Banjir Situbondo Meluas, Dua Warga Dilaporkan Hilang Terseret Arus Deras
Banjir Situbondo akibat luapan sungai menerjang ribuan rumah dan menyebabkan dua warga dilaporkan hilang, mendorong pemerintah daerah meningkatkan status tanggap darurat.
Banjir luapan sungai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menyebabkan kerusakan parah dan hilangnya dua warga pada Sabtu (7/3). Bencana alam ini menerjang ribuan rumah penduduk dan memaksa pemerintah daerah meningkatkan status tanggap darurat untuk penanganan pascabencana. Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, mengonfirmasi laporan hilangnya dua individu yang diduga terseret arus deras banjir.
Dua orang yang dilaporkan hilang dan diduga terseret arus banjir pada Sabtu (7/3) itu adalah Tohari alias Pak Has (40) warga Desa Patemon, dan Jaelani warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Jatibanteng. Keduanya diduga terseret arus banjir saat beraktivitas di sekitar sungai yang meluap pada hari kejadian. Pihak keluarga dan warga setempat telah melakukan pencarian intensif sejak kemarin petang.
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyampaikan informasi ini saat meninjau langsung lokasi terdampak banjir bandang di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, pada Minggu (8/3). Menurutnya, banjir kali ini lebih parah dibandingkan kejadian sebelumnya, dengan dampak kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Pencarian Dua Warga Hilang Akibat Banjir Situbondo
Dua warga Situbondo, Tohari alias Pak Has dan Jaelani, masih dalam pencarian setelah dilaporkan hilang terseret arus banjir pada Sabtu (7/3). Keluarga Tohari alias Pak Has mengabarkan bahwa ia sedang mencari rumput di sekitar sungai yang meluap dan menyebabkan banjir bandang. Upaya pencarian telah dilakukan oleh keluarga dan warga sejak kemarin petang, namun sampai hari ini belum juga ditemukan.
Sementara itu, Jaelani dinyatakan hilang setelah selesai panen jagung di kawasan sungai di desanya. Diduga kuat, Jaelani terbawa arus sungai saat melintas di Dam Goa dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Kapolsek Besuki, Iptu Agus Nurahmadi, membenarkan laporan hilangnya kedua warga tersebut berdasarkan keterangan dari pihak keluarga.
Tim SAR gabungan, termasuk kepolisian dan BPBD Situbondo, terus berkoordinasi untuk memperluas area pencarian. Kondisi medan yang sulit dan arus sungai yang masih deras menjadi tantangan utama dalam operasi pencarian ini. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan jika menemukan informasi terkait keberadaan kedua korban.
Dampak Kerusakan dan Status Tanggap Darurat Banjir Situbondo
Banjir bandang di Situbondo kali ini dinilai cukup parah, mengakibatkan rumah-rumah terdampak rusak termasuk infrastruktur. Bupati Rio Wahyu Prayogo menjelaskan bahwa banyak tembok pagar roboh dan pohon-pohon tumbang, karena hujan deras disertai angin kencang pada Sabtu malam.
Pemerintah daerah setempat telah mengambil langkah cepat dengan meningkatkan status tanggap darurat untuk penanganan pascabencana. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses evakuasi, penyaluran bantuan, dan perbaikan infrastruktur yang rusak. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan memulihkan kondisi di wilayah terdampak.
Kerusakan infrastruktur yang signifikan memerlukan upaya rehabilitasi yang komprehensif. Pihak berwenang sedang melakukan pendataan menyeluruh untuk menghitung kerugian dan merencanakan langkah-langkah pemulihan jangka panjang. Koordinasi antar instansi terus diperkuat guna memastikan penanganan bencana berjalan efektif.
Luapan Sungai dan Sebaran Banjir di Situbondo
Banjir luapan Sungai Lubawang menjadi penyebab utama bencana yang menerjang Desa Kalianget dan sekitarnya, dengan skala yang lebih besar dibandingkan banjir 21 Januari lalu. Luapan air sungai ini terjadi di enam kecamatan berbeda di Situbondo, menunjukkan skala bencana yang cukup luas. Data dari BPBD Situbondo menyebutkan wilayah-wilayah yang terdampak secara signifikan.
Di Kecamatan Banyuglugur, dua desa terdampak yakni Desa Kalianget dan Desa Banyuglugur. Kecamatan Besuki mencatat lima desa terdampak, meliputi Desa Kalianget, Besuki, Kalimas, Bloro, dan Pesisir. Sementara itu, Kecamatan Jatibanteng memiliki dua desa terdampak, yaitu Jatibanteng dan Wringin Anom.
Kecamatan Mlandingan juga melaporkan dua desa terdampak, yakni Selomukti dan Sumberpinang. Satu desa di Kecamatan Bungatan, yaitu Desa Bungatan, serta dua desa di Kecamatan Kendit, yakni Klatakan dan Kendit, turut merasakan dampak luapan air sungai. Kondisi ini menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari seluruh pihak terkait.
Sumber: AntaraNews