini adalah langkah penting dalam membangun kembali ekonomi lokal yang tangguh.
Satgas PRR terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, untuk memastikan bahwa setiap tahap rehabilitasi berjalan lancar dan sesuai target. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pertanian yang lebih resilient di masa depan.
Sumber: AntaraNews