Gerak Cepat Pemkab Situbondo Tangani Banjir Bandang, Ribuan Rumah Terdampak dan Jalur Pantura Lumpuh Sementara

Pemerintah Kabupaten Situbondo bergerak cepat menanggulangi dampak banjir bandang yang melanda lima kecamatan, menyebabkan ribuan rumah rusak dan jalur pantura sempat lumpuh, serta menelan korban jiwa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gerak Cepat Pemkab Situbondo Tangani Banjir Bandang, Ribuan Rumah Terdampak dan Jalur Pantura Lumpuh Sementara
Pemerintah Kabupaten Situbondo bergerak cepat menanggulangi dampak banjir bandang yang melanda lima kecamatan, menyebabkan ribuan rumah rusak dan jalur pantura sempat lumpuh, serta menelan korban jiwa. (AntaraNews)

Banjir bandang menerjang Kabupaten Situbondo pada Rabu, 21 Januari 2026, menyebabkan kerusakan parah di lima kecamatan. Ribuan rumah warga terdampak, bahkan ada yang roboh, serta menelan korban jiwa akibat musibah ini. Peristiwa ini memicu respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Situbondo untuk segera memberikan bantuan dan penanganan.

Salah satu korban, Halid Firdausi (40) dari Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, menceritakan bagaimana rumah semi permanennya jebol dan dagangannya ludes terbawa arus. Material banjir seperti lumpur, kayu, dan sampah memenuhi rumahnya setelah luapan Sungai Lubawang menghempas permukiman. Kesedihan mendalam dirasakan banyak warga yang kehilangan harta benda dan mata pencarian.

Menanggapi bencana ini, Pemerintah Kabupaten Situbondo bersama TNI, Polri, BPBD, dan Tagana segera turun tangan. Mereka bergotong royong membersihkan material banjir dan mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban. Upaya ini menunjukkan kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi situasi darurat.

Banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/1) malam, sekitar pukul 18.15 WIB, membawa dampak signifikan bagi warga Situbondo. Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, menjadi salah satu wilayah terparah dengan 440 unit rumah mengalami kerusakan berat. Tidak hanya itu, Desa Kalianget di kecamatan yang sama juga mencatat 246 rumah terdampak.

Kecamatan Besuki juga tidak luput dari amukan banjir, dengan total 5.425 rumah terendam. Sebaran kerusakan meliputi Desa Pesisir dengan 2.882 rumah, Desa Kalimas 193 rumah, Desa Demung 44 rumah, dan Desa Besuki 2.306 rumah. Tragedi ini bahkan menelan korban jiwa, Abdul Wahed (45) dan anaknya, Adinda Putri Rahayu, yang tersengat listrik saat banjir.

Luapan sungai akibat intensitas hujan tinggi juga menggenangi 113 rumah di Desa Mlandingan Wetan, Kecamatan Bungatan, serta 169 rumah di Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan. Selain itu, 154 rumah di Desa/Kecamatan Kendit juga turut terdampak. Kondisi ini menunjukkan skala bencana yang luas dan mendalam di berbagai titik.

Jalur pantura Dusun Kembangsambi, Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, juga sempat lumpuh total. Banjir membawa material batu, pasir, dan lumpur yang menutup akses vital penghubung Pulau Jawa dan Bali selama kurang lebih sembilan jam. Hal ini mengganggu mobilitas dan distribusi barang di wilayah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Situbondo menunjukkan gerak cepat dalam penanganan dampak banjir bandang ini. Melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait seperti Dinas PUPP dan BPBD, langkah mitigasi penyebab banjir serta penanganan dampak langsung segera dilakukan. Tenaga kesehatan dari dinas kesehatan dan puskesmas juga diterjunkan untuk menangani kesehatan masyarakat terdampak.

Sebagai respons cepat, dapur umum didirikan di Kantor Kecamatan Besuki oleh BPBD bersama tim tanggap bencana (Tagana) setempat. Dapur umum ini menyuplai makanan siap santap bagi ribuan warga yang terdampak banjir bandang. Inisiatif ini penting untuk memastikan kebutuhan pangan dasar korban terpenuhi di tengah situasi darurat.

Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah menegaskan bahwa pendirian dapur umum ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat dalam penanggulangan bencana. Selain menyediakan makanan, dapur umum juga berfungsi sebagai pusat distribusi bantuan lainnya. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melindungi warganya.

Musibah ini juga membangkitkan semangat gotong royong dan solidaritas dari masyarakat "Kota Santri" Situbondo. Berbagai inisiatif penggalangan donasi, termasuk melalui grup WhatsApp "Forum Diskusi Situbondo (FDS)", muncul untuk membantu para korban. Ini mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa untuk saling tolong-menolong dalam menghadapi musibah.

Pemulihan akses jalur pantura menjadi prioritas utama pasca-banjir. Dengan menggunakan alat berat, material batu dan pasir yang menutupi badan jalan berhasil dibersihkan, memungkinkan jalur penghubung Jawa dan Bali kembali normal dan dapat dilalui kendaraan. Proses pembersihan ini melibatkan kolaborasi antara Polisi, TNI, BPBD, Tagana, serta pemerintah desa dan kecamatan.

Selain penanganan darurat, Pemerintah Kabupaten Situbondo juga fokus pada mitigasi penyebab banjir untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Pengelolaan sungai dan drainase kemungkinan akan menjadi fokus utama untuk mengurangi risiko bencana. Langkah ini menunjukkan pendekatan proaktif pemerintah dalam jangka panjang.

Gerak cepat pemerintah daerah bersama TNI dan Polri dalam penanganan bencana ini menegaskan kehadiran negara di tengah masyarakat. Kolaborasi antarinstansi dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi dan memulihkan diri dari dampak bencana alam.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi